JAKARTAMU.COM | Investigasi CNN menemukan indikasi kuat bahwa militer Amerika Serikat kemungkinan besar bertanggung jawab atas serangan yang menghantam kompleks di Minab, Iran selatan, pada 28 Februari, termasuk sekolah perempuan Shajareh Tayyiba yang menewaskan 168 siswi dan 14 guru.
Rekaman video yang muncul dari lokasi serangan menunjukkan amunisi yang menurut para ahli memiliki karakteristik rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat. “Bentuknya sesuai dengan karakteristik visual TLAM, dengan sayap di bagian tengah dan ekor di belakang,” kata peneliti James Martin Center for Nonproliferation Studies, Sam Lair, kepada CNN, dikutip Rabu (11/3/2026).
Video yang diunggah kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News, memperlihatkan sebuah rudal menghantam area pangkalan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Minab. Rekaman diambil dari lokasi konstruksi sekitar 250 meter dari titik benturan. Setelah kamera bergeser ke arah kanan, terlihat kepulan asap besar dari arah sekolah Shajareh Tayyiba yang berada di dekat pangkalan tersebut.
Temuan ini menambah bukti yang sebelumnya dihimpun CNN melalui analisis citra satelit, video yang dilacak lokasinya, pernyataan pejabat Amerika Serikat, dan penilaian sejumlah pakar persenjataan. Keseluruhan data tersebut mengarah pada kemungkinan bahwa serangan berasal dari operasi militer Amerika Serikat.

Baca juga: Tewaskan 165 Orang, Serangan Rudal AS-Israel ke Sekolah Putri Iran Sangat Mungkin Disengaja

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran bertanggung jawab atas insiden tersebut. “Berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran,” kata Trump kepada wartawan pada Sabtu. Ia juga menyebut amunisi Iran “sangat tidak akurat”.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat tidak segera menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan penggunaan rudal Tomahawk dalam serangan tersebut. Komando Pusat Amerika Serikat sebelumnya mengatakan kepada CNN bahwa mereka tidak dapat memberikan komentar karena insiden itu masih dalam proses penyelidikan.
Sejumlah pakar senjata yang diwawancarai CNN menyatakan rudal Tomahawk umumnya digunakan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai serangan awal sebelum dominasi udara tercapai. Sistem senjata tersebut diluncurkan dari kapal perang permukaan maupun kapal selam. Para ahli menambahkan bahwa Israel tidak mengoperasikan rudal jenis ini.
Analisis CNN terhadap video serangan menunjukkan rudal kemungkinan menghantam bangunan di dalam atau tepat di sebelah klinik medis yang dioperasikan IRGC di pangkalan tersebut. Rekaman lain yang telah dilacak lokasinya memperlihatkan asap mengepul hampir bersamaan dari fasilitas IRGC dan bangunan sekolah.
Baca juga: Rudal AS-Israel Sasar Rumah Sakit dan Sekolah, Iran Desak Solidaritas Internasional
Citra satelit menunjukkan sekolah dan pangkalan militer tersebut pernah menjadi bagian dari satu kompleks yang sama. Foto tahun 2013 memperlihatkan keduanya berada dalam area yang terhubung. Pada 2016 terlihat pagar didirikan untuk memisahkan sekolah dari area pangkalan, termasuk pintu masuk tersendiri bagi sekolah. Citra dari Desember 2025 bahkan memperlihatkan puluhan orang berada di halaman sekolah yang digunakan sebagai lapangan permainan.
Direktur Armament Research Services (ARES), NR Jenzen-Jones, mengatakan citra satelit dan video menunjukkan beberapa serangan yang terjadi hampir bersamaan di kompleks tersebut. Ia menilai kerusakan pada bangunan di pangkalan menunjukkan penggunaan amunisi berpemandu presisi.
“Kita melihat serangan yang ditargetkan untuk melumpuhkan bangunan-bangunan itu,” kata Jenzen-Jones.
Spekulasi yang sempat beredar di internet menyebut ledakan di sekolah mungkin disebabkan kesalahan tembak sistem pertahanan udara Iran. Namun menurut Jenzen-Jones, kerusakan pada bangunan di pangkalan tidak sesuai dengan karakteristik rudal pertahanan udara yang meleset.
Pejabat militer Amerika Serikat sebelumnya mengonfirmasi bahwa pasukan AS menyerang sejumlah target militer di Iran selatan. Dalam sebuah pengarahan, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menampilkan peta yang menunjukkan pola serangan selama 100 jam pertama konflik. Ia menyebut Israel fokus pada target di Iran utara, sementara Amerika Serikat menyerang wilayah selatan.


