AKHIR November menghadirkan suasana berbeda di Tamansari Hive. Biasanya, lantai satu gedung itu dipenuhi aroma kopi dan masakan rumahan yang samar. Tapi kali ini aroma masakan membuat lorong menuju Godong Gedang bak pintu kecil menuju Semarang.
Maklum, restoran yang dikenal sebagai tempat makan rumahan itu memang sedang menggelar Festival Njawani Edisi Masakan Semarang. Selama 29–30 November 2025 lalu, festival dihelat sebagai perayaan kecil bagi pengunjung untuk mencicipi ragam rasa pesisir Jawa Tengah tanpa harus meninggalkan Jakarta.
”Kami ingin memperkenalkan masakan-markah pantura, pada umumnya, dan khususnya masakan Semarang,” tutur Arif, sang pemilik resto.
Dari meja penyajian yang disiapkan khusus, deretan hidangan tampil seperti tamu yang sudah lama ditunggu. Mangut kepala manyung dengan kuah merah kecokelatan berdampingan dengan mangut iwak pe yang lebih pekat. Panci garang asem mengepulkan uap dari lipatan daun pisang yang masih rapat.

Di sudut lain, tahu gimbal, tahu petis, dan lumpia yang baru ditiriskan tersusun rapi, sementara bandeng presto dan nasi pindang siap menemani pelanggan yang datang dengan rasa ingin tahu. Tempe gembus goreng dan asem-asem daging menambah daftar hidangan yang jarang ditemui dalam satu meja di Jakarta. “Kami ingin orang merasakan Semarang dari meja makan di Jakarta,” ujarnya.
Godong Gedangberdiri dengan karakter yang tidak dibuat-buat. Ruangannya sederhana, nyaman, dan memberi kesan seperti makan di rumah kerabat yang selalu punya waktu untuk memasak. Pelanggan yang datang—baik pekerja kantor di sekitar kawasan maupun keluarga yang mencari makan siang—mengenal restoran ini sebagai tempat yang menjaga rasa rumahan tetap hidup. Karena itu, festival masakan Semarang terasa menyatu dengan identitasnya. Tidak ada dekorasi besar atau panggung meriah. Yang ada hanyalah kesungguhan untuk menghadirkan cita rasa dari kota yang sering dilewati tapi jarang dihadirkan secara penuh dalam satu kunjungan.
Dalam keramaian yang tidak berlebihan, suasana festival lebih mirip acara makan bersama yang hangat dari pada acara kuliner besar yang riuh. Dua hari festival itu menjadi cara bagi Godong Gedang untuk mengenalkan kota melalui rasa, dan membiarkannya bercerita sendiri. (*)


