BANDUNG, JAKARTAMU.COM | Literasi diri dinilai menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tekanan sosial yang semakin kompleks. Dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Dr. Megha Sakova, S.M.B., M.M., menyatakan kesadaran mengenal diri merupakan fondasi pembentukan kepribadian yang sehat dan seimbang.
Pernyataan tersebut disampaikan Megha dalam Seminar Literasi Diri bertajuk “Mengenal Diri: Hal yang Sering Kita Lupakan” yang diselenggarakan Duta Literasi Manajemen UM Bandung, Selasa (10/2/2026).
“Mengenal diri bukan berdasarkan tuntutan orang lain, melainkan dari kesadaran diri sendiri,” ujar Megha.
Ia menjelaskan, mengenal diri tidak berhenti pada pengenalan sifat atau kebiasaan yang tampak. Proses itu mencakup pemahaman terhadap apa yang dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan, serta batasan personal yang dimiliki seseorang. Tanpa pemahaman tersebut, seseorang rentan menjalani hidup mengikuti ekspektasi sosial.

“Kalau seseorang belum mengenal dirinya, hidupnya akan terus dikendalikan oleh standar dan harapan orang lain,” katanya.
Dalam pemaparannya, Megha menguraikan konsep self-awareness sebagai kemampuan menyadari apa yang terjadi di dalam diri. Kesadaran itu meliputi pengenalan emosi, pola pikir, alasan bereaksi terhadap situasi tertentu, hingga dampak perilaku terhadap orang lain.
“Self-awareness bukan hanya tahu diri, tetapi sadar mengapa kita bersikap seperti itu,” jelasnya.
Ia menambahkan, banyak orang merasa telah mengenal dirinya, padahal baru memahami lapisan luar kepribadian. Refleksi yang lebih mendalam diperlukan untuk menelusuri sebab di balik karakter dan respons yang muncul.
“Pertanyaannya bukan hanya ‘apa saya seperti ini’, tetapi ‘mengapa saya menjadi seperti ini’,” tegasnya.
Megha juga menyinggung watak dasar manusia yang telah terbentuk sejak lahir dan dipengaruhi faktor biologis, pengalaman awal kehidupan, serta lingkungan keluarga dan sosial. Watak tersebut, menurut dia, merupakan fakta diri yang perlu dipahami.
Ia mengelompokkan kecenderungan watak dasar ke dalam tiga tipe, yakni introver, ekstrover, dan ambiver. Ketiganya berkaitan dengan cara seseorang memperoleh serta mengelola energi. Introver mendapatkan energi dari waktu menyendiri, sedangkan ekstrover dari interaksi sosial.
Pemahaman atas watak dasar, lanjutnya, membantu seseorang menempatkan diri secara proporsional dan menghindari kelelahan mental akibat memaksakan peran yang tidak sesuai.
“Tanpa self-awareness, orang bisa kelelahan secara mental karena terus memaksakan diri menjadi sesuatu yang bukan dirinya,” ujarnya.
Selain watak dasar, Megha memaparkan empat tipe kepribadian, yakni sanguinis, koleris, plegmatis, dan melankolis. Setiap tipe memiliki kekuatan dan tantangan tersendiri. Persoalan muncul ketika seseorang tidak menyadari kecenderungan pribadinya dan tidak mengelolanya dengan tepat.
Ia menilai, kepribadian terbentuk dari perpaduan watak dasar, pengalaman hidup, dan kesadaran diri. Individu yang mampu mengenali dirinya akan lebih siap menghadapi dinamika sosial.
“Orang yang paling siap menghadapi dunia bukan yang paling sempurna, tetapi yang paling sadar akan dirinya sendiri,” kata Megha.


