Oleh Dedi Iswantara
SETIAP 27 Rajab, umumnya kaum muslim memperingati hari Israk Mikraj Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Peringatan ini, menandakan bahwa peristiwa yang dialami Rasulullah pada malam 27 Rajab, memiliki keistimewaan yang teramat berbeda dengan peristiwa-peristiwa lain di muka bumi.
Isra Mikraj, menjadi satu-satunya peristiwa yang menginspirasi dinamika pemikiran manusia dalam berbagai aspek. Isra Mikraj, bukanlah sekadar peristiwa keyakinan an sich, melainkan juga peristiwa besar teramat dahsyat yang menggugah penalaran insani sekaligus menguji semua keyakinan yang dianut manusia.
Isra Mikraj yang telah dikenal ummat, adalah diperjalankannya Rasulullah Muhammad SAW menjemput perintah shalat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala; Dengan rute pejalanan; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha kemudian naik ke langit 1 sampai 7 dengan akhir tujuan di Sidratul Muntaha (سدرة المنتهى.)

Dalam hal tersebut, masalah shalat dapat diposisikan sebagai Sunatullah. Apalagi, shalat, sebuah perintah dariNya tanpa melalui Malaikat Jibril. Oleh karenanya dapat juga dimaknakan bahwa shalat merupakan wahana kegiatan pembangunan jiwa spiritual bagi Rasulullah dan ummat beliau.
Melalui kegiatan shalat, hal pertama kali yang dibangun –secara jiwa-raga– adalah faktor komunikasi langsung kepada Allah. Merupakan komunikasi yang intens untuk dilakukan, sesuai dengan ritme keteraturan di atas ciptaan Allah Yang Mahakuasa bagi seluruh alam semesta dan isinya.
Itu artinya bahwa, peristiwa Israk Mikraj mengandung banyak pelajaran penting; Antara lain: kegiatan shalat yang bukan sekadar membangun tiang agama, akan tetapi juga sebuah bentuk pengabdian paling utama bagi hamba-Nya. Sekaligus, shalat menjadi pembeda antara mukmin dengan non mukmin.
Efek shalat paling minim adalah penguatan iman dan aqidah bagi setiap orang pengikut Rasulullah kepada Alkhaliq, Dzat Yang Mahaagung dan Mahakuasa atas apa pun. Aktivitas shalat, bukanlah sekadar pelengkap dalam keibadahan saja. Akan tetapi juga, melalui shalat yang dilaksanakan membuka potensi ke pintu solusi; Terutama, bagi hamba-hambaNya yang tengah menghadapai ujian berat, sebagaimana yang pernah dialami Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Penting untuk selalu diingat. Sebelum Israk Mikraj, Rasul akhir zaman ini telah didahului dengan ujian dan cobaan berat yang disifati oleh rasa kemanusiaan pada umumnya.
Ujian dan cobaan yang dialami beliau semacam gelombang cercaan dan hinaan. Gelombang demikian datang, justru setelah beliau diangkat menjadi Rasul Allah. Pada saat itu, kewajiban da’wah Islam yang beliau sampaikan di masyarakat Kota Mekah mendapat perlawanan keras yang ‘membabi buta’ dari kaum kafir Quraisy dan sekutunya.
Pada saat-saat Rasulullah membutuhkan pembelaan dari keluarga yang selama ini kerap menyemangati, orang yang beliau andalkan wafat; Pertama, adalah sang istri tercinta: Siti Khadijah. Kedua, wafatnya seorang paman yang disegani oleh kaum musyrikin, yaitu: Abu Thalib yang wafatnya kira-kira setahun sebelum Khadijah wafat.
Sekali pun dikisahkan bahwa Abu Thalib belum muslim hingga wafat, namun pembelaannya terhadap kegiatan da’wah Rasulullah tidak pernah mengendur. Abu Thalib, punya andil besar pada masa anak-anak Nabiyullah Muhammad dan laksana orang tua sendiri. Abu Thalib selalu melakukan pembelaan terhadap gerakan syiar Islam yang disampaikan Rasulullah kepada penduduk Mekah dan sekitarnya.
Di atas kesedihan yang menerpa Rasulullah karena orang andalannya meninggal dunia, beliau merasa memperoleh hambatan. Sehingga, kegiatan syiar Islam beliau dirasa rasa kelancarannya terganggu dengan berbagai hinaan dan cercaan bahkan ancaman kekerasan. Ternyata, Allah memang tidak diam. Allah memberikan alternatif yang sama sekali belum pernah terpikirkan.
Saat itu, usia Nabi SAW sekitaran 51 tahun –diperkirakan tahun 621 Masehi atau tahun pertama sebelum Hijrah ke Madinah–. Pada malam 27 Rajab, terjadilah peristiwa Israk Mikraj. Sebuah peristiwa perjalanan spiritual yang teramat dahsyat dan menggugah nalar.
Perjalan beliau memang relatif singkat. Namun jarak tempunya meliputi: dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Israa), kemudian naik (Mikraj) hingga langit ketujuh dan berhenti di Sidratul Mutaha.
Di Sidratul Muntaha yang dikisahkan sebagai hamparan teramat indah, megah dan mengagumkan itulah: Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat. Adalah sebuah perintah dari Allah yang tidak melalui Malaikat Jibril.
Jelas dalam hal ini, bahwa shalat bukanlah sebagai bentuk baku ibadah tradisional; Melainkan, shalat merupakan sebuah kegiatan solutif yang memecah kebuntuan penalaran insani.
Shalat, sekaligus memacu disiplin dalam penguatan keyakinan dan pembentukan akhlaq. Melalui aktivitas shalat yang dilakukan secara disiplin cenderung melahirkan tindakan yang bersifat: mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Dengan demikian, perintah shalat yang prosesnya melalui penjemputan Rasulullah SAW yang dipandu Jibril hingga diantar mendekati Sidratul Muntaha, merupakan pembuka wawasan kesemestaan yang mengagumkan. Hanya saja, pada masa itu ilmu pengetahuan dan teknologi belum seperti keadaan sekarang.
Oleh karena itu, peristiwa Israk Mikraj dapat dikategorikan sebagai peristiwa besar dalam wujud kesemestaan yang teramat dahsyat; Karena, pada gilirannya Israk Mikraj menggugah penalaran insani sekaligus penguji bagi semua keyakinan di alam fana.
Sedangkan shalat, tidak lain merupakan wahana penataan komunikasi melalui tindakan khusus bagi individu mukmin di permukaan bumi, terhadap Kemahaagungan Allah Yang Mahapencipta. Ada pun seluruh bahasa komunikasinya, termasuk gestur atau bahasa tubuh, memiliki intensitas berulang-ulang dari hari ke hari, agar menjadi energi yang menyatu dan berkuatan penuh di dalam siklus pengharapan. (*)
Selamat memperingati Israk Mikraj, 27 Rajab 1447 H. Semoga dapat memetik hikmah yang lebih adaptif. Hidup bukan sekadar bertahan.


