MALAKA, JAKARTAMU.COM| Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah menyelesaikan rangkaian Focus Group Discussion (FGD) di enam Satuan Pemukiman (SP) kawasan transmigrasi Kobalima Timur, Kabupaten Malaka. Selama dua minggu, tim memetakan kondisi sosial-ekonomi serta mengidentifikasi potensi dan tantangan masyarakat transmigran di wilayah perbatasan dengan Timor Leste.
Tim terdiri atas Prof. Semin, Ph.D; Dr. Budi Setiono; dan Dr. Eng. M. Badrus Zaman. Mereka membawa misi untuk memahami kondisi lapangan secara faktual dan merumuskan rekomendasi pengembangan berbasis potensi lokal.
“Hasil FGD ini sangat penting bagi kami untuk memahami kondisi lapangan secara riil. Tidak hanya potensi alam, tetapi juga masalah-masalah yang sehari-hari dihadapi warga transmigran,” kata Prof. Semin.
Temuan paling penting adalah kondisi infrastruktur dasar yang memprihatinkan. Di SP Harekakae, banyak rumah transmigrasi yang dibangun pada 1999–2000 kini nyaris roboh karena belum pernah direnovasi, meski lokasi SP hanya sekitar 10 kilometer dari ibu kota kabupaten.

“Rumah kami sudah retak-retak, atap bocor saat hujan, dan lantainya mulai ambles. Kami takut kalau terjadi hujan deras atau angin kencang,” ujar seorang warga Harekakae.
Masalah air bersih juga mendesak. Di Harekakae, air konsumsi terasa asin dan keruh, sedangkan warga Tualaran masih bergantung pada air sungai. Di Tniumanu, keterbatasan akses air pertanian menjadi hambatan utama karena desa berada di dataran tinggi.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Malaka, Ensy, mengatakan pihaknya akan melakukan pendataan dan menyiapkan langkah perbaikan.
“Kami akan segera mendata rumah-rumah yang kondisinya kritis dan merencanakan renovasi bertahap. Untuk air bersih, kami akan bekerja sama dengan pihak terkait mencari solusi jangka panjang,” ujarnya.
Selain infrastruktur, tantangan ekonomi dan budaya turut menjadi perhatian. Di SP Uluklubuk, masyarakat tetap menanam jagung sesuai tradisi “Hamis Batar” (tanam serentak), meskipun komoditas pisang sebenarnya memberi nilai jual lebih tinggi.
“Kalau kami tidak tanam jagung bersamaan, tradisi ini bisa hilang. Padahal kalau jual pisang, keuntungan lebih besar,” kata seorang warga Uluklubuk.
Masalah permodalan juga masih menghambat. Banyak petani terjebak skema ijon karena minimnya akses transportasi dan lembaga keuangan.
Sementara di SP Weain dan Tualaran, pelatihan keterampilan seperti pengolahan makanan belum berkembang menjadi usaha ekonomi.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya bisa membuat produk, tapi juga menjualnya secara luas. Ini penting agar ekonomi warga bisa tumbuh,” ujar Budi Setiono.
Meski menghadapi banyak keterbatasan, tim juga menemukan potensi yang dapat dikembangkan. Di SP Tniumanu, warga mulai memproduksi saus tomat lokal yang akan dibantu proses legalisasinya oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi.
Di Tualaran, muncul inisiatif pengembangan tembakau herbal bernilai jual tinggi serta filosofi “Berperilaku Secara Nusantara” yang mencerminkan semangat keberagaman.
Selain itu, keberadaan Hakim Perdamaian Desa (HPD) di Tniumanu menjadi contoh praktik kelembagaan lokal yang efektif menjaga harmoni sosial.
“Kami percaya musyawarah dan penyelesaian masalah secara kekeluargaan adalah kunci menjaga ketentraman di desa kami,” ujar seorang HPD setempat.
Dari hasil FGD, tim menyimpulkan bahwa Kobalima Timur memiliki potensi besar di bidang pertanian, produk olahan, dan kelembagaan sosial. Namun, dukungan pemerintah daerah, akses modal, dan perubahan pola pikir kewirausahaan dibutuhkan agar masyarakat transmigran bisa mandiri secara ekonomi.
“Dengan dukungan pemerintah, lembaga penelitian, dan partisipasi masyarakat, kami optimis potensi Kobalima Timur bisa dikembangkan secara berkelanjutan,” kata Badrus Zaman.


