YOGYAKARTA, JAKARTAMU.COM | Pengusaha yang tergabung dalam Serikat Usaha Muhammadiyah (Sumu) didorong untuk menargetkan omzet Rp1 miliar pertama melalui pengelolaan social commerce yang terstruktur dan berkelanjutan. Strategi ini dinilai relevan untuk memperkuat kontrol bisnis, membangun merek, serta menjaga keberlanjutan usaha digital.
“Banyak pelaku social commerce bisa cepat besar, tetapi runtuh karena tidak dibangun dengan struktur yang benar,” kata praktisi internet marketing dan startup builder Ilham Taufiq dalam workshop Framework & Strategy Social Commerce pada Kopdar Akbar SUMU 2026 di Graha Kinasih Kaliurang, Yogyakarta, 31 Januari–1 Februari 2026.
Ilham yang juga Koordinator Nasional Serikat Imers Muhammadiyah menyampaikan, tantangan utama pelaku bisnis digital bukan semata soal trafik atau iklan, melainkan pola pikir dan pemahaman tahapan bisnis. Berdasarkan pengalamannya memetakan karakter pelaku Internet Marketing dan E-Commerce Social (IMERS) di Indonesia, banyak pengusaha terjebak pola hit and run, mengejar omzet instan tanpa sistem yang matang.
Baca juga: Sumu Kota Medan Dorong Kolaborasi Strategis Pemerintah-LP UMKM

Dalam pemaparannya, Ilham membagi perjalanan pelaku IMERS ke dalam lima fase, yakni Hit & Runner, Survivor, Pioneer, Rising, dan Challenger. Setiap fase memiliki ciri berbeda, mulai dari omzet, ukuran tim, proses produksi, hingga kompleksitas pengelolaan. Ia memperkirakan sekitar 95 persen pelaku IMERS masih berada pada tahap Hit & Runner, dengan omzet di bawah Rp100 juta per bulan serta pencatatan keuangan yang belum rapi.
Ia juga memaparkan studi kasus seorang pelaku IMERS berinisial Budi, pendiri MG Group (nama disamarkan). Dengan modal awal iklan Facebook Ads Rp200 ribu, Budi mengembangkan bisnis fesyen muslim dan batik hingga mampu melayani ribuan pesanan per hari dan mempekerjakan 67 karyawan.
“Kunci keberhasilan bukan hanya kemampuan jualan, tetapi keberanian membangun tim, membaca tren, dan naik kelas menjadi pemilik merek,” ujar Ilham.
Baca juga: Sumu Surabaya Serap Strategi Pemasaran Finest Garment
Menurut dia, social commerce menawarkan keunggulan dibandingkan marketplace karena memberi kontrol pelanggan yang lebih kuat, margin keuntungan lebih sehat, serta peluang repeat order yang tinggi. Namun, manfaat tersebut hanya dapat diraih jika pelaku usaha serius membangun merek, sistem kerja, dan sumber daya manusia.
“Brand adalah aset. Kalau ingin menembus Rp1 miliar pertama, pelaku IMERS harus berhenti hanya mengejar GMV dan mulai menata bisnisnya,” katanya.
Melalui kerangka kerja yang dibagikannya, Ilham berharap pengusaha Muhammadiyah yang bergerak di social commerce dapat tumbuh dengan fondasi manajemen dan keuangan yang lebih solid, sekaligus siap bersaing pada skala yang lebih luas.


