JAKARTAMU.COM | Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta melalui Lembaga Seni dan Budaya (LSB) kembali menghadirkan pementasan teater. Kali ini tokoh yang diangkat dalam drama kolosal ini adalah “Jenderal Soedirman” di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025). Disutradarai Prof. Imam S. Bumiayu, lakon Soedirman merupakan sebuah karya panggung yang menggugah semangat kebangsaan dan menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan.
Pementasan ini mengangkat kisah heroik Panglima Besar Jenderal Soedirman yang memimpin perang gerilya selama tujuh bulan melawan agresi militer Belanda, meski dalam kondisi sakit paru-paru yang parah. Pementasan ini merupakan produksi ke 5 dari LSB PWM DKI Jakarta.

Menariknya, pementasan melibatkan sekitar 200 personel dan digelar dalam dua sesi, yakni pukul 12.30 dan 19.30 WIB. Dan, kejutannya adalah tokoh Soedirman diperankan Ketua PWM DKI Jakarta, Dr. H. Akhmad H. Abubakar, MM, yang tampil penuh penghayatan dan wibawa.
Baca juga: Sang Surya di Atas Lautan, Lakon Djuanda Meriahkan Milad Ke-112 Muhammadiyah

Selain Abubakar, tokoh Muhammadiyah lain yang tampil sebagai pemain di antaranya Prof. Bunyamin, Dr. H. Edi Sukardi, M.Pd., Dr. Tadjuddin Nur, Dr. Anita Damayanti, Dr. Nurlina Rahman, Imam Ma’arif, D’ Baskom, Dr. Rusjdy S. Arifin, M.Sc, Ir. Syukri Kardjono. Kehadiran Harry Defrettes, bintang Lenong Rumpi, ikut menambah bobot pertunjukan yang dipadati penonton tersebut.
“Pementasan ini adalah pengingat bahwa kemerdekaan kita lahir dari pengorbanan yang tak terukur,” ujar Prof. Imam S. Bumiayu, selaku penulis naskah dan sutradara. “Kami ingin generasi muda melihat Soedirman bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai teladan hidup yang relevan hingga hari ini.”

Pementasan ini menjadi bagian dari upaya LSB PWM DKI Jakarta untuk memperkuat literasi sejarah melalui medium seni. Dengan mengangkat tokoh Muhammadiyah yang berperan penting dalam perjuangan bangsa, penyelenggara berharap karya ini menjadi awal dari rangkaian pementasan serupa yang mengangkat kisah-kisah inspiratif lainnya.
Selain menampilkan sisi heroik dan kepemimpinan Soedirman, pementasan ini juga menyisipkan pesan moral tentang pentingnya disiplin, pengorbanan, dan cinta tanah air. Melalui alur yang menyentuh dan visual yang kuat, penonton diajak merenungi makna perjuangan dalam konteks kekinian.
PWM DKI Jakarta berharap pementasan ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan. “Kami ingin anak-anak muda Muhammadiyah dan masyarakat luas merasa bangga, terinspirasi, dan terdorong untuk berkontribusi bagi bangsa,” tambah Prof. Agus Suradika selaku penanggung jawab produksi.


