Sambut Ramadan dengan Gembira, Bukan Sekadar Simbol

Must Read

Oleh Dedi Iswantara

PERTENGAHAN Sya’ban 1447 Hijriyah, tengah melaju menapaki tanggalan ke akhir bulan. Berarti, untuk sampai pada Ramadhan hanya tersisa pada hitungan hari dan jam. Tat kala mukmin menyambut datangnya Syahru Ramadhan, seyogyanya bersikap gembira dan bahagia tanpa euforia, melainkan hanya untuk pemenuhan jiwa dengan rasa syukur yang tinggi, luas serta ikhlas.

Muqaddimah

Semenjak berpisah dengan Ramadhan 1446 H setahun lalu, di antara kita banyak yang berdoa dengan permohonan: agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun berikutnya. Ada pun salah satu rangkaian doa yang popular di kalangan kaum muslimin, terutama memasuki saat saat akhir Ramadhan, antaranya sebagai berikut:

Milad 117 H Muhammadiyah

اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْع لْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

Allahuma janganlah Engkau jadikan puasa ini yang terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikan sebaliknya (sebagai puasa terakhir), jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku sebagai orang yang Engkau jauhi.”

Doa ketika kita telah memasuki bulan Rajab dan Sya’ban menuju Ramadhan yang tak kalah polular, antara lain, diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, bahwa dia berkata, adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Rajab, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ بارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وشَعْبَانَ، وبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Allahuma berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Alhamdulillah, Ramadhan 1447 H, kini semakin di depan mata. Hanya beberapa hari lagi. Itu berarti, al qudrah (qodrat) dan al iradah (iradat) dari Allah masih kita nikmati hari ini; Bila kita sampai pada Ramadhan, Syawal dan seterusnya, berarti Allah masih memberikan kesempatan bagi kita untuk meningkatkan nilai ibadah, terutama pada selain kewajiban shalat: adalah melaksanakan puasa dan menunaikan zakat.

Hal ini, dapat juga dimaknakan bahwa di atas qodrat dan iradat Allah atas diri kita, ada untaian doa yang diijabah atau terkabulkan. Kemahakuasaan Allah, masih mengalunkan napas serta detak jantung bagi kita; Sehingga, kita masih berkesempatan melanjutkan kehidupan di alam fana yang padat akan tantangan dan hambatan namun harus tetap kita hadapi dan jalani.

Serasa tak pantas pula rasanya, jika dibawa bermurung diri; Karena doa doa telah banyak sekali yang dikabulkan oleh-Nya. Antara lain, adalah dijumpakanNya kembali kita dengan bulan Ramadhan. Bukankah di antara kita pernah menyadarkan ar rajaa (harapan atau keinginan) terhadap Allah agar dipertemukan lagi dengan Ramadhan?

Oleh karenanya, yang dirasa-rasa pantas dan layak, manakala doa kita terkabul lalu yang muncul ke permukaan adalah rasa gembira dan kebahagiaan. Akan tetapi, rasa kegembiraan itu jangan sampai diselewengkan pada euforia bersifat foya foya atau riya; Melainkan kegembiraan hanya untuk menata sikap agar dari kedalaman jiwa kita: melahirkan perilaku yang penuh rasa syukur kepadaNya.

Antara Gembira dan Syukur Nikmat

Gembira, menjadi pertanda senangnya hati yang memunculkan cahaya berseri-seri pada permukaan wajah; Lantas, rasa gembira itu berpengaruh kepada tingkah laku, ketenangan akal pikiran, hingga ringan tangan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Hanya saja, rasa gembira berpotensi berlebih-lebihan jika saja kecerdasan emosi di jiwa tidak dikendalikan dengan baik. Sehingga, tidak jarang pula rasa gembira pada akhirnya terjerembab ke dalam situasi euforia yang dicirikan, antara lain, pada:

Pertama, foya-foya (kurangnya perhitungan); Kedua, lupa terhadap Yang Mahamengabulkan doa hingga jadi penyebab kecerobohan ketika bertindak; Bahkan, ketiga, adakalanya malah ujub diri, sampai-sampai, rambu-rambu akhlaqul karimah sebagai batasan jati diri (tuntunan syariat agama) dilanggar dengan tertawaria, tanpa kesadaran secara utuh.

