KEMATIAN, ayat Tuhan itu datang tanpa suara, hadir tanpa isyarat. Begitu senyap dan lekas. Tak ada satu jua manusia yang mampu meraba detaknya, mencium napasnya. Ia adalah bagian paling kasap dari etape hidup manusia. Sebuah tirai dan selubung Ilahiyah. Kedatangannya begitu natur bahkan nurtur.
Hari itu, Selasa (14/10/2025), Jalan Gading Raya, Pisangan Timur, Rawamangun, Jakarta, menjadi saksi langkah-langkah keluarga besar Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KAUMY) Pengda DKJ yang menapak menuju rumah duka. Mereka hadir untuk bertakziyah atas kepergian Ahmad Samir Safiq. Sosok bersahaja itu adalah pendiri UKM Musik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada medio 1995.
Ketua Umum terpilih KAUMY DKJ periode 2025-2030, Wahyu Sandhya, menegaskan bahwa KAUMY memiliki komitmen untuk hadir dalam setiap problem sosial kemanusiaan yang menimpa anggota. “Jika salah satu anggota kami sedang ditimpa musibah, duka itu menjadi duka bersama,” ujarnya.
Wakil Ketua Perawati menambahkan, kehadiran keluarga besar di momen ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Tak hanya hadir secara fisik, KAUMY DKJ juga menyerahkan donasi yang dikumpulkan dari anggota kepada Ida, istri almarhum, sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moral.

“Semoga langkah kecil ini menjadi cahaya yang menuntun langkah kita bersama,” ujar Fahmi Firmansyah, salah satu pengurus KAUMY DKJ.
Penulis: Bara Pattyradja | Sekjen KAUMY DKJ


