Madu Pahit Nenden — Bagian 16: Pria Malaysia

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

TAHUN 2025 datang dengan ritme yang lebih cepat, membawa Nenden pada puncak kematangan usianya, tiga puluh lima tahun. Dalam biologi perkembangan, ini adalah fase prime, di mana kapasitas kognitif dan ketahanan emosional seseorang mencapai titik ekuilibrium yang stabil. Megamendung, daerah yang dahulu hanya ia kenal sebagai tempat pelarian dari dinginnya perlakuan Andrinov, kini menjadi saksi bisu transformasinya menjadi tulang punggung keluarga.

Nenden telah menjelma menjadi manifestasi dari teori Resiliensi Ekonomi. Di atas bahunya, beban rumah tangga bertumpu hampir sepenuhnya. Ia membayar token listrik yang menghidupkan cahaya di rumah Iis, memastikan dapur tetap mengepul, dan mengawasi pendidikan ketiga anaknya. Nabila dan Firly telah menginjak jenjang sekolah menengah atas—fase remaja yang menuntut biaya sosial dan akademik yang tinggi. Sementara si kecil Ahza, penglipur lara hatinya, sudah mulai mencicipi bangku Taman Kanak-Kanak dan bersiap menuju jenjang Sekolah Dasar.

Iis masih setia dengan butiran beras ketannya di pasar, namun pendapatannya kini hanya cukup untuk memutar modal dan membiayai kebutuhan pribadinya serta Isma. Ada satu ganjalan di hati Nenden: ruko milik Iis yang terletak persis di samping ruko barunya masih tergadai pada pihak lain. Iis belum sanggup menebusnya, menjadikannya pengingat akan masa-masa sulit yang pernah meluluhlantakkan ekonomi mereka.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ruko Nenden berdiri kokoh di pinggir jalan alternatif menuju Puncak. Bangunan itu bukan sekadar tempat pertukaran komoditas, melainkan sebuah laboratorium sosiologis. Di sana, Nenden bertemu dengan spektrum manusia yang beragam. Setiap hari, pintu rukonya terbuka bagi kaum hawa dari berbagai strata sosial.

Ada para pemandu lagu (Lady Escort) yang datang dengan aroma parfum menyengat dan gurat kelelahan di balik riasan tebal. Ada pula para “mak comblang” yang selalu sibuk dengan ponsel mereka, menjajakan profil para janda kepada lelaki-lelaki yang mencari istri muda atau sekadar kesenangan sesaat. Nenden memperlakukan mereka semua dengan adab yang sama, memegang teguh falsafah Sunda: “Someah hade ka semah, bari tetep nyekel deleg diri”—ramah kepada tamu, namun tetap menjaga kehormatan diri sendiri.

Melalui layar digital, jaringan dagang Nenden meluas lintas pulau. Dari Medan, Bontang, hingga Batam, ia terhubung dengan para diaspora Bogor. Di antara pelanggan setianya, terdapat perempuan-perempuan yang dalam struktur sosial sering dipandang sebelah mata: para “mami” yang mengelola bisnis hiburan malam di kota-kota besar tersebut.

Para pelanggan dari jaringan hiburan malam ini memiliki pola perilaku ekonomi yang unik. Dalam teori Veblenian Consumption, mereka berbelanja bukan berdasarkan nilai guna (utility), melainkan berdasarkan kepuasan emosional dan prestise.

“Nen, kirim yang paling bagus. Harga tak jadi soal, yang penting mereknya asli dan modelnya terbaru,” begitu sering pesan yang masuk ke WhatsApp Nenden.

Bagi mereka, uang adalah entitas yang mengalir cepat (easy come, easy go). Mereka tidak melihat harga, melainkan melihat cermin identitas yang ditawarkan oleh selembar pakaian. Nenden memanfaatkan celah ini dengan cerdik. Berkat jaringannya di grosir Blok A Tanah Abang yang masih solid, ia mampu mendapatkan barang bermerek dengan harga miring dan menjualnya dengan margin yang menguntungkan.

Ucapan Adam Smith dalam The Wealth of Nations relevan untuk menggambarkan hal ini: “Bukan karena kebaikan hati tukang daging, pembuat bir, atau tukang roti kita mengharapkan makan malam kita, melainkan karena perhatian mereka pada kepentingan diri mereka sendiri.”

Nenden berbisnis dengan kepentingan untuk menyambung hidup, namun ia melakukannya tanpa mengorbankan integritas. Ia tidak menghakimi latar belakang uang pelanggannya, namun ia memastikan barang yang ia jual adalah akad yang jujur.

Meski ekonomi rumah tangga ia pegang, peran para ayah tetap ada sebagai variabel pelengkap. Daniel tetap mengirimkan biaya sekolah Nabila, sebuah kewajiban yang dijalankan secara mekanis. Sementara Andrinov masih membiayai kebutuhan Ahza, meski Nenden tahu setiap rupiah dari Andrinov sering kali dibumbui dengan harapan-harapan manipulatif untuk kembali menjeratnya.

