Hilman Latief: Jangan Pandang Perubahan Iklim Isu Elitis!

Must Read

JAKARTAMU.COM | Isu perubahan iklim masih sering dipandang sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Padahal dampaknya sudah dirasakan langsung dalam berbagai aspek kehidupan. Pandangan itu disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Hilman Latief dalam dialog Ramadan pada kegiatan Buka Bersama Lintas Iman yang digelar Eco Bhinneka Muhammadiyah di Gedung Dakwah Pusat Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026).

“Perubahan iklim sering dipandang sebagai isu yang elite dan elitis, padahal dampaknya sangat nyata bagi kehidupan manusia,” kata Hilman.

Menurut Hilman, perubahan iklim yang disebabkan emisi karbon, menuntut manusia mencari alternatif energi. Perkembangan teknologi energi terbarukan saat ini menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase transisi energi besar. Meningkatnya penggunaan kendaraan listrik serta kebutuhan baterai menjadi bagian dari perubahan tersebut. Persoalannya, pemahaman masyarakat mengenai isu lingkungan dan transisi energi masih terbatas.

“Literasi lingkungan perlu dibangun hingga ke tingkat pengambilan keputusan yang lebih populer agar masyarakat memahami pentingnya keberlanjutan,” ujarnya.

Milad 117 H Muhammadiyah

Baca juga: Buka Puasa Lintas Iman Eco Bhinneka Muhammadiyah Mendorong Kesadaran Konsumsi Bijak

Gerakan lingkungan, lanjut dia, membutuhkan keterlibatan generasi muda agar upaya menjaga keberlanjutan dapat berjalan dalam jangka panjang. “Gerakan hijau selalu berbicara tentang masa depan. Karena itu generasi muda harus dilibatkan sejak sekarang,” katanya.

Dialog itu menjadi bagian dari kegiatan buka puasa lintas iman bertema “Dari Meja Buka Menjaga Bumi Kita” yang diikuti lebih dari 150 peserta. Hadir tokoh agama, akademisi, perwakilan pemerintah, aktivis masyarakat sipil, pemuda, serta organisasi lintas agama dan kepercayaan.

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan mengatakan ajaran agama memiliki landasan kuat untuk membangun kesadaran ekologis. Ia menilai tanggung jawab menjaga lingkungan merupakan bagian dari praktik keimanan.

“Jika hubungan dengan alam rusak, maka hubungan dengan manusia dan Tuhan juga ikut terganggu,” kata Hening.

Sejumlah tokoh agama dari berbagai komunitas menyampaikan pengalaman masing-masing dalam mengembangkan gerakan lingkungan. Ketua II Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Pdt. Samuel A.Z. Karinda menjelaskan gereja mengembangkan gerakan Eco Church yang mendorong aksi lingkungan di tingkat jemaat.

“Kalau bicara lingkungan, orang kaya dan miskin bisa bersatu. Dampaknya dirasakan semua orang,” ujarnya.

Samuel menyebut komunitas gereja di wilayah Sumatera pernah terdampak banjir yang juga mengenai sejumlah gereja di kawasan Sibolga hingga Medan. Pengalaman itu mendorong jemaat melakukan kegiatan konservasi, termasuk penanaman 10.000 pohon mangrove di Pangkalan Susu, Sumatera Utara.

Baca juga: UMMU dan Eco Bhinneka Muhammadiyah Dorong Gerakan Lintas Iman Hadapi Krisis Lingkungan

Dari kalangan pendidikan Katolik, Romo Buddy Haryadi dari Kolese Kanisius menyampaikan pendidikan lingkungan mulai diperkenalkan lebih serius kepada para siswa. Ia mencontohkan perubahan sikap anak muda terhadap isu sampah plastik setelah pembahasan ekologis masuk dalam pendidikan moral.

“Sekarang ada siswa yang mengaku bersalah karena membuang sampah plastik. Kesadaran ekologis mulai tumbuh,” katanya.

Sekretaris Jenderal Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Is Werdiningsih menuturkan komunitas kepercayaan mendorong ketahanan pangan keluarga dengan menanam tanaman pangan di rumah. Program itu berkembang saat masa pandemi sebagai upaya menjaga kemandirian pangan.

Perwakilan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Aldi Destian Satya mengatakan para rohaniwan Khonghucu juga diminta menyampaikan isu lingkungan dalam khotbah kepada umat. “Perubahan paling dasar harus dimulai dari diri sendiri,” ujar Aldi.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This