URUTAN perjalanan itu selalu sama: Solo dulu, baru Jogja. Bukan karena aturan tak tertulis, tetapi karena keduanya menyimpan jejak yang berbeda dalam ingatan. Jogja, terutama, menyimpan lapisan kenangan yang tidak pernah selesai saya buka. Ketika September 2025 saya kembali janjian dengan seorang teman di sebuah kafe dekat Stasiun Tugu, suasana kota itu terasa lebih ramai dari sebelumnya. Malioboro masih saja penuh sesak setiap Sabtu sore sejak pukul empat, seakan seluruh energi kota tertarik menuju satu ruas jalan.
Setiap kali kembali, saya seperti ditarik ke masa kanak-kanak. Rumah Pakde Narno di Sosrokusuman adalah pusat liburan kami di awal 1960-an. Rumah-rumah Asuransi Bumi mengelilingi lapangan tenis, dan dari pintu barat hanya beberapa langkah menuju Malioboro. Jalan ke timur membawa kami ke kawasan Perwakilan dan Mataram. Semua terasa dekat: masjid, kios, keramaian, dan aroma khas Kota Jogja yang sederhana tetapi akrab.
Bagi anak dari Delanggu—desa kecil sekitar 45 kilometer dari Jogja—tinggal sepekan di rumah pakde terasa seperti liburan besar. Kami dimanja oleh para sepupu: Mbak Win, Mas Hary, Mas Yuwono, dan Mas Mantri. Masing-masing punya caranya sendiri membuat kami merasa menjadi bagian dari keluarga besar itu. Kini, hanya Mas Yuwono yang masih ada, tinggal di Tuban.
Ayah dan ibu selalu mengantar kami naik kereta bumel bertenaga uap. Suara jag-jag-jug dan peluit panjang yang menggema masih hidup dalam kepala saya. Bahkan butiran hitam dari pembakaran kayu yang kadang jatuh ke rambut terasa seperti detail kecil yang mustahil dilupakan. Setelah kami diantar, mereka pulang ke Delanggu keesokan harinya, meninggalkan kami sepenuhnya di bawah perhatian pakde dan bude.

Ada pula kenangan yang mencuat begitu saja: kakak sepupu yang suka mengingatkan shalat sambil menyentil, “Kowe kan Muhammadiyah to?”—meski ia sendiri belum tentu menunaikannya. Waktu berlalu, dan ketika saya mengunjunginya tahun 1976, saya melihatnya sudah tekun beribadah bersama kedua orang tuanya. Pakde yang dulunya aktif di PNI pun mengambil keputusan berhaji ketika sudah pensiun. Hidup memang berjalan dengan caranya sendiri, membawa perubahan tanpa perlu suara keras.
Jogja pada tahun 1960–1970-an jauh lebih tenang daripada sekarang. Hiburan kami tidak banyak: Museum Sono Budoyo, bioskop Permata, Kebun Binatang Gembira Loka, atau udara sejuk Kaliurang. Masa remaja kemudian membawa saya ke Parangtritis, menjejak pasirnya yang panas dan ombaknya yang besar. Gudeg yang lengkap dengan krecek dan kacang tolo, telur berbumbu merah, dan tahu bacem masih terasa jelas di lidah tiap kali saya mengingatnya.
Beberapa kisah kecil pun tak kalah kuat. Sandal Lily berwarna biru yang hilang di emperan Masjid Agung ketika SMP membuat saya terpaksa nyeker berjalan ke Stasiun Tugu. Atau perjumpaan tak terduga dengan seorang gadis siswa Perawat dan Bidan Aisyiyah–PKU Muhammadiyah di asramanya di Jalan KH Ahmad Dahlan—sekitar dua ratus meter dari perempatan Malioboro.
Semua itu membuat Jogja bukan cuma “Istimewa”. Kota ini memberi ruang bagi ingatan untuk tumbuh, menetap, dan menemani. Jogja adalah tempat pulang bagi siapa saja yang pernah menaruh sepotong hidupnya di sana—mengesankan, menenteramkan, dan selalu membuat ingin kembali. (*)