Nenden menatap deretan pakaian di rukonya. Ia sadar, kemandirian finansial yang ia bangun selama dua tahun menjanda adalah “benteng pertahanan” yang sesungguhnya. Ia teringat ucapan Imam Al-Ghazali: “Kemuliaan itu ada pada kemandirian dari meminta-minta kepada manusia.”

Sore itu, saat kabut mulai turun di Megamendung, Nenden menghitung laba hariannya. Di sampingnya, Nabila membantu merapikan stok. Ada rasa bangga di hati Nenden. Ia kini adalah pemilik takdirnya sendiri.

Namun, di balik kesuksesan itu, Nenden tetaplah seorang ibu yang waspada. Ia tahu, di antara para pelanggan Lady Escort dan para mami itu, ada risiko sosial yang mengintai. Ia harus memastikan anak-anaknya—terutama Nabila yang kian jelita—tidak tergiur oleh gemerlap uang cepat yang sering kali berujung pada madu yang lebih pahit dari apa yang pernah ia reguk.

Sore itu, di halaman ruko Megamendung yang mulai diselimuti pendar lampu jalan, Nenden mendapati sebuah pemandangan yang membuat jantungnya berdegup kencang oleh alarm kecemasan. Nabila, putri sulungnya yang kini telah mekar menjadi remaja cantik, tampak sedang berbincang dengan seorang pemuda di atas motor. Ada tawa malu-malu dan tatapan yang dalam psikologi disebut sebagai limerence—fase awal ketertarikan romantis yang sering kali membutakan nalar.

Tanpa menunggu waktu, Nenden melangkah keluar. Aura otoritasnya sebagai ibu dan kepala keluarga terpancar kuat. Ia mengusir pemuda itu dengan ketegasan yang tak bisa dibantah. Setelah deru motor itu menjauh, Nenden memalingkan wajahnya ke arah Nabila.

“Nabila, jangan pacaran dulu! Konsentrasi belajar. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang dan luas!” ujar Nenden. Suaranya tidak hanya mengandung kemarahan, tetapi juga getaran kecemasan yang mendalam.

Nenden menatap mata Nabila yang mulai berkaca-kaca. Di dalam benak Nenden, sedang terjadi apa yang dalam sosiologi disebut sebagai upaya memutus Intergenerational Trauma (trauma antargenerasi). Ia melihat sebuah pola yang mengerikan: Iis, ibunya, mengalami kegagalan pernikahan dan harus berjuang sendiri di pasar. Dirinya sendiri pun, Nenden, harus menelan empedu dari dua pernikahan yang hancur.

Ia tidak ingin Nabila menjadi mata rantai ketiga dalam siklus penderitaan ini. Ia tidak ingin Nabila mengenal “madu” yang manis di bibir namun berujung racun di hati sebelum mentalnya siap.

“Bunda tidak melarangmu untuk dicintai,” lanjut Nenden, suaranya kini melunak namun tetap kokoh. “Tapi Bunda ingin kamu menjadi wanita yang diperhitungkan. Wanita yang memiliki positioning kuat secara intelektual dan finansial. Biarkan nasib menjanda dan berjuang berdarah-darah ini hanya berhenti di Bunda dan Nenekmu.”

Ucapan Nenden ini mengingatkan orang pada ucapan filsuf Simone de Beauvoir: “Wanita yang mandiri adalah mereka yang mampu menentukan nasibnya sendiri tanpa harus meminta izin dari dunia yang dikuasai laki-laki.” Nenden ingin Nabila menjadi subjek, bukan objek. Ia ingin Nabila memiliki suami yang menghormatinya karena kualitas dirinya, bukan sekadar memandangnya sebagai pelayan biologis atau beban ekonomi.

Dalam kesendirian malam setelah pertengkaran itu, Nenden merenung di depan jendela. Ia teringat falsafah Sunda “Kudu ngaji diri, ngaji rasa”. Harus mampu memeriksa diri sendiri dan perasaan sendiri. Ia sadar bahwa tindakannya tadi mungkin terasa kasar bagi remaja seusia Nabila, namun ia merasa bertanggung jawab atas “DNA nasib” keturunannya.

Secara ilmiah, masa remaja adalah periode Neuroplastisitas yang tinggi, di mana pengaruh lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter jangka panjang. Nenden ingin mengalihkan energi libidinal Nabila menjadi energi akademik dan wirausaha.

“Ya Allah,” bisik Nenden dalam doanya, “Jadikanlah Nabila lebih mulia dariku. Jangan biarkan ia merasakan pahit yang kurasakan.”

Baginya, kemandirian bukan hanya soal saldo di bank, tapi soal keberanian untuk berkata “tidak” pada lelaki yang tidak membawa kebaikan. Ia ingin Nabila memahami bahwa cinta yang sehat hanya bisa tumbuh di antara dua manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Kesuksesan bisnis pakaiannya saat ini adalah modal baginya untuk menyekolahkan Nabila setinggi mungkin. Ia ingin Nabila melihat bahwa ruko di Megamendung ini adalah bukti bahwa wanita bisa tegak berdiri meski badai menerjang. Ia ingin Nabila menjadi wanita yang sukses, terpelajar, dan mandiri—sebuah antitesis dari sejarah kelam keluarga mereka.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This