Pada ciri-ciri di atas inilah, sesungguhnya yang cenderung merusak akal dan mental seseorang, manakala ia kehilangan rasa kehati-hatian. Apa sebab? Karena, setiap kita memiliki kecerdasan emosi yang mesti dijaga dan terus diberdayakan: supaya tidak lepas kontrol.

Rasa syukur yang ditetapkan Allah melalui Alqur-an dan diaplikasikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melalui Sunnah Makbullah, tak lain adalah untuk menjadi perangkat diri agar berkesadaran tinggi. Melalui kesadaran yang dijaga secara konsisten dan istiqamah, dipastikan menjadi energi: supaya, setiap kita yang merasa gembira dan bahagia bersyukurlah kepada Allah sebanyak mungkin.

Cara bersyukurnya, antara lain dengan penataan: pertama, penanaman niat untuk beramal shalih (saleh), karena bersyukur itu tak cukup hanya ucapan Alhamdulillah; Melainkan harus pula mengaplikasikan Alhamdulillah itu, minimalnya di 17 rakaat atau melaksanakan shalat wajib;

Kedua, tingkatkan shadaqah (sedekah), terlebih kepada anak yatim dan fakir miskin serta orang-orang yang membutuhkan; Ketiga, tingkatkan hablu minallah (berdzikir kepada Allah) dan juga hablu minannas (silaturrahim dan ukhuwah) melalui beragam kreasi untuk mendorong aktivitas sosial, terutama pada sisi amar ma’ruf nahi munkar yang bertujuan untuk terwujudnya suasana kesalehan sosial; Dan keempat, teruslah berdoa yang terbaik untuk diri sendiri, kedua orang tua, guru atau murid, kaum muslimin dan mukminin, serta orang-orang berjasa lainnya.

Gembira Bertemu Ramadhan

Dinukil dari kitab Al-Adzkaar, bahwa Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, dianjurkan bagi siapa saja yang mendapatkan suatu nikmat atau dihindarkan dari kemurkaan Allah, untuk bersujud syukur kepada Allah Ta’ala, atau memuji Allah (sesuai dengan apa yang telah diberikan olehNya).”

Di antara nikmat yang paling besar dari Allah bagi seorang hamba, disebutnya adalah taufiq yaitu untuk melaksanakan ketaatan. Lainnya, bila kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Nikmat bernilai agung yang juga dariNya, berupa kesehatan yang baik pada diri kita.

Kesehatan kita hari ini, pun menuntut dibawa kepada nilai-nilai syukur dengan memuji Allah Yang Mahamemberi, terutama nikmat sehat wal afiat. Dengan dihadirkannya nikmat oleh-Nya, tentu saja sangat pantas kalau kita bergembira; Begitu juga atas harapan kita bertemu dengam Syahru Ramadhan yang kian waktu bertambah dekat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meneladankan bagi kita, bahwa kala itu beliau dipandang memberi berita gembira kepada para sahabatnya dengan kedatangan Ramadhan. Antara lain, melalui sabda beliau:

جاءكم شهر رمضان, شهر رمضان شهر مبارك كتب الله عليكم صيامه فيه تفتح أبواب الجنان وتغلق فيه أبواب الجحيم… الحديث

Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan pintu-pintu surga serta ditutup pintu-pintu neraka….” (HR. Ahmad)

Hadits ini menjadi perhatian serius bagi generasi ummat Islam abad pertama hijriyah, terlebih kalangan as-salaf ash-shalih; Merupakan hadits yang dikatagorikan sebagai berita gembira. Mereka pun selalu bergembira teriring rasa syukur manakala menyambut kedatangan Ramadhan.

Kalangan ‘as-salaf ash-shalih’ adalah generasi terbaik umat Islam yang terdiri dari para Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in yaitu tiga generasi awal. Mereka hidup dalam kurun waktu mulia, dikenal jujur, ‘alim, wara’; Senantiasa pula mereka berpegang teguh pada ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam: berdasarkan Alqur-an dan As-Sunnah secara murni dan penuh keikhlasan.

