JAKARTAMU.COM | Pemahaman keagamaan dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari kemampuan berhitung dan logika matematis. Hal itu disampaikan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah di Hotel Four Points, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat, 13 Februari 2026.
“Sewaktu saya sekolah, nilai matematika tidak memuaskan. Saya dihibur guru agama dengan mengatakan, ‘Tenang saja, nilai matematika tidak ditanya saat yaumul hisab,’” ujar Abdul Mu’ti di hadapan peserta Rakornas.
Namun, menurut dia, pemahaman tersebut berubah ketika ia mendalami Al-Qur’an. Ia menyebut konsep hisab dalam Islam pada dasarnya merupakan perhitungan yang bersifat matematis. “Ketika saya memperdalam Al-Qur’an, ternyata Al-Qur’an itu tidak dapat dipisahkan dari matematika. Hisab itu perhitungan dan itu matematika. Penentuan waktu salat adalah matematika. Pembagian waris dijelaskan sangat rinci dengan pecahan. Kita tidak bisa beribadah dalam Islam tanpa kompetensi ilmu lain, termasuk matematika,” katanya.
Baca juga: Sayur Zepmu Mikro Ritel Diluncurkan, Hilirisasi Pertanian Muhammadiyah Dimulai dari Bukit Duri

Abdul Mu’ti juga menyinggung Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dikembangkan Muhammadiyah sebagai contoh penerapan ilmu hisab dan astronomi dalam kehidupan beragama. Selama ini, perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah kerap menyebabkan perbedaan dalam penetapan Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. Melalui KHGT, Muhammadiyah berupaya menyatukan penanggalan Hijriah berbasis perhitungan astronomi dan prinsip matematis yang terukur.
Ia menjelaskan, keterkaitan Al-Qur’an dan matematika dapat ditemukan dalam berbagai ayat. Konsep bilangan genap dan ganjil disebut dalam Surah Al-Fajr ayat 3. Aturan pembagian waris dalam Surah An-Nisa ayat 11–12 memuat perhitungan pecahan seperti setengah, seperempat, sepertiga, dan seperenam. Perumpamaan infak dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 menggambarkan pelipatgandaan hasil melalui ilustrasi satu biji yang menghasilkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai menghasilkan seratus biji.
Selain itu, pengaturan waktu siang dan malam dalam Surah Al-Isra ayat 12 menunjukkan keteraturan siklus alam. Sejumlah kajian juga mengangkat aspek numerik dalam Al-Qur’an, termasuk kemunculan angka 19 dalam struktur Basmalah.
Menurut Abdul Mu’ti, matematika dalam perspektif Al-Qur’an berkaitan dengan keteraturan hukum alam dan prinsip keadilan. Ilmu hitung, kata dia, membantu umat memahami tata waktu ibadah, pembagian hak, hingga sistem penanggalan.


