AKSI demonstrasi pada 25–28 Agustus lalu meninggalkan persoalan serius, terutama kerusakan materi di berbagai tempat. Ekspresi demokrasi yang semula damai berubah menjadi aksi perusakan properti dan pembakaran. Kericuhan ini diduga dipicu tindakan represif aparat keamanan yang menimbulkan korban jiwa. Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online tewas dilindas kendaraan taktis Brigade Mobil (Brimob) Polri.
Peristiwa semacam ini kerap membuka kembali pertanyaan mendasar tentang sifat manusia. Mengapa dalam menyalurkan aspirasi, yang semestinya bisa dilakukan dengan tertib, justru sering berujung pada kekerasan dan kerusakan? Pertanyaan ini sejatinya sudah tercatat dalam kisah penciptaan manusia, ketika malaikat bertanya kepada Allah tentang makhluk baru yang akan ditempatkan di bumi.
“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?” (QS. Al-Baqarah: 30).

Dalam Kajian Kalam Subuh bertema Fikih Lingkungan Hidup di Masjid Al Huda, Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, Sabtu (30/8/2025), Ustaz Taufik Januwardi, Lc. Menjelaskan dalam ayat itu malaikat bukan sedang memprotes. Berbeda dengan manusia, malaikat adalah makhluk yang diciptakan tanpa hawa nafsu dan paling taat kepada Rabb-nya.

Menurut Ustaz Taufik, kata khalifah dalam bahasa Arab berarti pemimpin. Dalam pengertian lain, khalfun artinya “di belakang” atau “pengganti”. Seorang pemimpin perlu diganti oleh yang lain karena manusia memiliki potensi untuk berlaku zalim. “Itulah mengapa kepemimpinan harus terus berganti,” ujar Direktur Multazam PCM Rawamangun–Pulogadung tersebut.
Tidak diragukan lagi bahwa malaikat diciptakan lebih dahulu dibanding manusia. Allah Ta’ala menjelaskan dalam berbagai ayat bahwa Dia menciptakan manusia dari tanah, lalu memerintahkan malaikat untuk bersujud kepadanya ketika penciptaannya telah sempurna. Ini menjadi dalil nyata bahwa malaikat ada sebelum manusia.
Dari sinilah dapat dipahami mengapa malaikat sempat mempertanyakan penciptaan manusia. Mereka seolah-olah lebih dulu mengetahui bahwa makhluk yang diberi akal sekaligus hawa nafsu akan membawa potensi besar, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Adapun dua potensi besar yang dikhawatirkan dari manusia, sebagaimana disebut dalam ayat tersebut, adalah merusak alam (lingkungan hidup dan sosial) serta menumpahkan darah sesamanya.
Dalam kehidupan modern yang serba praktis dan pragmatis, persoalan lingkungan kian kompleks. Polusi udara, pencemaran air, deforestasi, hingga perubahan iklim menjadi isu besar yang menuntut perhatian serius. Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat dalam solusi—baik melalui kesadaran pribadi, keterlibatan sosial, maupun kebijakan kolektif yang menjaga kelestarian bumi.


