JAKARTAMU.COM | Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta melakukan rihlah ke Yogyakarta pada 23–24 Januari 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk menelusuri langsung jejak sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan dan kelahiran Muhammadiyah di sejumlah situs penting.
“DKI Jakarta adalah PWM pertama yang secara resmi melakukan kunjungan ke situs-situs bersejarah Muhammadiyah setelah dikelola yayasan,” kata Wakil Ketua PWM DKI Jakarta Supriyadi Karsim, Minggu (25/1/2026).
Rombongan berjumlah 16 orang tersebut diterima jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yakni Agung Danarto, Agus Taufiqurrahman, Muhammad Sayuti, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah. Pertemuan berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Jumat sore (23/1).
Agung Danarto berharap kunjungan PWM DKI Jakarta tidak berhenti pada kantor pusat persyarikatan yang dikenal sebagai peninggalan AR Fachruddin. Ia mendorong rombongan menyambangi situs-situs lain yang merekam sejarah awal Muhammadiyah.

“Mudah-mudahan selain ke kantor PP Muhammadiyah juga bisa berkunjung ke berbagai tempat yang memiliki kaitan historis dengan persyarikatan Muhammadiyah,” ujar Agung.
Baca juga: KH Ahmad Dahlan sebagai Teladan Inovasi Kepemimpinan
Hal senada disampaikan Agus Taufiqurrahman yang merekomendasikan Kampung Kauman sebagai salah satu tujuan utama. Menurutnya, Kauman merupakan bagian dari tiga kawasan awal tumbuhnya Muhammadiyah, bersama Kotagede dan Karangkajen. Di kawasan ini terdapat sejumlah penanda sejarah penting, seperti Masjid Gede, Langgar Kidul, Pondok Pesantren Mu’allimat, hingga Rumah Sakit PKU.

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah menguatkan pentingnya Kauman dalam sejarah Muhammadiyah. Sebagai warga asli Kauman, ia menilai kawasan tersebut menyimpan jejak kuat perjuangan dakwah, termasuk gerakan emansipasi perempuan yang dirintis KH Ahmad Dahlan bersama Nyai Siti Walidah.
“Di Kauman ada musala putri yang sejak dulu menjadi ruang belajar perempuan. Tidak hanya mengaji, tetapi juga berlatih berpidato, belajar keterampilan, sampai urusan ekonomi,” kata Salmah.
Menurut Supriyadi, tema rihlah ini adalah Dari Langgar Kidul untuk Indonesia. Tema tersebut dipilih karena banyak pimpinan dan kader Muhammadiyah yang belum mengenal secara utuh latar sosial dan sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan.

Rangkaian kunjungan meliputi Yayasan Ahmad Dahlan, Makam Karangkajen, Museum Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan, rumah HM Muchlas Abror, hingga rumah Prof. Dr. HM Amien Rais. Rombongan juga menelusuri rumah sederhana KH Ahmad Dahlan di gang sempit kawasan Kauman, serta rumah di Jalan Kiai Maja yang diberikan Presiden Soekarno pada 1961 setelah KH Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Ziarah ke makam Nyai Siti Walidah Ahmad Dahlan turut menjadi bagian dari agenda.
Dari kunjungan tersebut, Supriyadi menyebut para peserta melihat langsung kesederhanaan hidup KH Ahmad Dahlan. Dari lingkungan kampung yang sempit dan bersahaja, lahir gagasan-gagasan besar yang kemudian membentuk Muhammadiyah.
“Beliau memulai dari pengamatan sosial yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakatnya, lalu mengolahnya dengan pemahaman Al-Qur’an yang mendalam,” ujar Supriyadi.
Muhammadiyah pada awal berdiri hanya memiliki empat bidang utama, yakni tablig, Penolong Kesengsaraan Oemat (PKO), pendidikan, dan sosial. Meski menghadapi penolakan dan tantangan di masa awal, persyarikatan ini kemudian berkembang ke luar Yogyakarta, termasuk ke Jawa Timur dan Jakarta. Pada 1921, Muhammadiyah berdiri di Jakarta sebagai Cabang Betawi.
“Siapa yang menyangka dari gang sempit itu lahir organisasi besar yang kini diakui kiprahnya di berbagai bidang,” kata Supriyadi.
Ia menambahkan, amal usaha Muhammadiyah saat ini telah membuka lapangan kerja luas, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar Indonesia. Dari perjalanan tersebut, Supriyadi mendorong agar kader Muhammadiyah mengikuti teladan keikhlasan, kesabaran, dan konsistensi yang ditunjukkan KH Ahmad Dahlan dalam menghadapi tantangan.
“Tidak gampang menyerah menghadapi rintangan,” ujarnya.
Supriyadi berharap kegiatan napak tilas ini dapat menjadi inspirasi bagi wilayah Muhammadiyah lain untuk mengenal sejarah persyarikatan secara lebih dekat dan kontekstual.


