KETELADANAN dan kepemimpinan
sudah lama terkubur.
Tentu tak bisa berharap
akan bangkit dari kubur.
Yang bisa diharapkan
adalah sebuah kelahiran kembali.
Tapi kapan?
Sikap membela dan melindungi
kebusukan adalah anggota
asosiasi kebusukan.
Itu musuh kita bersama.
Kutanam semangka,
tumbuhnya mangga.
Tak disangka-sangka,
angin reda, hujan pun tiada.
Dari paradoks ke paradoks
nantikan realita.
Tak sabar menanti,
khawatirkan semua celaka.
Gerombolan oknum—
persekutuan pencuri—
resah, gelisah,
bersembunyi
di depan matahari.
Siap menyerang,
tak waspada mati berdiri.
Sia-sia.

Itulah risiko jadi rakyat:
selalu dijual dan digadai
oleh rakyat yang seolah-olah waras
dan seolah-olah cerdas.
Kenduri besar di rumah pengantin,
hidangan mewah tersaji banyak.
Jembatan megah baru dibikin,
di hari meriah rubuh terkoyak.
Melawan harus dengan
memegang teguh keyakinan;
itu sikap yang harus dipelihara.
Mengikuti arus saja
adalah pertanda sikap yang lemah.
Cobalah pergi ke tempat arus,
perhatikan apa yang ada di sana.
Pasti akan kita temukan dua hal:
pertama, sampah; kedua, kotoran.
Apa kita semua rela
dibegitukan saja?!
Tentu tidak.
Rapikan barisan,
patuhilah aba-aba.
Satu perjuangan,
satu komando.
Lembaga Riset
Tulang Belulang
28–11–25


