JAKARTAMU.COM | Seorang warga sipil Palestina tewas pada Selasa (24/2/2026) malam setelah menjadi sasaran tembakan dari pesawat nirawak (drone) milik militer Israel. Insiden mematikan ini terjadi di Jalan Al-Shuhada, Kota Gaza, di tengah situasi wilayah yang masih dibayangi ketidakpastian keamanan meskipun kesepakatan gencatan senjata secara teknis telah diberlakukan.
Kematian warga sipil ini menambah panjang daftar korban di wilayah kantong tersebut sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober lalu. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa otoritas medis dan lembaga pemantau mencatat setidaknya 615 warga Palestina telah tewas dan sekitar 1.658 lainnya terluka akibat berbagai insiden keamanan sejak tanggal tersebut.
Situasi di lapangan menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan damai yang ada. Setiap letusan senjata atau serangan udara tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengikis kepercayaan warga sipil terhadap proses pemulihan keamanan yang tengah diupayakan komunitas internasional.
Korban Sipil Terus Membengkak
Secara kumulatif, dampak dari eskalasi konflik yang bermula pada 7 Oktober 2023 telah mencapai angka yang memprihatinkan. Hingga hari ini, total warga Palestina yang dinyatakan gugur telah mencapai 72.073 jiwa. Sementara itu, jumlah korban luka-luka tercatat sebanyak 171.756 orang.

Skala kehancuran dan jumlah korban jiwa yang masif ini telah menempatkan Gaza dalam krisis kemanusiaan yang sangat akut. Organisasi-organisasi internasional terus menyuarakan perlunya perlindungan bagi warga sipil sesuai dengan hukum humaniter internasional, yang melarang penargetan terhadap penduduk non-kombatan di wilayah konflik.
Insiden di Jalan Al-Shuhada ini menjadi pengingat pahit bagi dunia bahwa bagi warga Gaza, ancaman maut masih mengintai di setiap sudut jalan, terlepas dari narasi diplomatik tentang penghentian permusuhan. Di tengah bayang-bayang drone yang kerap menghiasi langit, warga Gaza harus terus berjuang bertahan hidup di sela-sela puing kota yang belum sempat terbangun kembali.


