Oleh Miftah H. Yusufpati
SABTU pagi itu, Bekasi Timur diselimuti kabut tipis yang jarang muncul pada bulan-bulan seperti ini. Pohon-pohon di depan rumah Prabu bergoyang perlahan, ditiup angin yang datang entah dari mana. Udara subuh terasa bersih, seolah malam telah mencuci segala debu kota.
Prabu baru saja menyelesaikan dua rakaat terakhir salat tahajud. Lututnya yang mulai renta bergetar seperti daun kering, namun hatinya terasa lebih hidup daripada tubuhnya.
Ketika ia duduk bersedekap, Wina mendekat pelan. Wangi bunga melati dari minyak rambut semalam masih terasa samar.

“Selamat ulang tahun, Mas,” bisiknya.
Pelukan Wina terasa berbeda pagi itu. Bukan sekadar pelukan rutin pasangan tua yang sudah terbiasa satu sama lain, tapi pelukan seorang istri yang seolah ingin menghadiahkan seluruh dirinya kepada lelaki yang menua bersamanya. Prabu merasakan getaran halus, entah dari tubuh Wina atau dari dadanya sendiri.
Ada sesuatu yang tak biasa. Ada sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Namun Prabu tidak ingin menganalisisnya saat itu. Ia hanya membalas pelukan Wina dengan tenang—erat, penuh syukur. Para ahli psikologi menyebutnya skinship memory, ingatan emosional yang tersimpan dalam sentuhan. Dan pagi itu sentuhan Wina seperti menyalakan kembali lampu-lampu lama yang telah lama meredup.
Azan subuh berkumandang, merobek sunyi dengan lantunan yang menyejukkan. Keduanya duduk berdampingan, dan dunia terasa begitu damai sehingga Prabu hampir lupa bahwa hatinya sebenarnya tidak sedang damai.
Namun damai itu hanya berlangsung sampai Wina berdiri, mengusap rambutnya yang sedikit kusut, dan berjalan menuju dapur untuk mendidihkan air. Pagi itu, Wina tampak begitu ringan, seolah beban-beban usia ikut terangkat bersama kabut yang perlahan hilang dari halaman depan.
Prabu memandangi punggung istrinya itu. Ada haru yang merayap, namun bersamaan dengannya ada sesuatu yang jauh lebih tajam: guncangan kecil dalam batin yang selama ini ia sembunyikan.
Ketika air di dapur mulai berdidih, Prabu duduk memagut pikirannya sendiri.
Ia tidak paham mengapa hatinya justru bergolak pada hari ulang tahunnya sendiri. Seharusnya ia bersyukur. Seharusnya ia sepenuhnya memikirkan Wina. Seharusnya ia memeluk kebahagiaan itu tanpa tandingan.
Namun yang muncul justru bayang lain. Bayangan Indriani.
Bayangan itu datang bukan sebagai perempuan muda yang menggoda, tetapi sebagai sosok yang tak sengaja membuka pintu-pintu dalam diri Prabu—pintu yang selama ini ia pikir telah terkunci oleh umur dan kesetiaan.
Ia memejamkan mata, menepuk dadanya perlahan. “Ya Rabb… apa ini ujian atau petunjuk?”
Ia teringat ucapan Jalaluddin Rumi: “Hati adalah cawan yang tak pernah diam. Ia tumpah pada apa saja yang mendekat.”
Dan Prabu, di usia 60 tahun—usia yang seharusnya menjadi usia paling stabil—merasa cawannya justru tidak stabil.
Ia paham agama.Poligami adalah rukhsah yang disyaratkan oleh maslahat, bukan nafsu. Dan Prabu merasa ketakutan paling dalamnya justru ada di kata terakhir itu.
Nafsu.
Apakah gejolak batinnya ini bagian dari kebutuhan psikologis? Atau hanya keinginan sesaat yang terbungkus pembenaran-pembenaran ilmiah?
Ia teringat juga teori Freud tentang libido yang mengalir seperti energi psikis, tak pernah mati, hanya berubah bentuk. Tapi ia juga mengingat Erich Fromm yang berbeda pendapat, mengatakan bahwa cinta sejati bukan sekadar dorongan biologis, melainkan sebuah tanggung jawab terhadap kehidupan orang lain.
“Kalau aku salah melangkah,” gumam Prabu, “yang terluka duluan pasti Wina.”
Hatinya mencelos.
Ia mengingat yang terjadi pagi ini. Kehangatan Wina yang tiba-tiba kembali, perhatian yang seolah-olah ingin menebus bertahun-tahun jarak tubuh. Justru itu membuat batinnya lebih tersiksa.
Mengapa hari ini?
Mengapa Wina tiba-tiba lebih lembut, lebih hangat, lebih… hadir? Apakah ini pertanda Tuhan agar ia mundur dari rencana yang belum ia ucapkan? Atau… apakah ini justru cara Tuhan menguji kekuatan tekadnya?
Prabu tidak tahu.
Ia hanya tahu satu hal: Indriani hadir terlalu dalam di pikirannya. Hadir bahkan ketika Wina, istrinya selama lebih dari tiga dekade, memberikan dirinya pagi ini tanpa syarat.
Bayangan itu membuat dadanya nyeri, seakan ada dua kekuatan tarik menarik dalam jantungnya: satu kekuatan bernama kesetiaan, dan satu lagi bernama kekosongan batin yang selama ini ia tutupi.
“Ya Allah…” Prabu menggenggam kepala. “Mengapa di usia 60 tahun aku justru diuji begini?”
Namun pengakuan paling jujur adalah ini: Indriani tidak pernah ia cari. Tetapi kehadirannya tumbuh—seperti bibit kecil yang tertiup angin ke tanah yang tak sengaja subur.
Dan pagi itu, di hari ulang tahunnya yang ke-60, Prabu merasa dirinya berdiri di tepi jurang. Indah di satu sisi. Gelap di sisi lain. Bekasi pagi itu bercahaya lembut. Tapi di dalam dada Prabu, badai perlahan membesar.
***


