PWM Jatim Beri Apresiasi Keluarga Marsinah pada Perayaan Milad Ke-113

Must Read

SURABAYA, JAKARTAMU.COM | Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim) memberikan penghormatan khusus bagi Marsinah. Apresiasi yang diterima langsung oleh keluarga Marsinah dalam peringatan milad ke-113 Muhammadiyah.

Ketua PWM Jatim, Prof. Sukadiono, menyampaikan kehadiran keluarga menjadi bagian penting dari peringatan Milad tahun ini. “Sudah hadir di sini keluarganya, kakak dari Marsinah,” ujarnya.

Marsinah lahir 10 April 1969 di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dari pasangan Astin dan Sumini. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Sejak ibunya wafat ketika ia usia tiga tahun, masa kecilnya dijalani dalam asuhan nenek bersama paman dan bibi. 

Baca juga: MPKU PWM Jatim Dorong Kolaborasi Klinik Muhammadiyah di Ponorogo

Milad 117 H Muhammadiyah

Setelah menamatkan pendidikan di SLTA — termasuk di sekolah yang berafiliasi dengan Persyarikatan — Marsinah merantau ke Surabaya pada 1989. Di sana, ia sempat bekerja di pabrik plastik, dan karena penghasilan tak mencukupi, juga berjualan nasi bungkus untuk menopang kebutuhan hidup. Dia lalu pindah ke kawasan pabrik arloji di Porong, Sidoarjo, yaitu PT Catur Putra Surya (CPS). 

Di PT CPS inilah, Marsinah aktif dalam organisasi buruh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Dia dikenal vokal menyuarakan hak buruh seperti upah layak, pembayaran sesuai ketentuan upah minimum, cuti hamil atau haid, serta hak-hak pekerja lain. 

Baca juga: Prabowo Dukung Pejuang Buruh Marsinah Menjadi Pahlawan Nasional

Awal Mei 1993, ketika pemerintah provinsi mengimbau kenaikan gaji pokok buruh, PT CPS belum melaksanakannya. Marsinah beserta rekan-rekan pun menggelar aksi mogok kerja menuntut implementasi UMR dan penghormatan terhadap hak berserikat. Pada Rabu malam, 5 Mei 1993, Marsinah dilaporkan menghilang. Beberapa hari kemudian jasadnya ditemukan di sebuah gubuk di daerah hutan Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi penuh luka. 

Kematian Marsinah mengejutkan publik dan menjadi salah satu simbol kekerasan terhadap buruh di masa Orde Baru. Kasus ini memantik kecaman luas, terutama dari aktivis HAM dan buruh. Belum lama ini, Marsinah mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Selain apresiasi untuk Marsinah, PWM Jatim juga memberikan penghargaan kepada finalis CRM Award 2025 serta konsolidasi bersama pimpinan daerah. PWM Jatim pun  berencana melaksanakan penandatanganan prasasti gedung Balai Diklat PWM di Prigen, Mojokerto — sebagai wujud kesinambungan komitmen Persyarikatan terhadap pendidikan dan pengkaderan.  Prof. Sukadiono menyebut bahwa seluruh unsur pimpinan akan memaparkan capaian program serta memastikan transparansi pelaksanaan ke depan.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This