JAKARTAMU.COM | Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Prof. Masyitoh Chusnan mengajak umat Islam memaknai puasa sebagai jihad akbar. Ini merupakan sebuah perjuangan besar melawan keserakahan, nasfu tak terkendali yang mendorong perilaku konsumtif dan melalaikan dampaknya pada kelestarian lingkungan. Seruan itu disampaikan dalam kajian bertema pengendalian konsumsi energi yang digelar secara daring menjelang Ramadan 1447 Hijriah, Sabtu (14/2/2026).
Gagasan tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Ngaji Lingkungan bertema Puasa sebagai Etika Pengendalian Konsumsi Energi yang diselenggarakan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Sabtu, 14 Februari 2026.

Prof. Masyitoh meyakini masyarakat sudah memahami bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Bulan suci juga diisi dengan salat tarawih dan membaca Al-Qur’an. Namun yang kerap terlupa adalah Ramadan memperkuat penguatan kepedulian sosial yang semestinya berbuah pada perubahan perilaku, termasuk dalam pengendalian konsumsi serta pengurangan sampah.
“Ramadan adalah momentum untuk membatasi diri, termasuk membatasi konsumsi dan produksi sampah. Ini dakwah yang tampak sederhana, tetapi dampaknya besar,” ujarnya.

Ia menilai pengendalian konsumsi energi selaras dengan esensi Ramadan sebagai bulan pengendalian diri. Manusia, kata dia, memiliki kecenderungan bersikap serakah, namun dibekali iman untuk mengendalikannya. Dalam kerangka itulah puasa dapat dimaknai sebagai jihad akbar, perjuangan menahan dorongan hawa nafsu yang berlebihan.
Baca juga: PP Aisyiyah–Kemendikdasmen Dorong Pemulihan Pendidikan Seusai Banjir Maninjau
Semut dan Lebah
Dalam refleksinya, Prof. Masyitoh mengajak peserta belajar dari makhluk ciptaan Allah. Semut ia sebut sebagai simbol akumulasi berlebihan, sedangkan lebah menjadi teladan karena memberi manfaat tanpa merusak. “Kita perlu meneladani lebah yang memberi tanpa mengganggu,” katanya.
Ia menegaskan, misi LLHPB tidak berhenti pada upaya menjaga lingkungan, melainkan memastikan keberlangsungan hidup manusia melalui lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan nyaman.
“Lingkungan akan berbuat baik kepada kita jika kita berbuat baik kepada lingkungan,” tegasnya.
Prof. Masyitoh mendorong penyusunan panduan sederhana bagi warga ‘Aisyiyah di berbagai tingkatan untuk mengendalikan konsumsi energi dan mengurangi sampah selama bulan suci. Ia juga mengingatkan bahwa Ramadan bukan alasan menurunkan produktivitas. Sejarah menunjukkan berbagai peristiwa penting justru terjadi pada bulan tersebut.
Menurut dia, puasa memuat tiga makna strategis: perjuangan melawan hawa nafsu dan keserakahan, sarana pengendalian diri, serta ruang peningkatan kualitas pribadi. Penguatan spiritual yang berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan, katanya, akan melahirkan kontribusi nyata bagi keberlanjutan kehidupan.
Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah, Rahmawati Husein, menjelaskan, peningkatan sampah selama Ramadan kerap terjadi karena pola konsumsi yang berubah. Sajian berbuka yang berlimpah dan penggunaan plastik sekali pakai memperbesar beban lingkungan. Melalui gerakan Green ‘Aisyiyah, pihaknya mendorong langkah konkret, seperti membatasi penyediaan takjil agar tidak berlebihan, membawa wadah sendiri saat membeli makanan, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Selain pengurangan sampah, penghematan energi juga menjadi perhatian. Penggunaan air untuk wudu dan listrik di rumah tangga meningkat selama Ramadan, seiring intensitas ibadah dan aktivitas malam hari. LLHPB mengimbau warga menggunakan air dan listrik secara efisien, serta memilih moda transportasi ramah lingkungan untuk aktivitas jarak dekat.


