KARTUN kerap diIdentikkan dengan dunia anak. Warna cerah, tokoh lucu, dan jalan cerita sederhana membuatnya disenangi anak-anak. Orang tua pun mengira semua film kartun aman untuk anak. Padahal, sebagian tayangan justru berisi kekerasan dan pesan yang tidak sesuai usia. Tanpa sadar anak-anak bisa terpapar dan meniru apa yang disajikan film tersebut.
Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat periode 2022–2025, Evri Rizqi Monarshi, menyampaikan keprihatinannya dalam acara Diseminasi Indeks Kualitas Program Siaran Televisi di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah Jakarta, Jumat (10/10/2025). Dia mengingatkan agar orang tua tidak membiarkan anak menonton televisi tanpa pendampingan, termasuk menonton kartun.
Sayangnya, dalam praktik yang terjadi adalah kebalikannya. Memang, sebagian anak akhirnya bisa teralihkan dari kekerasan film kartun. Tetapi mereka harus menemani orang tua nonton tayangan dewasa, yang tak jarang juga menampikan adegan kekerasan fisik maupun verbal.
“Idealnya orang tua mendampingi anak menonton tayangan televisi. Tapi kenyataannya, anak justru menemani orang tuanya nonton sinetron,” ujarnya.

Evri menggambarkan bagaimana sebagian ibu rumah tangga bisa menonton sinetron berjam-jam sambil menyuapi anak, tanpa sadar menayangkan konten dewasa di depan mereka.
Ia mengingatkan, kebiasaan semacam itu dapat memengaruhi psikologi anak karena mereka terbiasa menyerap tayangan yang bukan untuk usia mereka. Tidak hanya sinetron, sejumlah film kartun juga mengandung kekerasan fisik seperti menonjok, menendang, atau menjambak.
“Berdasarkan hasil pemantauan KPI, ada kartun yang berbahaya karena penuh adegan kekerasan dan perilaku berisiko,” kata Evri.
Ia mencontohkan perilaku anak-anak yang meniru tokoh superhero setelah menonton televisi. “Keponakan saya pernah naik ke tempat tinggi lalu melompat karena ingin seperti pahlawan di TV,” ujarnya.
Menurutnya, jika kartun mengandung pesan moral, mendidik, dan bebas dari kekerasan serta pornografi, maka tayangan tersebut tergolong aman untuk anak. Sebaliknya, bila mengandung unsur negatif, stasiun televisi wajib menempatkannya di jam tayang dewasa dan diawasi ketat oleh regulator.
KPI menilai peran orang tua tetap penting dalam mendampingi anak saat menonton. Pendampingan bukan hanya untuk melindungi dari konten negatif, tetapi juga untuk membantu anak memahami pesan positif dan memperkuat komunikasi keluarga melalui diskusi sederhana tentang tayangan yang mereka tonton.
Pendampingan seperti itu dapat mengarahkan anak untuk menangkap nilai moral, belajar membedakan benar dan salah, serta menumbuhkan kreativitas dari tontonan yang benar-benar sesuai usianya.


