Teologi Asy’ariyah di Tangan Muhammadiyah

Must Read

TANGERANG, JAKARTAMU.COM | Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto menyebut akidah Muhammadiyah memiliki kedekatan genealogis dengan teologi Asy’ariyah. Namun kedekatan itu tidak berarti adopsi total, melainkan pengolahan yang dis

“Secara teologis kita dekat dengan Asy’ariyah, tetapi Muhammadiyah tidak mengikatkan diri secara eksklusif pada satu mazhab. Kita mengambil yang kokoh, lalu mengembangkannya sesuai manhaj gerakan,” kata Agung dalam Pengkajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Selasa (24/2/2026).

Agung menjelaskan, kedekatan pertama terlihat pada soal sifat-sifat Tuhan. Dalam dokumen resmi seperti Himpunan Putusan Tarjih, Muhammadiyah menetapkan sifat Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk. Prinsip ini sejalan dengan pendekatan Asy’ariyah yang menegaskan sifat ilahiah sekaligus menolak antropomorfisme (penyerupaan dengan manusia).

Pada pembahasan ayat-ayat mutasyabihat, Muhammadiyah juga mengakui keterbatasan akal manusia. Soal istilah seperti “tangan” atau “bersemayam” yang dinisbatkan kepada Allah, Muhammadiyah tidak terjebak dalam perincian spekulatif. Sikapnya mendekati metode tafwidh dalam tradisi Asy’ariyah, yakni menyerahkan hakikat makna kepada Allah tanpa membangun gambaran fisikal.

Milad 117 H Muhammadiyah

Baca juga: Muhammadiyah Itu Ortodoks yang Progresif, Puritan tapi Rasional

“Aspek ini penting. Kita meyakini akal memiliki fungsi, tetapi ada batasnya. Zat Allah tidak mungkin dijangkau sepenuhnya oleh nalar manusia,” ujar Agung.

Kedekatan berikutnya tampak dalam isu perbuatan manusia. Muhammadiyah menerima kerangka bahwa segala sesuatu berada dalam ketentuan Allah, sementara manusia tetap memiliki usaha. Rumusan ini serasi dengan konsep kasb yang dikenal dalam spektrum Asy’ariyah–Maturidiyah, yang berupaya menjaga keseimbangan antara kehendak Tuhan dan tanggung jawab manusia.

Tauhid Fungsional

Namun Agung menegaskan, Muhammadiyah tidak membawa kembali perdebatan kalam klasik secara panjang lebar. Baginya, polemik tanpa akhir mengenai detail sifat Tuhan, keadilan ilahi, atau kebebasan manusia tidak menjadi fokus gerakan.

Baca juga: Haedar Nashir: Pemurnian Akidah Tauhid Perlu Perluasan Pemahaman

“Kita tidak masuk dalam perdebatan yang tidak berujung. Tauhid bagi Muhammadiyah harus berfungsi, harus melahirkan amal,” katanya.

Pada titik inilah, menurut Agung, Muhammadiyah melangkah lebih maju. Jika Asy’ariyah historis berkembang dalam ruang debat intelektual melawan Mu’tazilah dan arus rasionalisme ekstrem, Muhammadiyah menggeser pusat perhatian dari perdebatan konseptual menuju upaya gerakan praktis.

Tauhid bagi Muhammadiyah bukan lagi rumusan abstrak, melainkan sebagai sistem nilai yang menggerakkan pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan kerja sosial. Akidah menjadi fondasi etika dan tanggung jawab publik. Muhammadiyah tetap merujuk khazanah Sunni arus utama, terutama Asy’ariyah, dalam menjaga kemurnian tauhid namun energi intelektualnya diarahkan pada penguatan umat dan pembangunan masyarakat.

“Tauhid harus membentuk karakter dan tindakan. Itulah yang membedakan Muhammadiyah,” ujarnya.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This