Ekspansi Dakwah Menantang Pengembangan Strategi

Must Read

JAKARTAMU.COM | “Dakwah itu siyasah.” Demikian disampaikan KH Kusen, S.Ag., M.A., Ph.D., dai yang lebih dikenal dengan nama Kiai Cepu. Lulusan doktoral Rusia ini menjelaskan, dakwah pada hakikatnya pengaturan dan strategi. Sebab dia berjalan pada ruang yang di dalamnya bertemu budaya, termasuk sarana transportasi dan alat komunikasi. Semuanya itu untuk mencapai tujuan agama, yakni mengajak manusia pada kebaikan, mengintegrasikan nilai Islam ke dalam tradisi, serta membentuk masyarakat yang berakhlak.

Dalam paparannya saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, di Aula Djuanda Gedung Dakwah Muhammadiyah, Kramat Raya 49, Jakarta Pusat., Minggu (14/12/2025), Kiai Cepu membagikan pengalaman berdakwah di diskotik.

Setelah ceramah berlangsung cukup lama, Kiai Cepu membuka sesi tanya jawab. Pertanyaan baru muncul setelah ia mengulang ajakan itu beberapa kali. Seorang perempuan muda mengangkat tangan dan bertanya tentang hukum bekerja di diskotik.

Baca juga: Membina Komunitas Hobi, Pendekatan Baru Dakwah Muhammadiyah lewat LDK

Milad 117 H Muhammadiyah

Menurut Kiai Cepu, dakwah membutuhkan pendekatan, bukan hanya jawaban fikih yang kaku. Ia memilih tidak menjawab pertanyaan itu secara lugas dengan label halal atau haram. 

“Kalau saya langsung bilang haram, dalam hati dia pasti menjawab sendiri: mudah bagi kyai mengatakan haram, sementara saya sudah ke sana kemari mencari kerja dan hanya ini yang tersedia,” tutur Kiai Cepu menirukan dialog batinnya saat itu.

Jawaban normatif yang disampaikan tanpa membuka ruang pemahaman justru berpotensi menimbulkan penolakan. Karena itu, Kiai Cepu meminta perempuan tersebut untuk terlebih dahulu mengikuti pengajian secara rutin agar memiliki landasan berpikir sebelum membahas persoalan hukum secara lebih dalam.

Baca juga: Dakwah Ramadan 2025 LDK Muhammadiyah di Kampung Baduy

“Seseorang yang belum paham perlu dibuka dulu cara pandangnya. Kalau langsung dipukul dengan vonis fikih, yang muncul justru resistensi,” ujarnya.

Di akhir acara, dia melantunkan sepenggal Panembromo Muhammadiyah.  Panembromo adalah tembang atau nyanyian yang dilantunkan bersama, dengan atau tanpa iringan musik. Isinya memuat refleksi kehidupan manusia, ajakan pada kebaikan, serta pencarian kebenaran. 

Kiai Cepu mengatakan tradisi ini pernah menjadi pembuka Muktamar Muhammadiyah tahun 1913—yang ketika masih disebut Rapat Tahunan. Tapi kini hampir tidak lagi dijumpai dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah. Baginya, Panembromo adalah contoh bagaimana dakwah pernah hadir melalui pendekatan budaya yang dekat dengan masyarakat.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This