Ramadhan dan Peluang Menggapai Kemuliaan

Must Read

Oleh Asyaro G Kahean

BEBERAPA HARI lagi, kita akan memasuki bulan Ramadhan. Merupakan salah satu bulan yang disediakan oleh Allah, untuk dijadikan peluang besar bagi setiap mukmin: agar mampu menggapai nilai-nilai kemuliaan berkualitas tinggi, dalam konteks: إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡ (Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa).

Peluang Yang Terselip dalam Realitas

Tidak seorang pun mampu membantah, bahwa dinamika kehidupan insani di bumi Allah ini, telah nyata: bersuku-suku hingga berbangsa-bangsa. Bahkan, didapati pula ‘dinding-dinding geografis’ yang memisahkan atau menjumpakan warga suatu negara dengan warga dari lain negara.

Milad 117 H Muhammadiyah

Hingga per awal 2026 ini, populasi penduduk dunia (dari berbagai negara) tercatat, mencapai kisaran 8,29 hingga 8,3 miliar jiwa. Populasi global ini, ke depan, cenderung masih terus akan bertambah jumlahnya. Laju pertumbuhan penduduk dunia, –sekali pun disebut-sebut melambat– namun diproyeksikan akan mencapai 9 miliar jiwa, pada 2037.

Realitas polulasi penduduk, sekaligus dapat difungsikan menjadi penjelasan, manakala didekati ayat Alqur-an; Antara lain, pada Surat Al Hujarat: ayat 13. Dalam ayat ini, menunjukkan tentang kekuasaan Alkhaliq atas diciptakanNya begitu banyak manusia yang menyebar di permukaan bumi.

Salah satu fungsi penciptaan dengan jumlah yang sangat banyak sekali itu, agar di antara manusia saling kenal mengenal –membangun komunikasi dan menjalin aneka ragam hubungan terkait makna yang disifati dengan kemanusiaan.

Lain itu, ada juga nilai-nilai yang diselipkan oleh Allah untuk diambil i’tibar, guna menata kehidupan berkelompok secara intens; Di antaranya, kelompok yang mengkreasikan tujuan, supaya kegiatan manusia disentuh dengan nilai nilai pembudayaan ibadah untuk mencapai kemuliaan di hadapan Alkhaliq.

Kemuliaan dimaksud, keberadaannya dalam lingkupan yang disifati dengan nilai-nilai taqwa ilallah. Salah satu firman Allah dalam Surat Al Hujarat ayat 13, menginformasikan hal tersebut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami (Allah) telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (karakter mau pun prilaku). Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Mahamengetahui lagi Mahateliti.” (QS Al Hujarat: 13)

Taqwa dalam Realitas Selera

Lain lagi dengan realitas yang sebarannya tampak juga di permukaan; Yaitu, tidak semua manusia memiliki selera sama terhadap nilai-nilai taqwa. Boleh jadi, orang yang punya selera untuk mencapai kemuliaan bergariskan konteks: inna akramakum ‘indallahi atqaakum, pada saat ini, jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan miliaran jiwa manusia yang menikmati kehidupan fana di muka bumi.

Makna taqwa, sangat mungkin, belum diresapi mendalam oleh kebanyakan orang. Disayangkan, sebelum memahami makna taqwa sudah disangkalnya melalui underestimed. Maka yang akan dirasanya, taqwa laksana ‘beban berat’; Karena dipandangkan, lingkupan taqwa itu sarat dengan aturan-aturan untuk taat kepada Tuhan. Salah satu yang menjadi syarat ketaatan kepadaNya, tak lain adalah kebersucian jiwa mau pun raga.

Sekali pun akal-pikiran sebenar-benarnya mengakui, bahwa: ketaatan kepada Tuhan merupakan jalan terbaik; Bahkan juga, ketaatan diyakini sebagai cara utama untuk menggapai keselamatan, ketika manusia punya keinginan menjalani kehidupan untuk meraih kedamaian, kesejahteraan juga kemuliaan. Itu berarti, sikap taat merupakan disain ilahi untuk menata akal-pikiran sekaligus nalar nurani manusia: agar lebih fokus kepadaNya.

