Abu di Atas Bara: Mengapa Kebangkitan Islam Hanya Simbolik

Mereka menyeru syariat, menegakkan pemurnian, dan mendaku Salaf sebagai teladan. Tapi yang diraih justru kulit, bukan inti.

Must Read
Miftah H. Yusufpati
Miftah H. Yusufpati
Sebelumnya sebagai Redaktur Pelaksana SINDOWeekly (2010-2019). Mulai meniti karir di dunia jurnalistik sejak 1987 di Harian Ekonomi Neraca (1987-1998). Pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah DewanRakyat (2004), Wakil Pemimpin Harian ProAksi (2005), Pemimpin Redaksi LiraNews (2018-2024). Kini selain di Jakartamu.com sebagai Pemimpin Umum Forum News Network, fnn.co.Id. dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah FORUM KEADILAN.

JAKARTAMU.COM | Di jalanan Karachi hingga Kairo, poster bertuliskan “Kembali ke Qur’an dan Sunnah” berkibar. Syariat dijanjikan sebagai obat mujarab bagi krisis moral. Tapi apa yang lahir? Perdebatan panjang celana dan bentuk jenggot. Sementara api yang dulu menggerakkan peradaban—ilmu, keadilan, keterbukaan—kian padam di balik simbolisme.

Hampir satu abad sejak seruan al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah, kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah, menjadi jargon di setiap panggung kebangkitan Islam, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Di banyak negeri Muslim, proyek kebangkitan yang dijanjikan sering berhenti di tataran slogan dan ritual. Kebangkitan Islam lebih tampak sebagai kosmetika politik dan simbolisme agama ketimbang transformasi substantif.

Padahal, menurut sejarawan Albert Hourani dalam Arabic Thought in the Liberal Age, gagasan kebangkitan muncul di abad ke-19 sebagai respons terhadap hegemoni Barat. Saat itu, pemikir Muslim seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh menyerukan modernisasi Islam yang berpijak pada ijtihad, rasionalitas, dan pembebasan ilmu dari kungkungan taklid. Tapi alih-alih melanjutkan visi ini, sebagian gerakan kontemporer lebih sibuk mengukur panjang celana dan menyoal musik halal-haram.

Simbol Mengalahkan Substansi

Di Timur Tengah, kelompok yang mengklaim diri paling murni dalam meneladani Salaf—generasi tiga abad pertama Islam—justru terjebak pada pengulangan literal. Gerakan Salafi, yang lahir di Najd pada abad ke-18 bersama Muhammad bin Abdul Wahhab, semula dimaksudkan untuk memurnikan tauhid dari praktik bid’ah. Namun, dalam perkembangan mutakhir, pemurnian berubah menjadi puritanisme yang kaku.

Milad 117 H Muhammadiyah

Sosiolog Olivier Roy dalam Globalized Islam menyebut fenomena ini sebagai “islamisasi identitas”. Agama direduksi menjadi identitas politik dan penanda visual: cadar, jubah, dan jenggot. Substansi etika sosial—keadilan, pemerataan, kebebasan berpikir—tertutupi oleh ritualisme dan slogan.

Di Indonesia, gejala serupa muncul dalam wacana formalisasi syariat. Dari perda syariah di sejumlah daerah hingga seruan negara khilafah, diskursusnya berhenti pada kulit. Kritik ilmiah nyaris absen. Yang kita lihat bukan kebangkitan peradaban, tapi kebangkitan simbol.

Lupa Api, Memungut Abu

Bung Karno pernah berkata: “Jangan memungut abu, tapi tangkap apinya.” Api yang dimaksud adalah semangat kreatif, inovasi, dan keberanian berpikir kritis, unsur yang mengantar Islam ke masa keemasan pada abad pertengahan.

Di era Abbasiyah, Baghdad bukan hanya pusat ritual, melainkan mercusuar ilmu. Dari observatorium Al-Battani, filsafat Ibn Sina, hingga kritik sosial Ibn Khaldun, Islam menjelma kekuatan universal. Ilmu dan iman tidak dipertentangkan. “Itulah semangat Salaf: keterbukaan pada ilmu dan nilai universal,” ujar Prof. Nasr Hamid Abu Zayd dalam salah satu kuliahnya yang kemudian dibukukan.

Kini, bara itu hampir padam. Yang tersisa hanya abu simbolisme. Perdebatan tentang halal-haram rokok lebih gaduh ketimbang riset sains dan teknologi. Majelis fatwa lebih ramai dibandingkan laboratorium. Indeks literasi dunia menempatkan negara-negara Muslim di papan bawah, sementara impian kebangkitan masih menjadi retorika dalam mimbar ceramah.

Gerakan yang Terpecah

Fenomena ini juga tak lepas dari fragmentasi internal. Gerakan Islam kontemporer pecah menjadi spektrum: dari Salafi Wahabi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, hingga kelompok jihadis transnasional. Masing-masing mengklaim jalannya paling lurus.

Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an mengingatkan: “Kembali ke Qur’an tidak berarti kembali ke teks secara kaku, melainkan kembali ke nilai.” Namun, tafsir yang rigid kerap mengunci dinamika. Tak jarang, jargon al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah dijadikan alat delegitimasi sesama Muslim.

Di media sosial, debat antara wahabi dan aswaja, antara hijrah dan liberal, menggantikan dialektika ilmu. Kebangkitan Islam berubah menjadi trending topic, bukan grand strategy peradaban.

Masih Adakah Harapan?

Meski begitu, bara itu belum padam sepenuhnya. Di sejumlah universitas, lahir sarjana Muslim yang menggabungkan sains modern dan nilai agama. Gerakan filantropi Islam tumbuh, mendorong inklusi sosial. Kebangkitan yang hakiki bukan pada bendera, tetapi pada buku; bukan pada teriakan, tetapi pada karya.

Tantangannya adalah menyalakan kembali api yang dulu membakar semangat para pendiri peradaban Islam. Bukan dengan romantisme sejarah, tapi keberanian menafsir ulang teks untuk menjawab realitas. Seperti kata Nurcholish Madjid: “Islam yes, partai Islam no.” Tafsirnya kini lebih luas: Islam sebagai etika universal, bukan sekadar simbol politik.

Kalau tidak, kebangkitan Islam hanya akan tinggal nama. Bara akan terus tertutup abu. Dan umat hanya sibuk mengukur panjang celana, sementara dunia melesat menuju masa depan. (*)

ISKI Ingatkan AI Dapat Mengaburkan Informasi, Kepercayaan Publik Terancam

JAKARTAMU.COM | Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membuat batas antara informasi benar dan palsu semakin sulit dibedakan. Kondisi itu...

More Articles Like This