JAKARTAMU.COM | Krisis kemanusiaan di Darfur, Sudan, makin memburuk setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) melancarkan serangan besar-besaran ke Desa Mistariha, basis pertahanan Musa Hilal, pemimpin suku Al-Mahamid. Serangan yang terjadi pada Senin (23/2/2026) tersebut memaksa ribuan warga sipil meninggalkan rumah mereka di tengah kekerasan yang terus berkecamuk.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah sumber lokal pada Selasa (24/2/2026), setidaknya 2.690 orang telah melarikan diri dari Mistariha dalam 24 jam terakhir akibat meningkatnya ketidakamanan. Saksi mata di lapangan melaporkan pemandangan tragis dengan sedikitnya 28 jenazah ditemukan di sisa-sisa reruntuhan pascaserangan.
Mistariha bukan sekadar permukiman biasa. Wilayah di Darfur Utara ini merupakan markas dari Musa Hilal, sosok kontroversial yang pernah dikenal sebagai salah satu pendiri milisi Janjaweed pada awal dekade 2000-an. Meskipun Hilal sempat menjauh dari pusaran konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) pimpinan Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan RSF pimpinan Mohamed Hamdan Daglo “Hemedti”, pernyataan dukungannya kepada tentara pemerintah baru-baru ini tampaknya memicu kemarahan RSF.
Dampak Kemanusiaan
Seorang sumber medis di Rumah Sakit Kebkabiya, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari lokasi kejadian, menyatakan telah menerima 39 pasien dengan luka tembak dan serpihan peluru. “Seluruh korban menderita luka serius akibat serangan artileri dan rentetan tembakan,” ujarnya kepada kantor berita AFP.

Saksi mata Ahmad Yusuf menceritakan detik-detik mencekam saat pasukannya harus mundur untuk menyelamatkan diri. “Pasukan yang menyerang kami sangat besar. Mereka membombardir desa dengan meriam. Kami terpaksa meninggalkan rumah demi keselamatan jiwa setelah banyak kerabat kami yang tewas,” tutur Ahmad yang melarikan diri bersama putranya.
Ketegangan ini terjadi di tengah sorotan tajam komunitas internasional. Laporan tim pencari fakta independen PBB pekan lalu menyimpulkan adanya indikasi kuat bahwa RSF telah melakukan tindakan yang mengarah pada genosida di Darfur, termasuk pembunuhan terencana berdasarkan etnis dan kekerasan seksual terhadap komunitas non-Arab.
Peta Konflik yang Bergeser
Keterlibatan Musa Hilal dalam konflik ini berpotensi mengubah peta kekuatan di Darfur. Baik Hilal maupun Hemedti berasal dari suku Rizeigat, yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan personel RSF. Namun, suku Al-Mahamid yang dipimpin Hilal merupakan salah satu cabang utama yang memiliki pengaruh besar. Pakar politik Timur Tengah menilai perpecahan internal di lingkaran elit etnis ini dapat memperpanjang daftar pertumpahan darah di wilayah yang luasnya hampir menyamai Perancis tersebut.
Hingga saat ini, RSF mengeklaim telah menguasai penuh Mistariha. Di sisi lain, perang saudara di Sudan yang pecah sejak April 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang dan memicu salah satu krisis pengungsian terbesar di dunia, dengan jutaan orang terpaksa hidup dalam ketidakpastian di kamp-kamp pengungsian.


