Oleh Miftah H. Yusufpati
SIANG itu, Megamendung tidak sedang menampilkan wajahnya yang ramah. Kabut tipis yang biasanya menari di pucuk-pucuk pohon suren digantikan oleh hawa gerah yang statis. Di dalam rumah yang dindingnya menyimpan ribuan rahasia, Nenden terbaring serupa lukisan yang memudar. Nabila dan Firly, yang baru saja melepas seragam sekolahnya, berdiri di ambang pintu kamar dengan kecemasan yang transparan.
“Perut Bunda belum sembuh?” bisik Nabila. Suaranya halus, membawa getaran empati yang dalam. Ia duduk di tepi ranjang, merengkuh jemari ibunya yang terasa dingin dan lembap. Pijatan lembut Nabila pada tangan ibunya adalah sebuah Therapeutic Touch, upaya bawah sadar untuk menurunkan level kortisol yang sedang mengamuk di tubuh Nenden.
Nenden membuka matanya perlahan. Menatap Nabila adalah seperti menatap masa lalu yang sedang berjuang memperbaiki masa depan. Di mata putri sulungnya itu, Nenden melihat harapan yang rapuh namun murni. Ia tidak boleh terlihat runtuh. Dalam teori Self-Efficacy yang dikemukakan Albert Bandura, keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengontrol situasi adalah kunci dari ketahanan mental.

“Bunda perlu istirahat dulu. Semoga saja, besok sudah sembuh,” ujar Nenden, suaranya serak, tertahan oleh rasa perih yang melilit lambungnya seolah ada kawat berduri yang ditarik paksa di dalamnya.
Nenden telah memancang sebuah tiang pancang yang kokoh dalam pikirannya: pernikahan dengan Haekal adalah harga mati. Tanggal 15 Desember telah ia sakralkan sebagai titik nol perjalanannya menuju salvasi (penyelamatan) dari segala fitnah Andrinov dan gosip Hidayat. Baginya, akad bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah proklamasi kemerdekaan jiwa. Ia bahkan bersumpah, jika harus ditandu atau duduk di kursi roda menuju majelis akad, ia akan melakukannya.
Ia membayangkan, sesaat setelah kalimat qabul bergetar di udara, langit Megamendung akan terbelah dan menurunkan cahaya keberkahan yang akan membasuh sisa-sisa “madu pahit” masa lalunya. Namun, realitas biologis memiliki hukumnya sendiri.
Haekal, sang calon suami yang memahami kedalaman konsep tawakkal, justru menunjukkan sikap yang berbeda. Melalui sambungan telepon, suara baritonnya yang tenang mencoba mendinginkan bara ambisi Nenden.
“Hari masih panjang, Dik. Mungkin Allah menghendaki kita agak mundur sedikit. Jangan memaksakan diri jika ragamu sedang memprotes. Allah tidak menyukai hamba-Nya yang melampaui batas kemampuan tubuhnya sendiri,” ujar Haekal.
Mendengar itu, pertahanan mental Nenden jebol. Air mata meluncur deras, membasahi bantalnya yang sudah lembap. “Maafkan Nenden, Mas. Nenden ceroboh,” isaknya pecah. “Harusnya Nenden tahu, makan durian dalam kondisi stres dan lambung kosong itu berbahaya. Nenden hanya ingin sedikit kebahagiaan, tapi malah jadi bencana.”
Secara klinis, tindakan Nenden memakan durian—buah yang kaya sulfur dan karbohidrat fermentasi—di tengah tekanan psikis adalah bentuk self-sabotage. Manusia sering kali merusak momen pentingnya sendiri karena rasa takut bawah sadar akan kebahagiaan yang “terlalu indah untuk menjadi kenyataan.”
Namun, alam semesta belum selesai memberikan teka-tekinya. Sehari menjelang tanggal 15 Desember, sebuah fenomena biologis terjadi: Nenden datang bulan.
Dalam perspektif sains, stres kronis yang dialami Nenden telah memengaruhi poros hipotalamus-hipofisis-adrenal, yang akhirnya mempercepat peluruhan dinding rahimnya. Namun dalam perspektif metafisika Islam, ini adalah apa yang disebut sebagai mani’ (penghalang) yang natural. Meskipun secara syariat akad nikah tetap sah dilakukan oleh wanita yang sedang haid, namun secara tradisi dan maqasid pernikahan—yang salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan biologis yang halal—kondisi ini mengubah seluruh skenario.