Bila saja ketaatan masih disangkal secara underestimed misalnya, dan hal ini tak kunjung diakhiri dengan kesadaran akal-pikiran, maka potensi yang berkembang: sifat taat kepada Tuhan akan tertutupi oleh beban-beban yang berada di atas prasangka itu terus bermunculan dari perasaan sendiri.

Prasangka tersebut, tentu berpeluang menggerogoti fungsi kesucian hati nurani. Lantas, dorongan yang cenderung mengemuka di latar kehidupan yang berlanjut ke arena pergaulan, aspek ketaatan kepadaNya berpotensi dijelmakan: taat merupakan ‘pekerjaan yang menyulitkan’.

Padahal, disain ketaatan itu merupakan disain ilahi; Adalah sebagai jalan keluar atau solusi, dari beragam sifat yang dipersangkakan sulit atau menyulitkan.

Di wilayah semacam inilah, sifat taqwa penting diposisikan menjadi idaman. Karena, ketaqwaan kepada Allah Ta’ala, bukanlah aturan yang bersifat instan; Melainkan, aturan yang mesti diproses melalui pemulihan kecerdasan insani di atas dasar kesadaran tentang adanya peran Tuhan di lingkup kehidupan hingga kapan pun.

Jika taqwa disebut sebagai idaman, maka perlu sekali berdampingan dengan ilmu yang mendukung. Mengapa demikian? Tak lain, agar pencapaian yang diidam-idamkan mampu berjalan tegak lurus secara ajeg, istiqamah dan konstan di lingkup aturan Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahamulia.

Dalam hal tersebut, aturan yang berkaitan dengan nilai nilai ketaqwaan sudah begitu jelas; Yaitu: memiliki dasar atau fondasi yang sangat kuat, bersumber dari Alqur-an dan aplikasiNya tercatat pada Sunnah Makbullah (berupa: pedoman dan keteladan dari Rasulullah).

Menuju Pencapaian Taqwa

Taqwa, bukanlah sekadar teori. Taqwa, merupakan implikasi dari ketaatan yang tulus di atas kesadaran diri; Agar manusia, selalu membangun hubungan kepada Allah: dalam aneka ragam kegiatan (termasuk membangun hubungan sosial kemasyarakatan) secara suka rela, di atas dasar syariat yang diturunkan oleh Allah melalui RasulNya.

Ada pun taqwa beserta derivasinya, disebut di dalam Alqur-an sekitar 258 kali. Arti penting pada penyebutan yang sebegitu banyak, lebih diarahkan agar upaya insani selalu meningkatkan kualitas ketaqwaan di atas penciptaanNya; Terlebih, bagi insan yang dijuluki sebagai muslim dan mukmin. Sedangkan muslim dan mukmin, sering juga ditafsir para ahli pada derivasi yang erat dengan sebutan hamba Allah.

Anjuran agar kita bertaqwa kepadaNya tersebar luas. Beberapa sumber menyebut, sekurangnya terdapati 10 ayat termaktub dalam Alqur-an yang menyebutkan: taqwa merupakan wasiat yang bersifat langsung (instruktif: bersifat memerintah, memberi arahan, atau memberikan pedoman yang sistematis), dengan natijah sebagai berikut:

Surat Al-Imran ayat: 102 (sebenar-benarnya taqwa kepada Allah, jangan mati sebelum berkeadaan muslim); Surat Al-Baqarah: 278 (bertaqwa dan tinggalkanlah riba jika diri mengaku mukmin atau orang beriman); Surat Al-Maidah: 35 (bertaqwa dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah); Surat At-Taubah: 119 (bertaqwalah dan tetap bersama orang orang yang benar, jujur atau shaddiq);

