JAKARTAMU.COM | Israel menggempur sepuluh fasilitas milik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Gaza dalam empat hari terakhir. Ironisnya, bangunan-bangunan yang dihancurkan bukanlah markas militer atau gudang senjata, melainkan ruang belajar anak-anak dan tempat perawatan bagi korban perang.
Menurut Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, tujuh sekolah dan dua klinik yang selama ini menjadi tempat berlindung ribuan warga sipil, kini tinggal puing-puing. Tampaknya, dalam logika perang yang dipeluk Israel, buku dan perban adalah ancaman yang tak kalah berbahaya dari roket.
Lazzarini menyebutkan bahwa layanan kesehatan terakhir di kamp pengungsi al-Shati telah lumpuh total. Fasilitas air bersih dan sanitasi pun hanya berfungsi separuh kapasitas. “Tidak ada tempat yang aman,” tegas Lazzarini dalam pernyataannya di platform X.
Ini merupakan realitas pahit yang dialami jutaan warga sipil yang terjebak di utara Wadi Gaza. Meski demikian, di antara puing reruntuhan rumah mereka, warga Gaza belum kehilangan harapan.

Mereka menghadapi serangan bersamaan dengan kampanye penghancuran sistematis terhadap gedung-gedung tinggi di Gaza City. Banyak pihak menilai ini bukan sekadar operasi militer, melainkan strategi pemindahan paksa yang perlahan mengusir warga Gaza dari tanah mereka sendiri. Sebuah skenario yang, jika dilakukan oleh negara lain, mungkin sudah digolongkan sebagai pembersihan etnis.
UNRWA menyerukan gencatan senjata segera. Tapi di tengah dunia yang sibuk menonton dari layar kaca, suara-suara kemanusiaan sering kali kalah nyaring dibandingkan dentuman bom.
Jika Fadhli ingin mengangkat narasi ini ke dalam format editorial visual atau kampanye komunitas yang lebih menggugah, aku siap bantu menyusun simbolisme dan gaya yang mengena. Kita bisa ubah kemarahan jadi kekuatan.
Sumber: WAFA


