YOGYAKARTA, JAKARTAMU.COM | Ramadan selalu saja hadir dalam suasana berbeda ketimbang bulan-bulan biasa. Bagi sebagian orang, bahkan waktu terasa berjalan lebih lamban menjelang magrib. Saat itu, biasanya dapur di rumah—rumah masyarakat sedang sibuk-sibuknya, menyiapkan makanan untuk menu berbuka keluarga. Dalam Pengajian Tahrib Ramadan di Yogyakarta, Senin (16/2/2026), mengemuka ajakan untuk mengisi sahur dan berbuka dengan pangan lokal. Hal ini merupakan bagian laku ibadah yang lebih utuh.
Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia Hening Parlan, membuka perbincangan dengan mengingatkan kembali makna dasar puasa. Menurutnya, pengendalian diri selama Ramadan semestinya juga tercermin dalam cara memilih dan mengonsumsi makanan. Manusia, kata dia, punya tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. “Apa yang kita makan adalah bagian dari sikap etis terhadap lingkungan,” tutur Hening.
Manager Program Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI, Puji Sumedi, menempatkan pangan sebagai satu kesatuan dari hulu hingga hilir. Ini berarti mulai dari petani, distribusi, hingga meja makan. Kebergantungan pada bahan pangan impor seperti terigu yang sebenarnya bukan budaya masyarakat Indonesia. Hal ini berdampak pada peningkatan emisi karbon akibat distribusi jarak jauh serta memberi beban pada perekonomian nasional. “Makanlah apa yang kita tanam, dan tanamlah apa yang kita makan,” ajaknya.
Baca juga: Pangan Lokal adalah Pilar Masa Depan Berkelanjutan

Manfaat Kesehatan Puasa
Dari sisi kesehatan, Sutamara Noor mewakili Food Culture Alliance Indonesia (Aliansi Budaya Pangan) mengulas manfaat puasa terhadap metabolisme tubuh dan keseimbangan kolesterol. Namun ia mengingatkan, manfaat itu dapat berkurang apabila pola berbuka tidak terkendali.
Ia menganjurkan konsumsi buah lokal sebagai takjil, membatasi gula sederhana dan pemanis sintetis, memilih karbohidrat kompleks, serta menyusun menu seimbang berbasis pangan lokal.
“Pilihan pangan saat berbuka sangat menentukan kualitas kesehatan kita selama Ramadan,” ujarnya.
Syahrul Ramadhan, Circle Manager GreenFaith Indonesia, memperkenalkan inisiatif Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal. Mengawali program ini, akan ada kampanye di lima masjid percontohan yang tersebar di Kota Makassar, Lamongan, Kota Ternate, Denpasar, dan Medan. Kegiatannya meliputi kultum Ramadan berbasis dalil keagamaan tentang pangan serta penyediaan takjil berbasis bahan lokal dengan pengurangan sampah.
Praktik yang terdokumentasi dari lima lokasi itu akan menjadi materi kampanye publik untuk mendorong penerapan di komunitas lain, termasuk jaringan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Dalam forum ini dibagikan Modul Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal kepada peserta. Modul yang disusun dengan melibatkan sejumlah organisasi pemerhati pangan lokal tersebut memuat panduan serta resep olahan bahan pangan lokal selama Ramadan.


