Ramadan 1447 H Momentum Lazismu Perkuat Tata Kelola Zakat dan Solidaritas Sosial

Must Read

JAKARTAMU.COM | Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah menempatkan Ramadan 1447 Hijriah sebagai fase penguatan solidaritas sosial dan konsolidasi gerakan zakat nasional. Agenda tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujadid Rais, dalam ZISKA Talks Tarhib Ramadan, Kamis (12/2/2026).

“Pesan takwa mengajarkan kita berbuat baik dalam keadaan apa pun, bekerja sungguh-sungguh, menjaga amanah, dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Ramadan juga harus menjadi momentum konsolidasi kekuatan sosial umat,” ujar Mujadid.

Ia mengingatkan bahwa ketakwaan seseorang bukan semata-mata pada dimensi spiritual. Nilai ketakwaan juga tercermin dalam etos kerja, integritas, dan tanggung jawab sosial yang berdampak luas bagi masyarakat.

Program Ramadan, lanjutnya, perlu dirancang memberi efek ekonomi berkelanjutan. Pembagian takjil dan kado Ramadan diarahkan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk kelompok ibu rumah tangga yang terdampak penurunan pesanan.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Program takjil dan kado Ramadan harus menjadi bagian dari pemberdayaan umat. Kita bisa melibatkan UMKM agar roda ekonomi berputar. Ini wujud nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah memberi dampak berkelanjutan,” katanya.

Mujadid mengingatkan, zakat memiliki posisi strategis dalam mewujudkan keadilan sosial. Ia merujuk keputusan Muktamar Muhammadiyah yang menegaskan zakat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan.

“Zakat harus mampu mengubah mustahik menjadi muzakki. Sejumlah riset menunjukkan zakat berkontribusi pada peningkatan Human Development Index dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. Zakat adalah pilar penting pembangunan bangsa,” tegasnya.

Dalam bidang kebencanaan, Lazismu menjalankan program Indonesia Siaga. Selain pada fase tanggap darurat, respons dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Komitmen Muhammadiyah adalah hadir paling awal saat bencana dan menjadi yang terakhir meninggalkan lokasi. Kita membuka layanan darurat dan memastikan ada program rehab serta rekonstruksi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia mencontohkan penanganan gempa di Cianjur, ketika pembangunan fasilitas kesehatan Muhammadiyah tetap berjalan beberapa tahun setelah bencana.

Menurut Mujadid, ketangguhan bangsa bertumpu pada nilai spiritual dan modal sosial gotong royong, sekaligus didukung sistem mitigasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Nilai gotong royong adalah modal sosial yang kuat. Kita perlu membangun sistem mitigasi terencana, edukasi kebencanaan, dan teknologi seperti early warning system. Ketangguhan lahir dari perpaduan iman, solidaritas sosial, dan kesiapsiagaan berbasis ilmu,” katanya.

Empat Agenda Penguatan

Ke depan, Lazismu memfokuskan empat agenda penguatan. Pertama, penguatan ekosistem zakat nasional melalui integrasi antar-lembaga dan inovasi sosial. Kedua, digitalisasi tata kelola dan pelaporan agar profesional, transparan, dan akuntabel. Ketiga, pengembangan model ketangguhan bencana berbasis masjid dan komunitas Muhammadiyah. Keempat, pengarusutamaan zakat dalam arsitektur kebijakan kesejahteraan nasional.

“Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana dana dikelola dan didistribusikan. Transparansi melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal sosial terbesar dalam penguatan filantropi,” ujar Mujadid.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This