Surat Luqman: 33 (bertaqwalah dan takut akan datangnya hari yang tanpa tolong-menolong lagi, serta jangan terpedaya keduniaan yang sarat penipuan); Surat Al-Ahzab: 70 (bertaqwa dan sampaikan ucapan, kata, informasi yang sebenarnya); Surat Al-Hadid: 28 (bertaqwa dan berimanlah kepada RasulNya untuk memperoleh cahaya, pencerahan juga ampunan dari Allah);

Surat Al-Hasyr: 18 (bertaqwalah dan perhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok/akhirat); Surat An-Nisaa: 1 (bertaqwalah dengan nama-Nya ketika kamu saling meminta dan memelihara hubungan keluarga); Surat Al-Hajj ayat: 1 (Bertaqwalah kepada Tuhanmu dan sungguh akan terjadi guncangan yang sangat besar atau dahsyat, pada hari kiamat).

Selain 10 ayat di atas, ada juga ayat ayat yang sifatnya membuka peluang agar selaku hambaNya, terlebih bagi yang dijuluki kaum beriman kepadaNya, agar berusaha dengan kesungguhan menggapai taqwa; Antara lain, berkaitan dengan puasa pada bulan Ramadhan; Sebagaimana termaktub di Surat Al Baqarah ayat 183, sebagai berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).

Anjuran mencapai taqwa melalui puasa, merupakan salah satu peluang yang dibuka dan disediakan oleh Allah; Kegiatan puasa pernah juga diperintahkan kepada orang-orang sebelum ayat di atas diturunkan. Ada pun kegiatan puasa pada bulan Ramadhan, secara fiqh dihukumi wajib ‘ain, dan waktu-waktunya telah ditetapkan sekali pun ada pengecualian khusus bagi orang yang uzur (bukan didasari kemalasan).

Orang orang yang mengaku beriman kepada Allah Yang Mahapencipta, merupakan kaum yang diseru Alqur-an untuk melaksanakan kewajiban puasa tersebut.

Tujuan utama puasa, bukanlah sebatas pada kata atau ucapan agar bertaqwa saja; Melainkan juga berjalannya mekanisme kejujuran terhadap diri sendiri: karena Allah pasti menghimpun catatan dari setiap individu yang telah baligh dan berakal sehat; Kapan pun, di mana pun individu manusia tersebut berada, ketika berkehidupan di alam fana ini.

Antara Iman dan Taqwa

Bila kita mengaku beriman kepada Allah, berarti juga perlu melakukan upaya penyempurnaan, karena ada makhluq berenergi ghaib yang diciptakan olehNya; Terlebih, pada sosok-sosok ghaib yang memiliki kekuatan dan kecepatan gerak teramat dahsyat; Di mana, kemampuan sosok sosok ghaib tersebut melebihi kemampuan makhluq berbangsa jin yang juga ghaib rupa.

Di antara sosok sosok itu, ada yang ditugaskan oleh Allah menjadi penghimpun melalui catatan (data valid dan faktual): adalah Malaikat Rakib dan Atid.

Ada pun makhluq-makhluq ghaib berbangsa Malaikat yang diciptakan oleh Allah tanpa deraan hawa nafsu; Sehingga, sifatnya ajeg, istiqamah dan kosntan dalam ketaatan terhadap perintah mau pun larangan dari Yang Mahapencipta.

Hanya saja, Malaikat dicenderungkan oleh Allah pada posisi ‘kalah’ ketika berhadapan dengan manusia; Karena manusia dibekali akal sebagai pengasah tiga komponen kecerdasan. Ketiga kompunen kecerdasan itu, bila berjalan seiring menuju taqwa kepada Allah Ta’ala, dapat membuat sosok sosok Malaikat tunduk kepada manusia.

Kecerdasan tersebut, pertama, intelligence quotient (IQ), merupakan intelektual yang mengukur kemampuan kognitif, logika, berpikir abstrak, pemecahan masalah, hingga dorongan mau belajar mengambil hikmah; Kedua, emotional quotient (EQ) merupakan emosi yang melibatkan kemampuan mengenali, mengelola emosi diri sendiri, empati terhadap orang lain hingga membina hubungan sosial; Sedangkan ketiga, spiritual quotient (SQ) merupakan spiritual (mental kesemangatan) untuk menemukan makna, tujuan, nilai-nilai, kebijaksanaan dalam hidup, hingga menumbuhkan kreasi menuju terbentuknya kesalehan sosial.

