Oleh Lambang Saribuana | Ketua Lazismu DKI Jakarta
HARI Senin, 12 Januari 2025, pukul 06.00 pagi. Saya berlari kecil dari Musala Nurul Hidayah menembus hujan yang turun sangat lebat, menutup mentari sehingga tak tampak berseri. Tak terdengar suara anak-anak berangkat sekolah, tak ada kendaraan lalu-lalang. Hanya suara hujan yang menghantam bumi tanpa jeda. Jalanan pun tergenang air hingga semata kaki.
Meski basah kuyup, saya harus segera pulang. Pagi itu saya sudah berjanji bertemu dengan Ibu Elo Albugis, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah DKI Jakarta, dan Ibu Endang Pudyastuti, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Jakarta Timur.
Ibu Syamsidar, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Jakarta Pusat, seharusnya juga hadir. Namun beliau izin karena harus berangkat ke lokasi bencana banjir di Medan, Sumatra Utara.
Dalam hati, saya ingin sekali agar pertemuan ini dijadwalkan ulang. Tapi entah mengapa, saya tidak cukup berani mengatakannya. Saya hanya mencoba mengirim pesan kepada Ibu Elo, berharap beliau berkenan menunda pertemuan. Namun jawaban beliau justru membuat saya terdiam:
“Saya sudah siap mau jalan, Pak Lambang. Tapi hujan. Tunggu reda sedikit, saya jalan.”

“Waduh… ibunda kita tetap memaksa datang,” kata saya dalam hati.
Padahal jarak dari Ciputat ke Tebet (Kantor PWA) tidak dekat, dan hujan masih sangat lebat. Pasti macet di mana-mana.
Saya lalu mencoba menghubungi Ibu Endang, berharap beliau bersedia reschedule sehingga saya punya alasan kuat untuk menunda pertemuan.
Jawabannya justru lebih mengejutkan:
“Tepat waktu ya, Pak. Karena jam 11 Ibu ada acara di TK Aisyiyah.”
Saya terdiam. Dua perempuan hebat, pikir saya.
Bukan hanya tepat waktu, tetapi memiliki komitmen yang kuat untuk membesarkan persyarikatan. Meski hujan deras, mereka tetap datang.
Komitmen untuk berbuat kebaikan dalam bingkai Muhammadiyah mengalahkan kenyamanan pribadi. Semangatnya mengalahkan guyuran air hujan dan banjir.
Dan akhirnya saya pun—dengan “terpaksa”—harus mengimbangi komitmen mereka. Jujur saja, saat itu saya sempat malas meeting pagi di tengah hujan lebat.
Pukul 09.53 saya sudah tiba di lokasi, bersamaan datangnya dengan Mbak Farahdiba Eva. Tak sampai sepuluh menit kemudian, Ibu Endang datang. Disusul Ibu Elo.
Saya hanya bisa bergumam dalam hati, “Luar biasa… perempuan-perempuan senior didikan Muhammadiyah ini memang luar biasa. Jarang sekali saya bertemu senior dengan komitmen setinggi ini.”
Kami pun memulai rapat. Banyak hal dibicarakan, salah satunya tentang keinginan Pimpinan Wilayah Aisyiyah DKI Jakarta untuk mendirikan Kantor Layanan Lazismu. Rapat berlangsung hangat, ditemani kopi dan combro.
Seusai pertemuan, Ibu Endang memanggil dan menghampiri saya saat hendak pulang. “Pak Lambang…,” katanya.
Kalimat itu masih terngiang dan saya ingat betul:
“Pak Lambang, lanjutkan pekerjaan kita dengan Bu Elo, ya. Saya pergi dulu.”
Saya bertanya, “Pergi ke mana, Bunda?”
“Pergi jauh dan lama,” jawab beliau.
Saya bertanya lagi, “Jauh ke mana, Bunda?”
Beliau berhenti sejenak, mengatur napas, seolah enggan menjawab pertanyaan saya yang setengah memaksa.
Lalu dengan suara lirih beliau berkata,
“Ke Kuala Lumpur.”
Beberapa hari kemudian, lewat pesan WhatsApp dari Prof. Arief—putra bungsu beliau—saya mendapat kabar duka. Ibu Endang Pudyastuti telah berpulang pada 25 Januari 2026 di sebuah rumah sakit di Kuala Lumpur akibat serangan jantung.
Saat itulah saya baru benar-benar memahami kenapa beliau bersikeras harus ketemu saya: ternyata beliau hendak “pamitan”.
Pergi jauh…dan lama.Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah kuburnya, bersihkanlah dia dari dosa sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari kotoran, gantikanlah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, pasangannya dengan pasangan yang lebih baik, masukkanlah dia ke surga, dan lindungilah dia dari azab kubur serta siksa neraka.” (HR. Muslim) (*)


