Oleh H. Bambang Maryono, ST
JAKARTAMU.COM — Kehidupan di dunia ini, tidaklah abadi. Masih ada kehidupan seletah kita meninggalkan alam fana; Yaitu, kehidupan akhirat yang kekal.
Bila saja orang tua atau para sepuh di lingkungan kita pernah mengingatkan; Bahwa: ‘perjalan kehidupan di permukaan bumi laksana kita mampir minum.’; Maka, pesan ini, merupakan sinyalemen yang pantas kita renungkan, lalu kembali dikaji secara berulang, tanpa menyertakan rasa bosan. Pasalnya, ujung kehidupan kita di dunia, adalah: kematian.
Tak seorang juga makluq yang diciptakan Allah –seperti kita– mampu membantah akan datangnya kematian. Senada itu, Alqur-an juga memberi sinyal abadi; Antaranya, berbunyi: Kullu nafsin żā`iqatul-maụt, ṡumma ilainā turja’ụn (كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ). Terjemahan ayat ini, lebih kurang; Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami (Allah) kamu dikembalikan. (QS Al Ankabut: 57)

Tafsir Al-Wajiz/Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir di Suriah menjelaskan ayat di atas; “Setiap makhluk pasti merasakan kematian di tanah air dan wilayahnya, atau di tempat asing dan tempat hijrahnya. Kemudian kalian dikembalikan kepada Kami (Allah) setelah mati untuk dihisab dan dibalas.” (Lihat tafsirweb.com/7283: diunduh Jumat, 12-12-2025).
Mampir minum dan tanggung jawab
Penduduk di Indonesia, umumnya sering mengibaratkan, bahwa: kehidupan kita di dunia hanyalah laksana mampir minum. Hal ini, penulis pandang sebagai peringatan. Sangat mungkin, kita kerap juga mendengar wejangan atau pesan berupa sinyal tersebut dari orang tua atau para sepuh; Di mana, kandungan maknanya sebagai peringatan: alangkah singkatnya perjalan hidup kita di dunia.
Sekali pun singkat, pengibaratan ‘mampir minum’ beserta seluruh rentetan yang kita lakukan di permukaan bumi, kelak akan dimintai pertangung jawaban. Mulai dari usia kita masuk aqil baligh, seluruh amaliah dunia akan dihisab dan diberi balasan yang setimpal oleh Alkhaliq selaku Raja segala raja di hari kemudian (akhirat).
Usia aqil baligh, berarti usia seseorang sudah dewasa dan berakal sehat. Pada usia ini, kondisi seseorang mencapai masa perkembangan fisik serta mental yang telah siap dibebani tanggung jawab hukum; Sesuai dengan syariat Islam. Pada usia aqil baligh, sebagai hamba Allah, juga telah menjadi mukallaf; Sehingga, ia wajib menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Mukallaf, berati pula bahwa orang yang sudah dibebani kewajiban agar mengaplikasikan syariat Islam. Ia adalah orang yang berakal sehat dan telah baligh (dewasa); Da’wah Islam telah sampai kepada dirinya. Sehingga, ia bertanggung jawab penuh untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
Perintah Allah yang paling pantas dipatuhi: shalat, puasa, zakat, haji, dan segala perbuatan yang bernilai ibadah mahdha serta ibadah ghairu mahdha. Sebagai mukallaf, ia juga mesti berjuang serta menjauhi segala perbuatan maksiat yang tercela.
Semua tindak dan laku yang dikerjakan manusia yang telah aqil baligh dan mukallaf di muka bumi, akan diperhitungkan olehNya melalui pendekatan amaliah ibadah masing-masing.
Penting juga penulis jelaskan bahwa, aqil baligh terdiri dari dua unsur yang saling mendukung antar keduanya. Aqil adalah berakal (sehat), yaitu mampu memahami dan membedakan antara perbuatan baik atau buruk, benar atau salah, hingga aktivitas yang bermanfaat untuk banyak orang atau tidak bermanfaat bagi orang lain.
Sedangkan baligh mengandung arti dewasa; Yaitu: seseorang telah mencapai usia atau tanda-tanda fisik tertentu; Antara lain, aspek tenaga yang lebih kuat dibandingkan dengan masa anak-anak.
Singkatnya hidup di dunia
Usia manusia di alam fana dipastikan sangat terbatas. Salah satu kitab yang dipercaya banyak ulama berbagai kalangan: Kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah atau dikenal juga sebagai Kitab Tarikh Ibnu Katsir.
Ulama besar Ibnu Katsir, hidup dengan jumlah usia 72 tahun (1301-1373 M. Ia dikenal sebagai seorang ulama besar ahli hadits, yang menyatakan bahwa: usia Nabi Adam Alaihis Salam (AS) totalnya 1.000 tahun; Dengan rincian: 43 tahun 4 bulan hidup di surga dan sisanya, yakni: sekitar 957 tahun hidup di bumi.
Sementara umur harapan hidup (UHH) orang sekarang, khususnya di Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik pada 2024: –rata-rata secara nasional– UHH penduduk di negara kita, dikabarkan ada peningkatan; Semula pada kisaran 72 tahun 1 bulan 17 hari (72,13 tahun) pada 2023, menjadi 72 tahun 4 bulan 20 hari (72,39 tahun) pada 2024.
Sekali pun ada kabar peningkatan UHH rata rata pada penduduk negeri ini, namun tetap saja perjalanan hidup di dunia jauh lebih singkat dibanding masa tunggu di alam barzakh. Setiap manusia yang wafat, setelah proses pemakaman di lahan kuburan, dipastikan: memasuki alam barzakh; Merupakan alam, di mana manusia yang telah meninggal dunia menunggu hari kiamat dan hari kebangkitan.
Alam barzakh, dalam hal ini, masih menjadi perantara pada perjalan hidup di dunia dengan kehidupan di akhirat yang kekal. Bukankah kehidupan abadi berada setelah hari kebangkitan dan setelah melalui proses hisab oleh Allah atas semua perbuatan kita di alam dunia yang singkat?
Berbenah diri dan penutup
Dalam perjalanan hidup kita yang demikian singkat saat di muka bumi ini, maka penulis juga mengingatkan, antara lain: Usia Nabi Adam AS yang panjangnya 957 tahun di muka bumi, masih kalah sungguh sangat jauh dengan panjangnya masa tunggu di alam barzakh. Apa lagi, UHH kita yang rata-rata 72 tahun itu.
Maka pula, jika orang tua kita, atau para sepuh di lingkungan kita telah mengingatkan kalau perjalan kehidupan di dunia ini hanya laksana kita mampir minum, bukanlah pesan sia-sia. Kandungan makna yang mendalam dari pesan itu: kita ini tidak punya waktu lama untuk berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak.
Oleh karenanya, tak lupa penulis mengajak agar kita sama-sama berbenah diri; Meninggikan kesadaran untuk selalu meningkatkan amaliah yang bernilai ibadah; Dari sekarang, hingga akhir hayat.
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Moga manfaat (*)


