SI pendosa malah bertanya dengan sombongnya,
“Ah, jasa apa yang kalian berikan pada negara?”
“Negara adalah saya,” katanya berkacak pinggang—
padahal sudah tua, tapi rambutnya selalu hitam.
“Hukum adalah saya,” lanjutnya dengan lagak tinggi.
“Kalian cukup dengan sembako dan gratisan kecil-kecilan.”
“Aku adalah kekuasaan yang negara berikan.”

Besoknya, si jahanam yang menamakan diri Negara, Kuasa, dan Harta—
di bawah kerja sama tentara, polisi, dan birokrasi negara
di seantero sudutnya—mati.
Saya tak sudi mendoakan.
Eh, rupanya si jahanam masih bersuara,
“Kalian tidak Pancasilais, agamis, dan tenggang rasa!”
Mati kowe!
Tutup narasimu yang diksinya bak kaleng diterjang angin,
yang kini menurunkan hujan, longsor, dan badai.
Pohon dan alam telah diperintahkan membunuhmu,
hai perakus kuasa dan penumpuk harta
di balik kegombalan ideologi PKI —
Pokoke Kantong Isi.


