Oleh Khazim Mahrur | Anggota PGMM dan PGIN Kabupaten Cilacap
PRESIDEN yang kami muliakan, perkenankan kami, para guru madrasah swasta dari segenap penjuru negeri, menyapa Bapak dengan penuh hormat, disertai doa yang tulus agar Bapak senantiasa dianugerahi kesehatan, umur panjang, serta limpahan keberkahan.
Kami bukan siapa-siapa, hanya pengabdi ilmu yang setia menyalakan lentera di tengah keterbatasan, di ruang-ruang kelas sederhana yang mungkin tak pernah Bapak singgahi, namun di sanalah Indonesia sesungguhnya tumbuh dan bernafas.
Kami mencintai negeri ini dengan cara kami, mengajar dengan hati, mendidik dengan kasih, meski sering kali peluh kami tak sebanding dengan kesejahteraan yang kami terima. Kami tetap berdiri di depan papan tulis, bukan karena imbalan, tetapi karena keyakinan bahwa setiap huruf yang kami ajarkan adalah doa bagi masa depan bangsa.

Bapak Prabowo yang kami hormati, kami memanggil Bapak dengan sebutan “Ayah”, karena kami percaya kasih seorang ayah tidak pernah membiarkan anak-anaknya ‘terluka terlalu lama.’ Kami yakin, Ayah akan mendengar suara hati kami, para guru madrasah swasta yang telah lama berjuang dalam sunyi. Kami tahu, Ayah tidak akan menutup mata atas ketimpangan yang kami rasakan, sebagaimana Ayah juga tidak membiarkan satu pun anak bangsa kekurangan gizi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini tengah berjalan adalah bukti nyata kasih Ayah kepada anak-anak Indonesia. Ayah tidak ingin mereka tumbuh lemah karena ‘kekurangan gizi.’ Ayah ingin mereka kuat, cerdas dan berdaya. Karena Ayah tahu, bangsa yang besar lahir dari generasi yang sehat, berilmu dan berakhlak mulia.
Dan kami percaya, sebagaimana Ayah memberi makan tubuh mereka, Ayah juga akan memperhatikan kami, para guru madrasah swasta yang setiap hari berjuang memberi asupan gizi bagi jiwa dan akal mereka.
Kami percaya, Ayah akan merespons keinginan kami, sebagaimana Ayah menjawab kebutuhan anak-anak Indonesia lewat program MBG. Karena Ayah tidak hanya ingin tubuh anak-anak Indonesia kuat, tetapi juga ingin pendidik mereka kuat, sejahtera dan dihargai.
Dan kami makin yakin, sebagaimana kata almarhum Gus Dur, “Orang yang paling ikhlas kepada rakyat Indonesia itu Prabowo.” Kalimat itu bukan sekadar pujian, melainkan kesaksian dari seorang guru bangsa terhadap jiwa besar Ayah.
Kami percaya, keikhlasan itu masih menyala di dada Bapak, menuntun setiap keputusan, membimbing setiap kebijakan, dan menuntun langkah Ayah untuk mendengarkan kami yang bersuara lirih dari balik dinding madrasah.
Ayah Presiden, kami tidak meminta kemewahan, hanya keadilan. Kami tidak menuntut pujian, hanya pengakuan bahwa perjuangan kami setara dengan mereka yang mengajar di lembaga pendidikan negeri.
Kami mohon, jangan biarkan madrasah swasta terus dianggap lembaga pendidikan “kelas dua”. Sebab di sanalah kami, bukan hanya mendidik akal, tapi juga membentuk akhlak, yakni mencetak generasi yang beriman, berilmu, dan berkarakter.
Dengarlah suara hati kami, Ayah….suara yang lahir dari ruang kelas yang catnya mulai pudar, dari tangan-tangan yang lelah namun tetap menulis, dari hati yang terus berdoa di setiap sujud. Kami yakin, Bapak Prabowo Subianto adalah pemimpin yang tidak menutup telinga atas jeritan hati kami.
Kami percaya, di balik ketegasan Bapak, ada kelembutan seorang ayah yang tak ingin anak-anaknya kehilangan harapan. Dan semoga, dari istana, Ayah menatap kami, para guru madrasah swasta dengan kasih dan keberpihakan.
Demikian yang dapat kami sampaikan, Ayah. Dengan segala kerendahan hati, kami berharap kiranya Ayah berkenan mengabulkan permohonan kami.
Salam cinta dan hormat dari kami, seluruh guru madrasah swasta Indonesia. (*)


