JAKARTAMU.COM | Halalbihalal yang telah mentradisi di Indonesia, bahkan mungkin telah mendunia, merupakan ruang pemulihan emosi yang berdampak langsung pada kesehatan mental. Hal ini disimpulkan dari tausiyah yang disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah Dr. Rohimi Zamzam, S.Psi, SH, M.Pd Psikolog.
“Memaafkan itu menyehatkan. Ketika hati ringan, cara kita berpikir dan bekerja juga berubah,” kata Rohimi dalam Halalbihalal Idulfitri 1447 H MPKU PWM DKI Jakarta di Auditorium RSIJ Cempaka Putih, Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
Interaksi manusia, termasuk dalam organisasi, tidak pernah lepas dari gesekan. Perbedaan pandangan, komunikasi yang tidak utuh, hingga keputusan yang tidak selalu sejalan dengan keinginan kerap meninggalkan jejak emosional. Jika dibiarkan, akumulasi itu membentuk jarak antarindividu dan memengaruhi suasana kerja.
Rohimi menyebut memaafkan berperan sebagai mekanisme pelepasan beban psikologis. Dalam perspektif psikologi, memaafkan berkaitan dengan penurunan kecemasan dan tekanan emosi, sekaligus memperkuat rasa aman dalam relasi sosial. Kondisi ini berdampak pada stabilitas mental seseorang.

Momentum halalbihalal, kata Rohimi, menyediakan ruang kolektif untuk menjalani proses tersebut. Permintaan maaf tidak lagi berlangsung secara personal dan terbatas, tetapi hadir dalam suasana yang memungkinkan pemulihan hubungan secara lebih luas.
Ketika beban emosi berkurang, individu menjadi lebih terbuka dan tidak reaktif. Cara memandang masalah menjadi lebih jernih. Hal ini berpengaruh pada cara seseorang menjalankan amanah di organisasi, termasuk dalam menjaga komitmen dan kedisiplinan.
Ia menekankan bahwa nilai seperti keikhlasan dan tanggung jawab tidak cukup dipahami secara konsep. Nilai tersebut perlu hadir dalam praktik sehari-hari, dan itu lebih mudah terjadi ketika kondisi mental berada dalam keadaan stabil.
Dalam konteks organisasi, kesehatan individu berpengaruh langsung pada dinamika kerja. Konflik dapat dikelola dengan lebih rasional, komunikasi berjalan lebih terbuka, dan koordinasi menjadi lebih efektif. Energi organisasi tidak habis pada persoalan internal, tetapi dapat diarahkan pada pelaksanaan program.
Spirit dan Relasi yang Sehat
Rohimi juga mengaitkan peran majelis kesehatan. Menurutnya, pendekatan kesehatan mesti juga mencakup aspek mental dan sosial. Rumah sakit dan klinik dapat menjadi ruang yang mengintegrasikan ketiganya.
Pengalamannya di sebagai Sekretaris MPKU PP Muhammadiyah telah memberikan banyak informasi dan pengalaman soal dinamika pelayanan kesehatan. Dari sana dia berkesimpulan bahwa profesionalisme dan nilai kemanusiaan dapat berjalan beriringan. Keduanya saling menguatkan ketika fondasinya adalah kepercayaan dan relasi yang sehat.
“Pendidikan juga sama. Saya ini kan juga mengajar PAUD. Jadi, mau seberapa bagus kurikulum dan materi, kalau guru nggak punya spirit ya tidak akan berhasil. Guru yang hadir dengan kesadaran dan nilai akan memberikan dampak yang berbeda bagi peserta didik,” kata dia.


