Kufur Nikmat: Buah Lokal Indonesia Semakin Langka

Must Read

HIDUP di negara tropis seperti Indonesia adalah karunia besar. Kekayaan hayati yang melimpah membuat masyarakat bisa menikmati beragam buah-buahan segar: nanas, manggis, salak, pisang, durian, dan banyak lagi. Jenis-jenis buah yang di tempat lain sulit ditemukan, justru tumbuh dengan subur di negeri ini.

Buah bukan hanya pelengkap makanan. Ia juga sumber gizi yang mampu menjaga kesehatan tubuh. Para ahli gizi merekomendasikan konsumsi buah dan sayuran setidaknya 400 gram per hari agar kebutuhan nutrisi terpenuhi dan risiko penyakit berkurang.

Ulama pernah menyinggung tentang negeri yang dianugerahi buah dan sayuran tanpa mengenal musim. Hal ini dikaitkan dengan kisah kaum Saba’ sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Saba’ ayat 15:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍۖ كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥۚ بَلْدَةٌۭ طَيِّبَةٌۭ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Milad 117 H Muhammadiyah

“Sesungguhnya bagi penduduk Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kepada mereka dikatakan): Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”

Kaum Saba’ mendiami wilayah selatan Yaman yang sangat subur. Mereka hidup makmur dengan membangun bendungan besar bernama Bendungan Ma’rib atau al-‘Arim, yang menampung air hujan dan mengalirkannya ke ladang-ladang. Teknologi pengairan ini membuat mereka mencapai peradaban tinggi pada masanya, meskipun sebagian ahli sejarah modern meragukan keberadaan bendungan tersebut.

Buah Lokal yang Kian Langka

Indonesia yang dahulu dikenal kaya buah-buahan, kini menghadapi kenyataan pahit. Buah lokal semakin jarang ditemukan. Alih fungsi lahan, perubahan iklim, lemahnya pelestarian, dan persaingan dengan buah impor menjadi faktor penyebabnya.

Pada 1990-an, anak-anak sekolah di Jakarta masih bisa membeli gowok, jamblang, buni, dan kecapi di depan sekolah. Dua puluh lima tahun kemudian, buah-buah itu nyaris hilang dari peredaran. Ironisnya, banyak nama jalan di ibu kota menggunakan nama buah—seperti Jalan Gandaria atau Jalan Kenari—tetapi masyarakat yang tinggal di sekitarnya belum tentu pernah merasakan buah tersebut.

Kerusakan hutan karena ekspansi perkebunan karet dan kelapa sawit sejak era Orde Baru menambah masalah. Penambangan batubara, emas, dan bijih besi juga mempersempit ruang hidup ribuan spesies tumbuhan. Sementara itu, buah lokal kalah bersaing dengan buah impor sejak tahap awal produksi hingga pemasaran. Banyak buah lokal tidak memiliki merek kuat dan justru meniru popularitas buah impor.

Sistem pertanian modern yang mengandalkan herbisida memperparah keadaan. Banyak plasma nutfah—sumber kekayaan genetik tanaman—terancam musnah. Akibatnya, buah-buahan endemik nusantara perlahan hilang dari kehidupan masyarakat.Muhasabah atas Nikmat yang Terabaikan

Kelangkaan buah lokal semestinya menjadi bahan muhasabah. Apakah bangsa ini tengah mengulang sikap kaum Saba’ yang kufur nikmat? Dalam Surah Saba’ ayat 16–17, Allah menjelaskan akibat berpaling dari syukur:

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ ٱلْعَرِمِ وَبَدَّلْنَـٰهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَىْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَىْءٍۭ مِّن سِدْرٍۢ قَلِيلٍ

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan kebun yang ditumbuhi pohon yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit pohon Sidr.”

ذَٰلِكَ جَزَيْنَـٰهُم بِمَا كَفَرُوا۟ۚ وَهَلْ نُجَـٰزِىٓ إِلَّا ٱلْكَفُورَ

”Demikianlah, Kami balas mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menimpakan azab melainkan kepada orang-orang yang sangat kufur.” (*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This