Tiga kecerdasan itu, secara ringkas, memperoleh support agar menjadi satu kesatuan yang tiada terpisah antara satu dengan lainnya. Salah satu momentum supportnya disediakan oleh Alkhaliq melalui kegiatan pada bulan Ramadhan. Pada bulan yang diberkahi olehNya ini, perintah utamanya adalah melaksanakan puasa yang bukan sekadar belajar menahan lapar dan dahaga saja.

Pada bulan Ramadhan inilah nama baik seorang mukmin dipertaruhkan; Pertama, agar kita selalu berlaku taat kepada perintahNya dan menjauhi laranganNya; Kedua, agar kita melaksanakan puasa sesuai yang dicontohkan Rasulullah guna menumbuhkan sifat jujur ketika diberi amanah dengan mengacu pada waktu-waktu yang telah ditentukan;

Sedangkan ketiga, agar juga pada jiwa raga kita terjadi peningkatan konsentrasi di atas disediakan-Nya kegiatan pendamping untuk menguatkan makna puasa: tetap mendirikan shalat wajib, memperbanyak shalat sunnah, memperbanyak tartil dan mempelajari kandungan Alqur-an serta meningkatkan kegiatan bersedekah, juga menjaga pembicaraan agar berada pada nilai kebaikan, hingga pengefektivan berjalannya saling tolong-menolong dalam kebaikan. Dan keempat, mengendalikan emosi atau hawa nafsu agar tertuju pada doa-doa hasanah, kesabaran, hingga tertanamnya nilai keikhlasan dalam upaya pencaian ketaatan kepadaNya.

Natijah

Ramadhan yang disediakan oleh Allah, bukanlah sekadar untuk menumpuk pahala semacam prestasi akademik dan non-akademik, terkait menahan lapar dan dahaga serta pelaksanaan kegiatan bernilai ibadah sebagai pendamping puasa selama sebulan; Akan tetapi juga, selama menjalani Ramadhan hendaknya menguatkan daya dorong bagi jiwa-raga pada perubahan cara pandang, antara lain, meliputi tumbuhnya kejujuran (shiddiq); Memagar diri untuk dapat terus dipercaya (amanah); Berkreasi membangun hubungan antar sesama: menuju pada pencapaian kesalehan sosial (tabligh); Dan berkembangnya nilai-nilai pada tiga komponen kecerdasan ke tingkat manajemen dalam upaya pencapaian kemuliaan hakiki (fathanah).

Dengan demikian, keadaan yang cenderung mengemuka bagi mukmin yang berpuasa dan beramal shalih (saleh) selama bulan Ramadhan, akan menampakkan sikap melalui tindak laku: menjaga marwah keimanan selaku mukmin. Lain itu, peluang yang telah disediakan oleh Allah, berupa: kewajiban berpuasa yang dilingkupi waktu terbatas (selama Ramadhan) akan ditemukan kesesuaian dengan sifat-sifat mulia, di jalur pengharapan: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (agar kamu bertaqwa).

Hal tersebut, berarti pula, bahwa: bentuk pengharapan ‘agar kamu bertaqwa’ (pada akhir ayat 183 surat Al Baqarah), masih memerlukan proses lanjutan ke arah bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa kepada Allah Ta’ala. Sehingga, iming iming pahala –seberapa pun besarnya–, tidak lagi membekukan kecerdasan bagi setiap jiwa mukmin yang diseru melalui firmanNya untuk melaksanakan kewajiban berpuasa sebulan penuh ketika Ramadhan; Secara tidak kaku: karena bagi orang yang punya uzur hingga tertinggal atau terbatalkan puasanya, masih diberi peluang agar mengganti atau membayar puasa wajibnya pada bulan-bulan yang lain.

نٓۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This