SBY soal Perang Iran-AS: Legacy versus Survival Interest

Must Read

JAKARTAMU.COM | Perang terbuka antara Amerika Serikat (AS) yang dibonceng Israel dengan Iran sudah dimulai. Serangan rudal Israel ke sejumlah titik strategis pemerintah dan militer Iran, termasuk ibu kota Teheran, dibalas dengan ratusan rudal ke pangkalan-pangkalan militer AS seantero Timur Tengah. 

Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan menyebut perang terbuka antara AS dan Iran sebagai pertarungan antara kepentingan warisan politik (legacy) dan kepentingan mempertahankan eksistensi negara (survival interest).

SBY melihat eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kala itu tidak berdiri sendiri. Rangkaian serangan dan balasan antara Israel dan Iran berpotensi menyeret Amerika Serikat lebih jauh. Dalam pandangannya, setiap langkah militer yang diambil para pemimpin negara besar selalu mengandung dua lapis pertimbangan: bagaimana sejarah akan mencatat kepemimpinan mereka dan bagaimana memastikan keamanan serta posisi negaranya tetap terjaga.

Baca juga: Trump Sebut Iran Musuh Dunia, Teheran Siapkan Serangan Balasan   

Milad 117 H Muhammadiyah

Menurut SBY, bagi seorang presiden Amerika Serikat, keputusan menyerang atau tidak menyerang Iran bukan semata soal taktik militer. Ada faktor legacy—bagaimana ia ingin dikenang dalam sejarah global—serta survival interest, yaitu kepentingan strategis untuk menjaga dominasi, kredibilitas, dan keamanan nasional Amerika Serikat di kawasan yang selama puluhan tahun menjadi titik panas geopolitik dunia.

Di sisi lain, Iran juga menghadapi dilema yang sama. Teheran, kata SBY, tidak mungkin membiarkan tekanan militer atau politik yang dianggap mengancam kedaulatan dan stabilitas dalam negerinya. Bagi kepemimpinan Iran, respons terhadap tekanan eksternal merupakan bagian dari survival interest, sekaligus menyangkut kehormatan nasional dan posisi mereka dalam percaturan regional.

“Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta legacy indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan he must go. Berarti, ini merupakan survival interest buat pemimpin Iran itu,” kata SBY melalui akun X, dikutip Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: AS–Israel Mulai Perang, Rudal Gempur Ibu Kota Iran

SBY mengingatkan bahwa konflik berskala besar antara Amerika Serikat dan Iran akan membawa konsekuensi luas, mulai dari lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok global, hingga instabilitas politik di berbagai kawasan. Indonesia, sebagai negara yang tidak berada dalam blok kekuatan mana pun, perlu mencermati perkembangan ini dengan kepala dingin dan tetap konsisten pada politik luar negeri bebas aktif.

Ia juga menilai bahwa perang di Timur Tengah tidak pernah benar-benar bersifat lokal. Setiap eskalasi berisiko melibatkan aktor-aktor lain, baik negara besar maupun kelompok non-negara, yang memiliki kepentingan masing-masing. Dalam situasi seperti itu, ruang diplomasi sering kali menyempit, sementara risiko salah kalkulasi meningkat.

Analisis tersebut disampaikan SBY sebagai peringatan dini bahwa keputusan perang selalu berada di persimpangan antara ambisi sejarah dan kebutuhan mempertahankan eksistensi. Ketika dua kepentingan itu bertemu dalam situasi krisis, dunia berada pada fase yang menentukan.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This