Menjernihkan Sumber Perilaku Manusia

Must Read

PERILAKU manusia merupakan pancaran dari keinginan, emosi, dan pengetahuan. Ketiganya saling bertaut, membentuk arah langkah manusia dalam hidup. Islam memberi tuntunan agar setiap sumber itu disucikan, dikendalikan, dan diarahkan pada kebaikan dunia dan akhirat.

Dalam hidup sehari-hari, kita seringkali bertindak didorong oleh keinginan. Keinginan adalah bagian dari nafsu, yang dalam Islam disebut dengan istilah النَّفْسُ. Allah Swt. berfirman:

﴿ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ﴾

“Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” (QS. An-Nāzi‘āt: 40)

Milad 117 H Muhammadiyah

Ayat ini menegaskan bahwa keinginan yang tidak dikendalikan bisa menjadi bencana. Ia menjerumuskan manusia pada keserakahan, kefasikan, bahkan kekufuran. Keinginan yang tak kenal batas menjadikan seseorang mengejar dunia dengan segala cara, sekalipun harus menabrak nilai, merugikan orang lain, bahkan melupakan akhirat.

Namun, bukan berarti keinginan harus dibunuh. Islam tidak mengajarkan peniadaan nafsu, tapi pengendaliannya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:

«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»

“Bukanlah orang kuat itu yang jago bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Marah adalah bagian dari emosi. Emosi, sebagaimana keinginan, bisa menjadi kekuatan atau kelemahan. Bila diarahkan pada tempatnya, ia menjadi energi untuk membela kebenaran. Namun jika lepas kendali, ia melahirkan penyesalan, kekerasan, dan kehancuran.

Dalam Islam, emosi perlu ditundukkan kepada akal sehat dan petunjuk wahyu. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang sangat sabar dan tenang dalam menghadapi situasi yang paling menekan sekalipun. Ketika beliau dihina, dilempari batu, dan dicaci maki, beliau tidak membalas dengan kemarahan, melainkan dengan doa dan pengampunan.

Allah Swt. memuji orang yang mampu mengelola emosinya:

﴿ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴾

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Āli ‘Imrān: 134)

Pengendalian emosi tidak berarti menjadi lemah, tapi justru menunjukkan kedewasaan spiritual. Orang yang tidak bisa menahan emosinya akan mudah dipermainkan setan, dan akhirnya kehilangan arah hidupnya.

Sumber ketiga dari perilaku manusia adalah pengetahuan. Pengetahuan adalah cahaya. Ia menerangi jalan hidup, membedakan yang benar dari yang salah. Tanpa pengetahuan, keinginan dan emosi akan berjalan liar, karena tidak memiliki rambu.

Namun pengetahuan saja tidak cukup. Ia harus dibarengi dengan iman dan amal. Allah Swt. berfirman:

﴿ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ﴾

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang sejati adalah yang melahirkan rasa takut kepada Allah. Bukan pengetahuan yang menjadikan seseorang sombong, apalagi memutarbalikkan kebenaran. Pengetahuan yang benar akan membimbing hati, meluruskan keinginan, dan menenangkan emosi.

Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

“Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, puncak dari pengetahuan adalah pemahaman agama yang benar. Bukan sekadar teori, tapi ilmu yang membimbing sikap dan tindakan.

Bila ketiga sumber ini keinginan, emosi, dan pengetahuan dibina dan diarahkan oleh nilai-nilai Islam, maka manusia akan menjadi makhluk yang mulia. Tapi jika ketiganya dibiarkan liar, maka manusia akan menjadi makhluk paling rusak.

Kita hidup di zaman ketika keinginan didorong oleh iklan dan ambisi, emosi mudah tersulut oleh media sosial, dan pengetahuan seringkali dicampuradukkan dengan hoaks dan kesesatan. Karena itu, kita perlu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah untuk menata ketiga sumber perilaku ini.

Menjaga keinginan berarti mampu berkata: “Cukup.” Menjaga emosi berarti mampu berkata: “Sabar.” Menjaga pengetahuan berarti mampu berkata: “Ini benar.”

Semuanya butuh latihan dan mujahadah. Allah Swt. berjanji:

﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴾

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabūt: 69)

Ketika seseorang menyucikan keinginannya dengan qana‘ah (rasa cukup), menenangkan emosinya dengan dzikir, dan menyinari ilmunya dengan iman, maka setiap perilakunya akan menjadi amal yang berpahala.

Mari kita jadikan hidup ini sebagai proses memurnikan ketiga sumber perilaku itu. Jangan biarkan keinginan mengalahkan akal, jangan biarkan emosi menghapus empati, dan jangan biarkan ilmu tanpa iman merusak hati.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mampu menjaga diri, mengendalikan jiwa, dan menebar kebaikan melalui setiap sikap dan tindakan. (*)

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This