SETIAP anak memiliki potensi dan kemampuan yang bisa muncul dalam berbagai bentuk. Hal itu sering kali terlihat dari hobi, kesukaan, dan aktivitas sehari-hari yang mereka tekuni. Orang tua perlu memberi ruang agar anak dapat mengeksplorasi minatnya, selama hal itu positif dan tidak berbahaya. Potensi seorang anak tidak selalu sama dengan orang tuanya. Bisa jadi, dalam sebuah keluarga, ada anak yang justru menjadi yang pertama memiliki bakat di bidang musik, olahraga, atau seni.
Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah dari Allah SWT. Kehadirannya menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga dan generasi penerus bagi orang tua. Tidak sedikit pasangan yang belum dikaruniai anak rela menempuh berbagai ikhtiar untuk mendapatkan buah hati. Namun, ketika sudah memiliki anak, masih ada orang tua yang kurang peka terhadap potensi anaknya.
“Misalnya, seorang anak mendapat nilai 7 pada mata pelajaran matematika, sementara pada seni lukis nilainya 9. Banyak orang tua justru menyoroti nilai matematikanya dan segera memberikan les tambahan. Padahal, mereka kurang jeli melihat potensi besar sang anak di bidang seni,” ujar Fahrul Rozi, S.Pd., M.Si., dalam materi Mengenal Tahap Perkembangan Anak pada acara Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia di Hotel Aston Ketapang, Kalimantan Barat, Selasa (30/10/2025).
Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Uhamka itu menegaskan bahwa setiap anak punya keistimewaan dan keunikan sendiri. Orang tua tidak bisa menentukan anak harus berprestasi di semua bidang. “Kita tidak bisa memesan seperti apa wajah, tubuh, atau karakter anak. Itu semua hak prerogatif Allah SWT dengan sifat Qudrah dan Iradah-Nya,” jelasnya.

Untuk memperkuat penjelasannya, Fahrul memberi contoh Cristiano Ronaldo. Menurutnya, bintang sepak bola dunia itu memiliki kecerdasan kinestetik yang menonjol sejak kecil. Kecerdasan tersebut terus diasah hingga berkembang menjadi keterampilan olahraga luar biasa. “Jika Ronaldo dipaksa untuk berprestasi di bidang lain, mungkin hasilnya tidak akan sama dengan sepak bola,” tambahnya.
Kecerdasan kinestetik sendiri merupakan salah satu kecerdasan majemuk yang diperkenalkan Howard Gardner dalam teori multiple intelligences. Kecerdasan ini terkait kemampuan individu memahami dan mengekspresikan diri melalui gerakan tubuh. Mereka yang memilikinya biasanya unggul dalam seni gerak, olahraga, maupun aktivitas yang berhubungan dengan fisik dan estetika.
Acara Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI) ini merupakan kerja sama antara Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Save The Children, dan GPE Transforming Education. Tujuannya memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan murid di Indonesia. Kegiatan di Ketapang kali ini menghadirkan tim dari sekolah dasar negeri maupun swasta se-Kabupaten Ketapang. (*)


