Ujian Bagi Orang yang Selamat dari Bencana

Must Read

SETIAP orang beriman akan melalui ujian untuk melihat sejauh mana kesabaran dan keteguhan dirinya. Hal ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Alqur’an, yaitu Surat Al-‘Ankabut ayat 2.

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan ‘kami telah beriman’, sedangkan mereka belum diuji?”

Ustaz Abu Umar Hikmatyar, Lc., M.A., menjelaskan, ujian yang dialami manusia datang dalam banyak bentuk. Ada yang berupa perintah berjihad, menahan hawa nafsu, menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan ketaatan, hingga musibah yang menimpa keluarga dan lingkungan, sebagaimana banjir besar yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh beberapa waktu terakhir.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ujian, kata dia, tidak hanya ditujukan kepada mereka yang menjadi korban langsung. Ada juga ujian bagi orang-orang yang masih diberi kelapangan dan tidak terdampak apa pun.

“Bagi kelompok yang selamat, ujian itu justru lebih berat karena menyangkut sikap dan kepedulian,” katanya dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Al-Huda Cipinang Kebembem, Jakarta, Minggu (7/12/2025).

Mereka diminta membantu sesuai kemampuan, mendoakan saudara yang terkena musibah, menyuarakan kebenaran, serta berani mengkritisi keputusan yang dianggap merugikan masyarakat. Ujungnya adalah muhasabah agar bencana serupa tidak terus berulang.

Sikap orang yang selamat inilah ukuran nyata syukur seseorang. Kesempatan hidup yang aman dan lapang harus melahirkan kepedulian, bukan sikap acuh. Pada titik ini, Ustaz Abu Umar mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Tirmizi dari Ubaidullah bin Mihshan al-Khatmi:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian yang pada pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan seluruh isinya telah diberikan kepadanya.”

Menurutnya, tiga nikmat itu sudah lebih dari cukup untuk mendorong seseorang bergerak membantu sesama. Bila seseorang memiliki semuanya tetapi enggan menolong, ia termasuk orang yang kufur nikmat. Padahal Allah telah menjelaskan akibat dari sikap seperti itu dalam QS. Ibrahim ayat 7:

وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“… dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka azab-Ku sangat pedih.”

Ustaz Abu Umar mengajak jemaah memperluas makna kepedulian. Tidak perlu menunggu bencana besar untuk membantu. Menjenguk orang sakit, mendoakan, dan memberi bantuan sebisanya kepada mereka yang membutuhkan adalah amal yang mendatangkan rahmat. Ia bahkan menganjurkan agar kegiatan menjenguk orang sakit dijadikan amalan rutin, minimal dua hingga tiga kali dalam seminggu, sebagai bentuk ibadah sekaligus kepedulian sosial. (*)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This