JAKARTAMU.COM | Penggunaan masker di transportasi umum penting dibudayakan pasca pandemi Covid-19. Hal ini untuk melindungi diri dari penyakit pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia lantaran risiko penularannya di ruang publik tetap tinggi.
Di banyak negara, praktik memakai masker di ruang publik padat sudah menjadi bagian dari budaya sehari-hari. Misalnya di Jepang, masyarakat rutin mengenakan masker saat naik kereta atau bus. Kebiasaan ini muncul bukan hanya karena kewajiban, tetapi juga sebagai langkah pencegahan penyakit dan kesadaran terhadap kesehatan masyarakat.
Kondisi serupa perlu diperhatikan di Indonesia, terutama di transportasi umum yang padat. Dalam Kajian Kesehatan di Masjid Al Huda, Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, Minggu (28/12/2025), salah satu peserta kajian menyoroti kebiasaan masyarakat di ruang publik.
“Saya bukan perokok, namun saya suka jengkel dalam hati ketika saya ke restoran atau warung makan, ingin menikmati masakan dan harumnya masakan, tapi terganggu dengan bau asap rokok pelanggan lain yang asapnya terbang ke mana-mana,” ujar salah seorang peserta kajian.


Narasumber kajian, dr. Bella Yunita, dokter yang pernah berdinas di RSUD Budhi Asih Jakarta Timur, mengakui rendahnya kepatuhan etika kesehatan di ruang publik. Ia menyebut masih sering ditemui orang merokok di transportasi umum, bahkan oleh sopir angkutan. Hal ini dapat meningkatkan risiko penularan penyakit pernapasan bagi penumpang lain.
Dalam pemaparannya, dr. Bella menjelaskan tentang pneumonia, penyakit yang menyerang paru-paru ketika kantung udara kecil (alveoli) terisi cairan atau nanah akibat infeksi virus, bakteri, atau jamur. Pneumonia menyebabkan batuk, demam, dan sesak napas, serta berisiko serius bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Ia juga menekankan bahwa gejala pneumonia pada lansia sering tidak khas. Batuk bisa ringan, demam tidak selalu muncul, dan sesak napas belum tentu dirasakan. Dalam kondisi tertentu, penurunan kesadaran dapat terjadi mendadak, dan saat diperiksa tenaga medis, pasien baru diketahui menderita pneumonia.
Karena itu, dr. Bella menyarankan agar siapa pun yang mengalami atau mencurigai gejala sesak napas segera berkonsultasi ke dokter di fasilitas kesehatan terdekat.
Budaya mencuci tangan dan memakai masker yang terbentuk selama pandemi COVID-19 seharusnya dipertahankan. Penggunaan masker di transportasi publik seperti bus TransJakarta, MRT, dan LRT tetap penting untuk mencegah penyebaran droplet yang mengandung bakteri dan virus, yang dapat menyebar hingga satu meter di ruang tertutup dan ramai.