Mereka juga berpandangan, bahwa Ramadhan merupakan bulan yang agung. Sehingga, pada momentum menyongsong Ramadhan, mereka membulatkan tekad dengan membuat program amal saleh, dalam upaya meraih nilai-nilai kebaikan yang banyak dan berkah pada saat siang mau pun malam. Intinya, untuk memperoleh keridhaan Allah Ta’ala.

Mungkin sekali berbeda dengan ummat Islam masa sekarang; Karena masih banyak juga kalangan yang komitmennya menjalankan anjuran dalam Alqur-an dan Sunnah, namun program yang dirancang lebih serius terkait urusan-urusan persaingan pada kemewahan duniawiyah.

Mungkin, karena di antara kita itu masih terdapati orang yang kurang sadar terhadap tugas mulia sebagai mukmin; Sehingga, ada kalanya lupa atau bahkan melupakan bahwa kehadiran Ramadhan itu merupakan momentum untuk lebih mendekatkan jiwa raga kepada Allah.

Oleh karena banyaknya jebakan berpola situasional namun ditradisikan oleh pihak atau diri masing-masing yang dasarnya anggapan, maka urusan persaingan duniawi ‘mungkin dirasa mereka lebih penting’. Pada gilirannya, pada anggapan mereka, bulan agung itu adalah bulan Syawal yaitu merayakan Idul Fithri.

Pada anggapan ummat muslim yang seperti itu, tentu saja masih terasa sebagai keprihatinan mendalam. Mereka, belum mampu memahami tentang berita gembira atas datangnya Ramadhan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan para sahabat dan yang dirasakan keagungannya oleh kalangan as-salaf ash-shalih.

Akhirul Kalam

Di antara banyaknya kaum mukmin: semenjak hendak ditinggalkan Ramadhan menginginkan bertemu kembali dengan Syahru Ramadhan tahun berikutnya. Bahkan, hingga memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, doa doa berkaitan dengan keinginan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan, lebih sering dilantunkan.

Keinginan dipertemukan dengan bulan Ramadhan yang menggelora dari individu mukmin pada umumnya, begitu nyata; Dan memiliki dasar yang sangat kuat untuk membudayakan perilaku yang berkarakter, antaranya:

Pertama, Allah selaku Mahapencipta atas apa pun menyediakan momentum agar jiwa-raga manusia berkeseimbangan. Selain melalui kegiatan wajib berpuasa, namun juga pada bulan Ramadhan dibuka olehNya celah berupa bimbingan terkait iman dan amal saleh; Secara substantif, Ramadhan sebagai wahana yang berpotensi memunculkan rasa gembira dan kebahagiaan manusia saat di dunia mau pun ketika berkehidupan di akhirat kelak.

Kedua, setiap menjelang bulan Ramadhan tiba, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan akan situs jiwa-raga insani, agar memanfaatkan aplikasi adaptif dengan rasa gembira; Karena, memonetum Ramadhan bukanlah sekadar simbolistik yang dilingkupi pahala saja. Akan tetapi juga, bulan Ramadhan sarat akan bobot nilai; Antaranya: meliputi kejujuran, akhlaqul karimah di hadapan Allah, menjalankan amar ma’ruf nahi munkar secara tepat sasaran, juga mengasah kecerdasan akal pikiran, kemampuan mengendalikan emosi dan menguatkan daya spiritual.

Sedangkan yang ketiga, meninggikan rasa kebersamaan melalui kegiatan hablu minannas, meliputi: silaturrahim, berjalannya nilai ukhuwah, bersedekah, saling bantu-membantu, hingga meningkatkan kinerja keilmuan dalam upaya membangun kekuatan dalam bingkai kesalehan sosial.

Demikian kiranya artikel ini saya sampaikan; Mohon maaf jika dipandang ada kekeliruan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada jalanNya yang haqq dan lurus, serta menjauhkan kita dari pada kebathilan. Dan semoga pula, tulisan ini berfaedah untuk dapat dipetik hikmahnya. (*)

Nun walqalami wama yasthurun

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This