Dua Nafas Amal Usaha Muhammadiyah: Profesionalitas dan Pengabdian

Must Read

JAKARTAMU.COM | Apa yang sebenarnya dimaksud dengan profesional? Perbincangan tentang hal ini pada pengelolaan amal usaha Muhammadiyah mengemuka dalam diskusi terbatas di lantai 10 Gedung D Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Senayan, Jakarta, Senin (9/3/2026). Dalam kesempatan itu, praktisi pendidikan dan dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Dr. Ghufron Amirullah, M.Pd., menguraikan gagasan yang ia sebut sebagai Profesional Al-Maun

Konsep ini menggabungkan profesionalitas kerja dengan semangat pengabdian keagamaan yang menjadi dasar gerakan Muhammadiyah. Amal usaha, termasuk lembaga pendidikan, menurutnya hanya dapat berkembang jika dikelola secara profesional. Profesionalitas itu mencakup disiplin waktu, peningkatan kompetensi diri, serta tanggung jawab penuh terhadap hasil pekerjaan. Sikap proaktif dan dedikasi yang tinggi membangun kepercayaan publik, menciptakan hubungan kerja yang sehat, dan menjaga daya saing lembaga.

Dr. Ghufron mengilustrasikan konsep tersebut dengan metafora sederhana tentang dua kantong. Kantong kiri berisi hak profesional: honorarium yang layak dan kesejahteraan yang memadai bagi para pegawai. Bagian ini bersifat mutlak karena menjadi fondasi keberlangsungan kerja yang sehat dan bermartabat.

Baca juga: Griya Muhammadiyah Cipayung, Mengubah Luka Menjadi Cahaya

Milad 117 H Muhammadiyah
Foto/istimewa

Setelah kebutuhan itu terpenuhi, menurutnya ada nilai lain yang harus ditempatkan di “kantong kanan”, yakni pengabdian kepada agama dan kepedulian terhadap sesama. Di situlah nilai Al-Maun hadir—tangan yang berada di atas untuk berbagi, amal yang dilakukan dengan keikhlasan, serta kontribusi bagi persyarikatan.

“Profesional itu di kantong kiri. Honorarium yang cukup, kesejahteraan yang memadai bagi pegawai itu hal mutlak. Namun ketika sudah terpenuhi ada yang harus ditaruh di kantong kanan, yaitu bakti pada agama, tangan di atas buat sesama, amal ikhlas buat persyarikatan. Itulah istilahnya Profesional Al-Maun,” ujar Dr. Ghufron.

Ia mengingatkan bahwa kedua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan. Amal usaha tidak akan berkembang jika hanya mengandalkan semangat Al-Maun tanpa pengelolaan profesional. Sebaliknya, profesionalitas yang berjalan tanpa nilai Al-Maun akan kehilangan dimensi pengabdian.

Dalam diskusi tersebut ia juga menyinggung praktik yang menurutnya perlu dikoreksi di lingkungan amal usaha Muhammadiyah. Ketika sebuah lembaga sudah berada pada kategori unggul, salah satu indikatornya adalah kemampuan memberikan gaji profesional kepada para pegawai. Akan tetapi, kegiatan pembinaan keagamaan seharusnya tidak diukur dengan kompensasi materi.

“Jangan ada di Muhammadiyah acara kajian, pengajian di amal usaha persyarikatan, karyawan atau pegawainya diberi transport sejumlah uang untuk kehadirannya,” ungkap Ghufron.

Baca juga: Khotbah Idulfitri PCM Kebayoran Baru Angkat Tema Transformasi Menuju Insan Kamil

Pengembangan Pendidikan Muhammadiyah

Menurutnya, kegiatan seperti kajian, pembinaan rohani, dan pengembangan wawasan keagamaan merupakan bagian dari komitmen spiritual warga persyarikatan. Partisipasi dalam kegiatan tersebut seharusnya lahir dari kesadaran berkhidmat, bukan dari pertimbangan finansial.

Pembahasan kemudian bergeser pada arah pengembangan pendidikan Muhammadiyah ke depan. Ghufron memandang bahwa visi pendidikan tidak cukup berhenti pada target melanjutkan studi ke perguruan tinggi favorit di dalam negeri. Lembaga pendidikan Muhammadiyah perlu menyiapkan lulusan yang memiliki orientasi global.

Sekolah, madrasah, dan pesantren Muhammadiyah didorong untuk menargetkan lulusan yang mampu melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Untuk mencapai tujuan tersebut, penguatan kompetensi bahasa asing menjadi kebutuhan mendasar, terutama bahasa Inggris.

Di situlah kembali terlihat hubungan antara profesionalitas dan nilai Al-Maun. Pengelolaan lembaga yang profesional menciptakan mutu pendidikan yang kuat, sementara nilai pengabdian menjaga arah perjuangan tetap berpijak pada tujuan dakwah.

“Perpaduan antara profesionalitas dan falsafah Al-Maun adalah ciri khas distingtif dari bakti kader untuk memajukan semua amal usaha yang ada sehingga ada dua nilai yang bisa diraih yaitu nilai profesionalitas yang memiliki arti fungsi dan kepentingan bagi setiap diri yang berkiprah baik dalam bentuk kemajuan karier, profesi maupun kompensasi yang bersifat duniawi yang itu penting untuk hidup kita,” ujarnya.

Namun, kata Ghufron, ada lebih penting dari itu semua yakni sebagai tijarah. Ini adalah investasi jangka panjang kelak di hari akhir. “Kita berkhidmat dengan mengejar pahala ajran hasanah sehingga tidak semua hal bisa kita kompensasi menjadi sesuatu yang inderawi dan duniawi tetapi bagi kita, warga besar Muhammadiyah di mana pun berkiprah ada nilai utama yang ingin diraih yaitu beramal jariyah kita untuk meraih kehidupan yang abadi. Itulah Atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah.”

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This