Peran Sentral Haji Mas Djamhari dalam Sejarah Muhammadiyah Jawa Barat

Must Read

BANDUNG, JAKARTAMU.COM |  Haji Mas Djamhari adalah tokoh sentral dalam sejarah Muhammadiyah di Jawa Barat. Ia merupakan figur multitalenta yang berperan besar dalam dakwah, pendidikan, dan pelestarian seni budaya di Garut serta wilayah lainnya di Jawa Barat.

“Sosok ini adalah perpaduan unik antara pengusaha sukses, pejuang, filantropis, sekaligus pencinta seni,” ujar Sopaat Rahmat Selamet, sejarawan Universitas Muhammadiyah Bandung, dalam wawancara virtual pada Rabu (5/11/2025).

Menurut dosen Fakultas Agama Islam UM Bandung ini, salah satu karya penting Haji Mas Djamhari adalah pendirian Tjikoeraj Drukkerij (Percetakan Cikuray). Lembaga ini menjadi pusat penerbitan surat kabar perjuangan dan buku pelajaran agama Muhammadiyah yang berpengaruh besar terhadap penyebaran gagasan pembaruan Islam.

Selain mengelola percetakan, Djamhari aktif mendirikan madrasah dan sekolah, termasuk Madrasah Al-Hidayah yang kemudian menjadi cikal bakal amal usaha Muhammadiyah di Jawa Barat.

Milad 117 H Muhammadiyah

Perannya melampaui batas lokal karena memiliki jaringan luas dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Ahmad Dahlan, H.O.S. Tjokroaminoto, Syech Ahmad Soorkati, Haji Agus Salim, Abdul Muis, KH Mustafa Kamil, Buya Hamka, dan Adam Malik. “Keterlibatannya menunjukkan bagaimana tokoh daerah berperan sebagai penghubung antara gerakan di akar rumput dengan pusat organisasi di Yogyakarta dan Jakarta,” ujar Sopaat.

Sebagai pengusaha batik dan saudagar, Djamhari memanfaatkan sumber ekonominya untuk mendukung kegiatan dakwah dan pendidikan. Menurut Sopaat, cara itu menunjukkan bahwa bisnis dan dakwah dapat berjalan berdampingan. Ia dikenal dermawan dan sering memberikan bantuan dana bagi lembaga pendidikan maupun para pejuang Islam, dengan keyakinan bahwa kekuatan ekonomi adalah bagian penting dari kemajuan umat.

Selain aktivitas sosial dan keagamaan, Djamhari memiliki bakat seni yang kuat. Ia dikenal mencintai musik klasik dan memiliki sentuhan arsitektur dalam pembangunan masjid. Bakat itu diteruskan oleh anak-anaknya, di antaranya Ahmad Sadali dan Achmad Noe’man. Sadali dikenal sebagai pelukis abstrak dan dosen FSRD ITB, sementara Noe’man dikenal sebagai arsitek “Seribu Masjid”. Cucu Djamhari, Fauzan Noe’man, juga dikenal dalam bidang arsitektur.

Sopaat menjelaskan bahwa Djamhari menaruh perhatian besar pada kaderisasi generasi muda. Melalui pendidikan formal seperti Madrasah Al-Hidayah, ia membangun sistem pembinaan kader yang terstruktur dan berkelanjutan agar dakwah Muhammadiyah terus berkembang.

Ia memandang perjuangan Haji Mas Djamhari sebagai teladan keteguhan iman dan kesabaran yang berakar pada ajaran Al-Qur’an. Setiap langkah perjuangan, baik dalam bisnis, dakwah, maupun pendidikan, berlandaskan nilai-nilai spiritual yang kuat.

Sopaat menilai, sejarah perjuangan tokoh seperti Haji Mas Djamhari perlu terus dikaji dan didokumentasikan. “Sejarah yang terdokumentasi dengan baik bukan hanya warisan, tapi juga alat untuk merumuskan strategi dakwah dan pendidikan masa depan, agar nilai-nilai perjuangan para pendiri tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,” ujarnya.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This