Oleh Miftah H. Yusufpati
RUMAH di kawasan Cibubur itu, yang semula dianggap sebagai benteng perlindungan, perlahan-lahan berubah menjadi sangkar dengan jeruji emas yang dingin. Waktu mengalir mengikuti hukum Entropi, segala sesuatu bergerak menuju kekacauan jika tidak ada energi baru yang memperbaikinya. Pertahanan batin Nenden, yang selama setahun pasca-kelahiran Ahza berdiri kokoh laksana dinding benteng Konstantinopel, akhirnya mulai retak di bawah tekanan realitas ekonomi yang pragmatis.
Nenden adalah seorang pemikir yang sadar akan posisi sosiologisnya. Dalam keheningan malam, ia sering melakukan kalkulasi yang menyakitkan. Ia menimbang “untung-rugi” sebuah perpisahan melalui lensa teori Pilihan Rasional atau Rational Choice Theory. Jika ia pergi, ke mana ia akan membawa Nabila yang beranjak remaja dan Ahza yang sedang dalam masa pertumbuhan pesat? Di Cipayung, Iis hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan beras ketan di pasar Cisarua—sebuah usaha mikro yang omzetnya hanya cukup untuk membiayai dirinya sendiri, Isma, dan Firly.
Nenden teringat ucapan Aristoteles: “Kemiskinan adalah orang tua dari revolusi dan kejahatan.” Ia takut, jika ia memaksakan idealisme untuk cerai tanpa kemandirian finansial, ia justru akan menjerumuskan anak-anaknya ke dalam jurang penderitaan yang lebih dalam.

Maka, ketika Ahza memasuki usia satu tahun, benteng itu runtuh. Malam itu, Andrinov datang bukan dengan kekerasan, melainkan dengan rayuan yang dibungkus pemenuhan kebutuhan materi. Nenden menyerah. Ia menyerahkan raganya, meski jiwanya tetap berada di tempat lain. Sekali ia membiarkan pintu itu terbuka, setelahnya segala hal menjadi rutin yang mekanis. Hubungan suami-istri itu berubah dari penyatuan sakral menjadi sekadar transaksi biologis demi kelangsungan hidup.
“Kenapa kau begitu pasrah sekarang, Nenden?” tanya Andrinov suatu malam, suaranya mengandung nada kemenangan yang pongah.
Nenden hanya menatap langit-langit kamar. Ini dekat denga napa yang dikatakan Imam Al-Ghazali: “Barangsiapa yang tidak mampu bersabar atas pahitnya ujian, maka ia tidak akan pernah merasakan manisnya kemuliaan.” Nenden sedang menelan empedu demi anak-anaknya.
Meski demikian, pengkhianatan Andrinov terhadap janji setianya tidak pernah berhenti. Beberapa kali Nenden mendapati plastik klip transparan berisi butiran putih atau aroma kimia yang menyengat di saku pakaian suaminya. Nenden mengancam, ia berteriak, ia menangis. Namun, dalam psikologi adiksi, ancaman tanpa konsekuensi nyata hanya akan dianggap sebagai background noise atau angin lalu oleh sang pecandu. Andrinov tahu Nenden bergantung padanya, dan ketergantungan itulah yang ia jadikan senjata untuk terus berkubang dalam kemaksiatan.
Dua tahun kemudian, sebuah tragedi kecil terjadi. Nenden hamil untuk ketiga kalinya. Namun, dalam usia kandungan yang masih sangat muda, tubuhnya menolak kehidupan itu. Ia mengalami keguguran. Secara medis, stres kronis yang meningkatkan kadar kortisol dalam darah dapat mengganggu stabilitas progesteron yang dibutuhkan untuk mempertahankan janin. Kematian janin itu menjadi titik balik bagi Nenden. Ia merasa Tuhan sedang memberinya isyarat melalui bahasa tubuh yang paling ekstrem.
Kala itu, Ahza sudah berusia dua tahun dan Nabila telah tumbuh menjadi gadis sebelas tahun yang mulai mengerti arti kesedihan di mata ibunya. Nenden merasa tidak bisa lagi hidup dalam kemunafikan ini. Falsafah Sunda “Mending mawa lulun samak, tibatan mawa lulun rupa”—lebih baik membawa tikar (pergi dengan membawa apa adanya) daripada membawa rupa yang menanggung malu dan dosa—mulai merasuki kesadarannya.
Suatu sore yang pengap, konfrontasi itu mencapai puncaknya. Nenden mendesak Andrinov dengan tuntutan cerai yang tak bisa ditawar lagi. Andrinov, yang saat itu sedang dalam kondisi intoksikasi ringan—setengah mabuk akibat pengaruh zat—kehilangan kesabarannya. Matanya merah, bukan oleh tangis, tapi oleh amarah yang terdistorsi.
“Kau mau cerai? Kau pikir kau bisa hidup tanpa uangku?” bentak Andrinov sambil tertawa meremehkan. “Oke! Kalau itu yang kau mau, saya jatuhkan talak satu kepada kamu! Detik ini juga!”
Kalimat itu meluncur dari bibir Andrinov dengan enteng, seolah-olah ia sedang membuang barang rongsokan. “Nanti saya akan kembalikan kamu ke papamu di Cipanas!”
Mendengar kata “talak”, Nenden tidak merasa hancur. Sebaliknya, ia merasa seolah sebuah beban seberat Gunung Gede Pangrango baru saja diangkat dari pundaknya. Dalam hukum Islam, talak yang dijatuhkan dalam kondisi mabuk menjadi perdebatan di antara para ulama, namun bagi Nenden, itu adalah proklamasi kemerdekaannya. Ia teringat ucapan Ibnu Taimiyah tentang pentingnya menjaga kemaslahatan diri dan agama di atas ikatan yang hanya mendatangkan kemudaratan.
Peristiwa itu terjadi empat tahun lalu. Sebuah momen yang mengakhiri babak madu pahit dalam hidupnya, dan memulai sebuah perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian, namun setidaknya, udara yang dihirupnya kini tidak lagi berbau racun kimia.
***


