Gerakan Subuh Mengaji ‘Aisyiyah Jabar Dorong Keadilan Iklim

Must Read

BANDUNG, JAKARTAMU.COM | Gerakan Subuh Mengaji (GSM) ‘Aisyiyah Jawa Barat mengangkat isu keadilan iklim sebagai persoalan kehidupan perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan. Melalui tema Memperkuat Inisiatif Pemimpin Pemuda Lintas Agama melalui Ekofeminisme, kegiatan ini mendorong perempuan dan pemuda untuk terlibat aktif merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan keagamaan.

Acara yang diikuti 68 peserta ini menghadirkan Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah, dipandu Andi Malaka dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat.

Farah yang juga Wakil Sekretaris Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menjelaskan, krisis lingkungan berkelindan dengan keadilan sosial. Dampaknya lebih dulu dirasakan kelompok dengan akses terbatas terhadap sumber daya, seperti perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan lansia.

Ajaran Islam, lanjut dia, sejak awal telah menempatkan alam sebagai amanah dan memuliakan perempuan dalam peran sosialnya. “Ekofeminisme melihat perempuan bukan hanya sebagai pihak yang terdampak, tetapi juga sebagai penggerak perubahan, terutama di tingkat keluarga dan komunitas,” kata Farah.

Milad 117 H Muhammadiyah
Foto/istimewa

Farah juga menyinggung pentingnya kerja lintas agama dalam isu lingkungan. Menurut dia, kolaborasi semacam ini tidak berkaitan dengan pengaburan akidah, melainkan berbagi kepedulian atas persoalan kemanusiaan yang sama.

“Merawat bumi adalah kepentingan bersama. Kerja lintas iman justru mempertemukan nilai-nilai kebajikan yang sejalan,” ujarnya.

Ia merujuk QS Al-Maidah ayat 2 tentang perintah tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, serta QS Al-Hujurat ayat 13 yang menegaskan kesetaraan manusia dan kemuliaan berdasarkan ketakwaan. Ayat-ayat tersebut, kata Farah, menjadi dasar etis bagi kolaborasi lintas agama dalam merespons krisis iklim.

Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah melibatkan pemuda lintas agama melalui pendidikan lingkungan (eco-literacy), penguatan ekonomi berbasis kepedulian lingkungan (eco-sociopreneurship), serta advokasi dan kampanye keadilan iklim. Bagi ‘Aisyiyah, gagasan ekofeminisme diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari yang dimulai dari rumah dan lingkungan terdekat.

Farah mencontohkan program Pasarku Tempat Ibadahku serta panduan Green Ramadan dan Idulfitri yang mendorong ibu-ibu menerapkan pola konsumsi ramah lingkungan, termasuk dalam perayaan hari besar keagamaan. Ia juga mengajak peserta mendokumentasikan praktik baik tersebut melalui tulisan dan foto untuk disebarluaskan di Majalah Suara ‘Aisyiyah.

Anggota Pimpinan LLHPB PWA Jawa Barat, Amalia Nur Milla, menilai keberlanjutan hidup generasi mendatang sangat ditentukan oleh pilihan dan inisiatif perempuan hari ini.

“‘Aisyiyah Jawa Barat sudah memiliki buku panduan Islamic Green School dan kumpulan kultum tentang lingkungan. Ini bisa menjadi pegangan sekaligus sumber inspirasi agar gerakan peduli lingkungan semakin meluas,” ujar Amalia.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas majelis dan lembaga, termasuk di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, perlu diperkuat agar aksi lingkungan seperti pengelolaan sampah juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This