Kenapa Gereja Bisa Dijual tapi Masjid Tidak? Ini Kata Dondy Tan

Must Read

JAKARTA.COM | Pembelian sebuah gereja di Alcala, Madrid, oleh Muhammadiyah pada 2024 menjadi peristiwa bersejarah yang menyita perhatian dunia. Bangunan itu dulunya peninggalan masa Kekhalifahan Umayyah saat Andalusia masih berada di bawah kekuasaan Islam. Kini, gedung tersebut dialihfungsikan sebagai masjid dan pusat dakwah.

Dalam acara Hari Bermuhammadiyah di Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (9/11/2025), tokoh mualaf Koh Dondy Tan mengapresiasi langkah Muhammadiyah tersebut. “Saya sangat menghargai keputusan Muhammadiyah membeli gereja di Spanyol. Kalau belum diberi nama, saya usul diberi nama Masjid Isa Al-Masih,” ujarnya.

Dondy juga menuturkan pengalaman serupa yang dilakukan yayasannya di Klaten, Jawa Tengah, yang membeli gereja dan mengalihfungsikannya menjadi masjid dengan biaya sekitar Rp200 juta saat pandemi Covid-19.

Menurutnya, gereja bisa dijual karena bukan termasuk aset wakaf. Penjualan biasanya terjadi akibat kesulitan finansial, penurunan jumlah jemaat, konflik internal, atau ketiadaan kader pendeta penerus. “Kalau pendetanya meninggal dan tidak ada yang menggantikan, jemaat bisa bubar. Gerejanya akhirnya dijual agar tidak terbengkalai,” kata Dondy.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia menegaskan, kondisi itu berbeda dengan masjid yang umumnya berasal dari wakaf dan tidak boleh diperjualbelikan.

Dondy Tan Susanto, keturunan Tionghoa kelahiran Melbourne, memeluk Islam pada 2014 setelah tujuh tahun mempelajari ajaran Islam. Sebelumnya ia beragama Kristen Protestan dan memutuskan berpindah keyakinan karena menemukan penjelasan yang lebih rasional dalam Islam.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This