AKHIR Agustus 2025, lebih dari 60 pemuda lintas iman berjalan bersama menuju tiga titik penting di kota itu: gereja tua, klenteng bersejarah, dan Kedaton Kesultanan Ternate. Kegiatan yang disebut Tagilom ini menjadi penutup program Eco Bhinneka Muhammadiyah, bagian dari Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA).
“Tagilom artinya berjalan bersama,” kata Usman Mansur, Regional Manager Eco Bhinneka Muhammadiyah Maluku Utara. “Kami ingin anak-anak muda belajar dari peran tokoh agama dan Kesultanan Ternate dalam merawat kerukunan.”
Rombongan pertama kali singgah di Gereja Katolik-Paroki Santo Willibrordus. Berdiri sejak 1936 dengan batu sisa erupsi Gamalama, bangunan ini menjadi cagar budaya di Ternate.
Baca juga: UMMU dan Eco Bhinneka Muhammadiyah Dorong Gerakan Lintas Iman Hadapi Krisis Lingkungan

Pastor Titus Rahail, pimpinan umat Katolik di Maluku Utara, mengingatkan sejarah kelam konflik komunal. “Gereja ini pernah jadi tempat mengungsi,” ujarnya. Menurutnya, yang terpenting kini adalah membangun komunikasi positif dan saling menghargai. “Saya apresiasi inisiatif Muhammadiyah yang melibatkan anak muda untuk persaudaraan,” tambahnya.
Perjalanan berlanjut ke Klenteng Thian Hou Kiong di kawasan Gamalama. Klenteng ini mencatat sejarah masuknya ajaran Khonghucu ke Ternate melalui pedagang Cina, termasuk pelayaran Cheng Ho.
Js. Boy Ang, pendeta Khonghucu yang puluhan tahun mengabdi di Kesultanan Ternate, menceritakan bahwa klenteng pernah menampung muslim saat konflik 1999. “Sesama manusia itu bersaudara,” katanya singkat.
Baca juga: Muhammadiyah Pelopori Transisi Energi Terbarukan di Maluku Utara
Di Kedaton Kesultanan Ternate, rombongan mendengar cerita panjang tentang peran kerajaan dalam menjaga keberagaman. “Sejak 1257 Kesultanan menerima semua suku yang datang,” jelas Irwan Abdul Gani, Sekretaris Kesultanan.
Ia menyebut adanya Kapita Cina, Arab, dan Bugis dalam struktur kesultanan, serta tradisi warga Kristen ikut mengawal Sultan saat Idulfitri. “Pemilihan Sultan pun dilakukan secara demokratis,” katanya.

Selain merawat kerukunan, Eco Bhinneka juga mendorong kesadaran lingkungan. “Keberagaman itu lumrah, mari berkolaborasi menyelesaikan persoalan lingkungan,” ucap Dr. Makbul A.H. Din dari PWM Maluku Utara.
Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, mengingatkan pentingnya belajar dari sejarah. “Daerah tidak akan maju kalau hanya ditopang satu kelompok,” ujarnya. Bagi Hening, anak muda bisa membawa perubahan lewat karya, termasuk konten sederhana di media sosial. (*)


