SAMPAH plastik masih menjadi masalah besar dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia. Wadah bekas makanan dan minuman berbahan plastik mendominasi limbah yang dibuang sembarangan. Sifat plastik yang sulit terurai, bahkan bisa memakan waktu ratusan tahun, menjadikannya ancaman serius bagi tanah, laut, dan kesehatan manusia.
Aksi People Power di Pati, Jawa Tengah, pada 13 Agustus 2025, memberi gambaran nyata betapa besarnya volume sampah plastik. Usai unjuk rasa, halaman Kantor Bupati dipenuhi gelas plastik, botol air mineral, kardus, dan sisa kemasan lain, yang kemudian dibersihkan petugas keamanan dan masyarakat.
Plastik tetap populer karena murah, praktis, dan mudah ditemukan. Hampir semua kemasan makanan, pembungkus barang, peralatan rumah tangga, mainan anak, hingga perlengkapan medis mengandalkan plastik. Namun ketergantungan ini mendorong timbulnya limbah dalam jumlah besar setiap hari. Salah satu sumber signifikan adalah botol plastik air minum kemasan.

Salah satu cara untuk mengurangi limbah tersebut adalah memperluas akses zona air siap minum di ruang publik dan mendorong masyarakat membawa tumbler pribadi. Program “air keran layak minum” yang telah diterapkan di banyak negara maju menunjukkan manfaat ganda: mengurangi limbah plastik sekaligus menekan biaya hidup masyarakat. Air keran yang diolah dengan baik dapat menghilangkan kontaminan, mempertahankan mineral penting, dan memiliki rasa setara dengan air kemasan.

Jika infrastruktur air keran ditingkatkan, masyarakat dapat memperoleh sumber air minum yang lebih efisien, terjangkau, dan berkelanjutan. Pemerintah pusat maupun daerah dapat memanfaatkan berbagai skema pendanaan, mulai dari hibah, subsidi, penerbitan obligasi, hingga kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) dengan sektor swasta. Model pembiayaan ini memberi peluang pengelolaan profesional dengan pembagian keuntungan atau kontrak layanan yang jelas.
Mendorong kebiasaan minum air keran yang aman membutuhkan komitmen jangka panjang: membangun fasilitas, menjamin kualitas, serta mengedukasi masyarakat. Langkah ini bukan sekadar upaya kebersihan lingkungan, tetapi juga investasi bagi kesehatan dan keberlanjutan hidup di masa depan. (*)


