Oleh Ahmad Said Matondang | Ketua PCM Kebayoran Baru
GAGASAN tentang masa depan sekolah Muhammadiyah kembali mengemuka dalam Rapat Koordinasi Nasional Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah pada 13 Februari 2026 di Makassar. Di forum yang dihadiri ratusan pengelola pendidikan dari seluruh Indonesia itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, melontarkan satu tawaran yang memancing perenungan: sudah saatnya sekolah Muhammadiyah melakukan segmentasi yang lebih terarah, termasuk menyasar kelompok masyarakat menengah ke atas.
Selama ini, sekolah Muhammadiyah dikenal dekat dengan akar rumput. Ia tumbuh bersama denyut masyarakat bawah, menjadi ruang mobilitas sosial bagi banyak keluarga. Identitas ini tentu tidak boleh hilang. Namun, dalam pandangan Abdul Mu’ti, jika Muhammadiyah ingin memperluas dampak dan memperkuat kemandirian, maka perlu ada keberanian untuk merambah segmen yang selama ini belum tergarap optimal.
Istilah yang ia gunakan cukup provokatif sekaligus simbolik: Segmentasi Quraisy. Quraisy, dalam sejarah Islam, dikenal sebagai kelompok terpandang dengan kekuatan ekonomi, jaringan luas, serta pengaruh intelektual. Analogi ini dipakai untuk menggambarkan segmen masyarakat yang memiliki sumber daya dan daya pengaruh besar dalam struktur sosial modern.

Gagasan Mu’ti menantang sekolah Muhammadiyah harus mampu menjadi pilihan utama bagi kalangan ini. Fasilitas, tata kelola, kurikulum, hingga kultur akademiknya harus dirancang sedemikian rupa sehingga orang-orang dengan standar tinggi merasa percaya diri menyekolahkan anaknya di Muhammadiyah. Bukan untuk membangun eksklusivitas, melainkan untuk memperluas jangkauan dakwah dan memperkuat basis ekonomi persyarikatan.
Dalam konteks ini, muncul istilah lain yang tak kalah menarik: generasi Mukidi. Akronim ini merujuk pada profil wali murid yang diharapkan menjadi mitra strategis sekolah Muhammadiyah di masa depan.
Mukidi adalah mereka yang muda, energik, dan adaptif terhadap perubahan. Mereka memiliki kemandirian finansial sehingga mampu mendukung ekosistem pendidikan yang sehat. Mereka intelektual, menghargai sains, literasi, dan rasionalitas. Mereka dinamis, memiliki visi sosial yang besar. Dan yang terpenting, mereka menjunjung integritas sebagai fondasi kehidupan.
Segmen seperti inilah yang, jika dikelola dengan baik, akan menciptakan simbiosis antara sekolah dan keluarga. Sekolah tidak lagi berdiri sendiri sebagai institusi, tetapi menjadi bagian dari ekosistem kelas menengah terdidik yang peduli pada kualitas, tata kelola, dan visi jangka panjang. Dari rahim ekosistem seperti ini, Muhammadiyah berpeluang melahirkan pemimpin masa depan yang kuat secara profesional sekaligus kukuh secara ideologis.
Namun, segmentasi dan pembenahan fasilitas saja tidak cukup. Dalam kesempatan yang sama, Abdul Mu’ti mengingatkan adanya hambatan internal yang harus dibereskan jika transformasi ingin berjalan serius. Ia menyebutnya sebagai penyakit 3K: konflik, korupsi, dan kolot.
Konflik internal menjadi persoalan pertama. Energi organisasi sering terkuras pada pertikaian yang seharusnya dapat diselesaikan dengan musyawarah dan kedewasaan. Pendidikan memerlukan stabilitas kepemimpinan, kekompakan tim, serta orientasi pada tujuan bersama. Jika pengelola sibuk beradu kepentingan, maka kualitas layanan kepada peserta didik akan terdampak.
Hambatan kedua adalah korupsi. Integritas dalam pengelolaan keuangan sekolah bukan sekadar urusan administratif, tetapi menyangkut kepercayaan publik. Sekolah Muhammadiyah berdiri di atas nama dakwah dan amanah umat. Ketika transparansi diabaikan, reputasi yang dibangun puluhan tahun bisa runtuh dalam sekejap.
Yang ketiga adalah sikap kolot, yakni keengganan untuk berubah. Dunia pendidikan bergerak cepat, terutama dalam era disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan. Metode lama yang pernah efektif belum tentu relevan hari ini. Sekolah yang ingin tetap dipercaya harus berani bereksperimen, memperbarui kurikulum, memperkuat literasi digital, serta membangun budaya belajar yang lincah.
Jika segmentasi Quraisy adalah strategi eksternal untuk memperluas basis sosial, maka penghindaran 3K adalah pekerjaan internal untuk memperkuat fondasi. Keduanya saling terkait. Tidak mungkin mengundang kepercayaan kelompok terdidik dan mapan tanpa tata kelola yang profesional. Dan profesionalisme tak akan lahir dari kultur yang gemar berkonflik, abai pada integritas, atau alergi pada perubahan.
Sekolah Muhammadiyah masa depan, dengan demikian, tidak hanya mesti megah bangunannya atau berlabel internasional. Ia adalah perjumpaan antara visi besar, tata kelola bersih, keberanian berinovasi, dan kemampuan membaca perubahan sosial. Segmentasi Quraisy dan generasi Mukidi hanyalah pintu masuk untuk membayangkan lanskap baru pendidikan Muhammadiyah yang lebih luas, lebih percaya diri, dan lebih berpengaruh dalam membentuk arah bangsa. (*)


