Qalqilya, Kota yang Terkurung Tembok Setinggi 8 Meter 

Must Read

PENEMBAKAN yang menewaskan Mohammad Kamal Shreim, remaja Palestina berusia 18 tahun di Qalqilya, Senin (16/2/2026), menyingkap luka panjang kota yang sejak awal 2000-an terkepung tembok pemisah Israel. Peristiwa ini menjadi simbol rapuhnya kehidupan warga Palestina di bawah bayang-bayang beton setinggi delapan meter yang membelah tanah dan masa depan mereka.

Qalqilya, kota berpenduduk lebih dari 65 ribu jiwa, sejak 2003 dikelilingi tembok pemisah dengan menara pengawas militer. Satu-satunya akses keluar masuk dijaga ketat, membuat kota seperti  penjara terbuka. Warga kehilangan lahan pertanian, akses pekerjaan, hingga layanan kesehatan. Ekonomi kota stagnan, pengangguran meningkat, dan aktivitas sosial semakin terbatas.

Israel menyebut tembok tersebut sebagai barrier keamanan untuk mencegah serangan. Namun bagi warga Palestina tembok itu adalah simbol apartheid modern. Di banyak bagian, mural dan grafiti menghiasi dinding, menjadi media perlawanan sekaligus ekspresi harapan akan kebebasan.

Mohammad Kamal Shreim, remaja Palestina berusia 18 tahun di Qalqilya, Senin (16/2/2026). Foto/istimewa

Luka yang Tak Pernah Sembuh

Pada 2004, Mahkamah Internasional (ICJ) menyatakan bahwa pembangunan tembok di wilayah pendudukan Palestina melanggar hukum internasional dan harus dihentikan. PBB melalui Komisi Penyelidikan Independen menegaskan bahwa semua negara memiliki kewajiban untuk mengakhiri keberadaan Israel yang dianggap tidak sah di wilayah pendudukan, termasuk keberadaan tembok pemisah.

Milad 117 H Muhammadiyah

Organisasi hak asasi manusia mengkritik penggunaan kekuatan mematikan terhadap warga sipil di sekitar tembok. Insiden penembakan Shreim adalah membuktikan kebenaran kritik tersebut, menambah tekanan internasional terhadap Israel untuk menghentikan tindakan represif.

Bagi warga Qalqilya, tembok tersebut merupakan ruang konflik yang terus melahirkan tragedi. Setiap insiden menjadi pengingat bahwa mereka hidup dalam keterbatasan yang dipaksakan. Kematian Shreim di dekat tembok pemisah mempertegas bahwa simbol fisik itu adalah luka yang tak pernah sembuh, sekaligus cermin ketidakadilan yang masih berlangsung di Palestina.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This